Agus Yayan
Agus Yayan

Mahasiswa yang datang dari pelosok desa, dari ujung paling utara pulau Madura, tepatnya di Desa Blaban, Kecamatan Batumar-mar, Kabupaten Pamekasan, ia baru mengenal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sejak menjadi Mahasiswa baru, IMM mungkin sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk mengetahui yang namanya IMM. Namun, sejauh manakah mereka mengenal IMM mungkin hanya sebatas nama. Namun bagi saya mahasiswa baru yang datang dari pelosok desa, yang hidupnya selalu berada di pesantren, bagi kita IMM terasa sangat asing.

Bagi saya, IMM merupakan organisasi yang sangat bertolak belakang dengan pengetahuan saya, yang selama ini kami belajar di sekokah dasar hingga menengah atas, tepatnya di pulau Madura, Sekolah yang notabeninya salaf (masa itu). Sejak masuk di kehidupan kampus, saya harus ‘menyadarkan’ diri bahwa saat ini saya harus belajar mengenal lingkungan baru dan ilmu pengetahuan baru, karena saat ini saya sudah menyandang status mahasiswa, sebagai mahasiswa, saya harus belajar hal yang baru, salah satunya belajar ber-IMM.

Bukan maksud saya, jika dulu saya bukanlah warga yang faham akan Muhammadiyah, tetapi saat ini saya sedang menuntut ilmu di salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia, tepatnya di Kabupaten Jember. Bagi saya, ini tidak sebatas soal menuntut ilmu saja, tetapi bagaimana kita dapat bekontribusi di dalamnya. Memberikan yang terbaik bagi kampus, dan belajar bagaimana bisa memahami IMM dengan baik, Tidak pula hanya sebatas belajar, namun juga harus belajar memiliki terhadap Ortom Muhammadiyah, yaitu IMM. bagi saya Mahasiswa yang baru kenal dengan IMM. Maka saya harus totalitas dalam mengenal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (masa itu).

Menyambut Milad IMM ke 57 merupakan kebanggaan bagi kader, yang pernah dibesarkan oleh organisasi kemahasiswaan yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiya. IMM merupakan organisasi yang kelahirannya dinanti, Organisasi yang punya julukan merah marun ini tidak pernah lekang oleh panasnya matahari meski patah tumbuh silih berganti generasi, dengan penuh perjuangan sang Djazman Al Kindi, dibawah langit bumi pertiwi, IMM berdiri pada 14 Maret 1964/ 29 Syawal 1384 H. Semangat kegigihannya dalam perjuangan mendirikan IMM dengan kawan-kawannya, semoga tetap menjadi cerminan masa depan yang gemilang bagi kader IMM hari ini.

Bagi saya, IMM bukan hanya sebuah organisasi biasa, tetapi juga wadah saya untuk bisa berdakwah lewat organisasi. Di IMM tidak hanya mengejar ilmu dunia, tetapi juga ilmu akhirat. IMM mengenalkan saya dengan Trilogi Ikatan, yaitu Intelektualtas, religiusitas, dan humanitas. Dimana kecerdasan, keimanan, dan kemanusiaan tergabung menjadi satu, untuk menjadi ruh bagi seluruh kadernya. Setiap kadernya diharapkan dapat memahami dan mengamalkan Trilogi Ikatan itu. Hal itulah yang tidak saya dapatkan dari organisasi lain. Ikatan Mahasiswa Muhammmadiyah mengajarkan saya agar lebih bisa memaknai apa tujuan hidup saya di dunia. Bagaimana saya dapat berkontribusi untuk bangsa dan agama. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan.

BACA JUGA :  Pelantikan IMM Ponorogo, Nur Alim DPD: Kita Harus Lebih Kreatif Ditengah Pandemi

Berdiri tegak para panji-panji ikatan, engkaulah cendikiawan berpribadi, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiya. Dengan pena dan tinta menyemai amal bakti menjadi insan generasi sang pencerah untuk mencapai cita-cita hidup yang sebenar-benarnya, menjadi kader yang bisa membumikan gagasan dan membangun peradaban akidah meleniial Ikatan. Sejak IMM didirikan pada tanggal 29 Syawal 1384 H bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1964 M di Yogyakarta. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang hingga saat ini telah memasuki usia ke 57 tahun. Dengan tema “Membumikan Gagasan, Membagun Peradaban”.

Kader IMM semoga tetap menyisakan cerita masa lalu, yang saat ini sangat menarik untuk diulas. Karena dengan mempelajari dan memahami sejarah berdirinya IMM, kita akan mengerti bagaimana IMM berjuang dan berkembang pada saat itu, dengan menilik sejarah tersebut harapannya kita bisa benar-benar memahami apa itu IMM dan bagaimana pola perjuangan IMM itu sendir, bukan hanya mendengar sekilas dari para ‘penjilat’ organisasi yang tidak pernah tau organisasi IMM, apa lagi proses pengkaderan di IMM.

Kader IMM harus benar-benar haus akan sejarah berdirinya IMM agar bisa memahami dan mempelajari dengan baik serta menyikapi dengan arif dan bijaksana, bukan hanya mengedepankan keegoisan saja, demi kepentingan semata. di usia 57 tahun IMM, kader harus lebih dewasa dan faham sejarah bedirinya, jangan hanya mengedepankan uforia, sehingga bisa lupa terhadap tujuan berdinya.

Namun mengulas masa lalu IMM tentu tidak untuk mengajak kita larut dalam nostalgia dan berkutat pada sejarahnya saja. Pada usia yang ke lima puluh tujuh tahun, IMM harus mengambil garis tengah untuk berpisah dengan masa lalu, menjadikannya sebagai tolak ukur untuk menjemput dan menatap tantangan masa depan yang gemilang, suapaya kader IMM bisa seirama dengan cita-cita pendirinya, yaitu Djazman Al Kindi, sang pendiri organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Sebagai organisasi yang sudah lama eksis dikalangan pergerakan aktivis mahasiswa Indonesia, sudah tentu eksistensi dan kapabilitas IMM dalam mengawal bangsa tidak diragukan lagi di kalangan pergerakan mahasiswa Indonesia, bergerak melintasi zaman, dari semenjak zaman orde lama, orde baru, reformasi, dan kini pasca reformasi IMM masih eksis, tengah arus politik yang sangat keras, IMM harus terus berkembang dalam memberikan gagasan-gagasan tentang perubahan, dan tentunya tetap dengan memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran. Semoga kader IMM tetap solid, khususnya kader IMM Pamekasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here