PAUD
Suasana Pembelajaran door to door yang dilakukan di salah satu rumah wali murid, Manukan Kasman, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Senin (22/2/2021). (Rama/PIJARNEWS.ID)

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Sebagian besar lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) di Kota Surabaya, tidak membuka tempatnya untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).

Beberapa orang tua atau wali murid disinyalir enggan membayar biaya pembelajaran secara penuh. Dengan alasan kegiatan tersebut dilakukan secara daring. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Himpunan Pendidik Anak Usia Dini (Himpaudi) Surabaya, Agus Agus Setiyono.

Menurutnya, di tahun ajaran baru 2020-2021, sejumlah lembaga Paud tidak banyak murid. Bahkan, ada juga diantaranya yang ditinggal oleh murid.

“Para guru juga dirumahkan hingga gaji mereka dipotong hingga 50 persen. Sampai-sampai kepala lembaga gajinya jadi Rp700 ribu, dibagi rata sama 4 guru,” keluhnya, Senin (22/2/2021).

Tak cukup sampai disitu, para wali murid dan orang tua menyampaikan sindiran terhadap guru dengan sebutan makan gaji buta. Padahal, lanjut Agus, guru juga sibuk menyiapkan keperluan mengajar selama wabah virus corona.

“Dengan kondisi seperti ini, pemerintah melalui Dirjen Paud dan Kemendikbud kemudian memberikan Bantuan Operasional yang bisa dialokasikan sebagai transport,” jelasnya.

“Sementara Dinas Pendidikan menetapkan Rp200 ribu perbulan bagi non-PNS dan non-TPP. Hanya saja itu untuk beberapa bulan yang lalu,” sambungnya.

Selain itu, semua guru dapat bantuan uang kuota sebesar Rp100 ribu selama April sampai Mei. Bukan hanya di Surabaya. Para guru di beberapa Kabupaten di Provinsi Jatim juga mendapatkan bantuan tersebut.

Selama melaksanakan pembelajaran daring, guru melakukan persiapan dan berlatih menggunakan zoom, google meet, dan telepon grup via WhatsApp.

“Kendalanya para wali murid tidak memahami penggunaan zoom. Berangkat dari situ, beberapa guru beralih ke metode luar jaringan atau luring,” keluhnya.

BACA JUGA :  Direktur KJI Sebut Mendikbud Tidak Punya Arah Perbaikan Pendidikan

Penerapan metode pembelajaran luring yang dilakukan para guru dengan mendatangi rumah siswa. Sedangkan jumlah murid yang mengikuti berkisar 2 sampai 3 anak. Disana mereka diajarkan metode bermain sambil berhitung, bermain bahasa, bermain kriya, bermain musik dan bermain sains percobaan.

“Lokasinya tidak jauh dari sekitar sekolah. Datangnya bergiliran dari rumah satu ke rumah lainnya. Pastinya sebelum datang ke rumah, guru memberitahu ke orang tua sebelumnya. Biasanya dikasih tugas dan dikumpulkan satu minggu kemudian,” ungkapnya.

“Para guru membawa sejumlah alat perlengkapan mengajar dari rumah. Selama mengajar mereka tetap mengikuti protokoler kesehatan dengan durasi sekitar setengah jam,” imbuhnya.

Namun, mayoritas, orang tua murid banyak yang bekerja. Sehingga, para murid di rumah hanya bersama wali murid atau kakek neneknya dengan notabene gagap teknologi (Gaptek).

“Tak jarang ditemukan orang tua yang hanya mempunyai satu handphone sedangkan anaknya banyak. Sama-sama sekolah di level yang berbeda. Mau gak mau harus gantian,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Agus tidak setuju, jika kegiatan belajar mengajar kembali dibuka ditengah pencegahan penularan Covid. Ada beberapa protokoler yang tidak bisa diterapkan terhadap lingkungan Paud.

“Rumit soalnya. Terutama pembatasan murid. Anak-anak kalau bermain tidak bisa jaga jarak. Mereka itu pasti penasaran apabila melihat masker atau face shield milik temannya yang lebih indah. Sehingga mereka mau mencobanya,” ucapnya.

“Guru terbebani transportasi juga dibebani laporan online aktivitas pengajaran setiap hari,” pungkasnya. (ram/mad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here