Astronot
Ruang kontrol Badan Antariksa Eropa. (Wikimedia Commons/European Space Agency)

TEKNOLOGI, PIJARNEWS.ID – Untuk pertama kalinya dalam 11 tahun terakhir, Badan Antariksa Eropa (ESA) akan melakukan upaya mewujudkan lebih banyak keberagaman dalam sumber daya manusianya.

Melansir Euronews, tahun ini, ESA berencana merekrut lebih banyak astronot wanita serta para penyandang disabilitas atau kaum difabel yang selalu bermimpi untuk pergi ke luar angkasa.

“Kami melihat ke arah Bulan dan Mars. Kami membutuhkan astronot yang sangat hebat untuk masa depan,” kata Direktur Jenderal ESA Jan Worner.

“Untuk melangkah lebih jauh dari yang pernah kami lakukan sebelumnya, kami perlu melihat lebih luas dari sebelumnya,” imbuh Worner.

Hingga saat ini, dari 560 orang yang pernah pergi ke luar angkasa, hanya 65 orang di antaranya yang merupakan wanita. Dari 65 wanita tersebut, 51 orang di antaranya adalah wanita Amerika Serikat.

Sementara, ESA sejauh ini baru mengirimkan dua wanita ke luar angkasa, yakni Claudie Haignere dan Samantha Cristoforetti. Lewat program pengembangan SDM ini, ESA ingin mengejar ketertinggalannya.

Dalam kesempatan yang sama, ESA juga menyatakan keinginannya untuk menempatkan para penyandang disabilitas ke luar angkasa, sebagai bagian dari inisiatif yang disebut proyek Kelayakan Parastronaut. ESA mengklaim, ini pertama kalinya ada badan antariksa yang membuka aplikasi untuk penyandang disabilitas.

“Mewakili semua bagian dari masyarakat kami adalah perhatian yang kami tangani dengan sangat serius,” kata David Parker, Direktur Eksplorasi Manusia dan Robotika ESA,

BACA JUGA :  Meski Memiliki Keterbatasan, Penyandang Disabilitas Ini Sukses Kembangkan Koperasi

“Keragaman di ESA seharusnya tidak hanya membahas asal, usia, latar belakang atau jenis kelamin astronot kami, tetapi mungkin juga cacat fisik,” imbuhnya.

ESA bekerja sama dengan Komite Paralimpiade Internasional untuk mengkategorikan berbagai jenis dan derajat atau gangguan dan membuat daftar gangguan yang memenuhi syarat.

Cacat ‘merah’ berarti jenis atau tingkat kecacatan sayangnya tidak sesuai dengan tugas yang dilakukan astronot. ‘Kuning’ berarti mereka dapat menjadi kompatibel dengan beberapa penyesuaian, modifikasi atau inovasi. Sedangkan ‘hijau’ menunjukkan kesesuaian dengan tugas.

Astronot Inggris Tim Peake menyambut baik pendekatan tersebut, dengan mengatakan, “Mudah-mudahan akan mengubah lanskap sehingga orang-orang dari berbagai latar belakang, dan akan melihat bahwa sebenarnya ada peluang di sini untuk menjadi bagian dari perintis luar angkasa baru Eropa,” ujarnya.

Proses seleksi akan memakan waktu sekira 18 bulan, sebelum beberapa astronot yang berhasil akan dipilih. ESA mencari kandidat dengan gelar Master atau lebih tinggi dengan pengalaman minimal tiga tahun dalam ilmu alam, kedokteran, teknik, matematika dan ilmu komputer.

Mereka akan menjalani serangkaian tes psikologi, tes praktik dan psikometri, seleksi medis dan dua putaran wawancara. Pengangkatan akan diumumkan pada Oktober 2022. (fzi/mad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here