Artijo
Artidjo Alkostar. (Foto/Fedrik Tarigan)

JAKARTA, PIJARNEWS.ID – Kabar duka menyelimuti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah berpulangnya Artidjo Alkostar, Minggu (28/2/2021). Pria yang seumur hidup mengabdikan diri pada penegakan hukum di Indonesia itu terakhir kali menjabat sebagai Dewan Pengawas KPK.

Sosoknya dinilai khalayak begitu tegas. Hal ini terbukti pada kasus korupsi yang ditanganinya. Tercatat, nama-nama kakap macam Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum hingga Akil Mochtar pernah merasakan ketegasan Artidjo dalam menjunjung prinsip keadilan.

Kendati demikian, alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) itu merupakan sosok yang humanis dan sederhana. Nilai harta yang dia kumpulkan selama membangun karir di bidang hukum hanya sebesar Rp922 juta.

Angka ini didapat setelah dirinya menyampaikan laporan kekayaan kepada lembaga anti rasuah pada 9 Januari 2020 sebagai bentuk kewajiban dari seorang pejabat publik.

Adapun, harta paling besar Artidjo berupa rumah tapak dengan luas tanah 197 meter persegi dan luas bangunan 100 meter persegi di Sleman, Yogyakarta seharga Rp700 juta.

Sifat bersahaja Artidjo semakin dibuktikan dengan fakta bahwa dirinya tidak memiliki kendaraan bermotor jenis apapun. Padahal, jabatan yang dipegang sangat mentereng pada lembaga yang konon paling “angker” itu.

Selain itu, kekayaan Artidjo lainnya berupa harta bergerak lain sebesar Rp19 juta, serta kas dan setara kas sebanyak Rp203 juta tanpa catatan utang.

Jika ditotal, aset hakim yang pernah mengenyam pendidikan di Northwestern University Chicago itu tidak sampai Rp1 miliar.

BACA JUGA :  Dengar Keluhan dari Bawah, Pemkot Surabaya Gelar Dialog Penanganan Covid-19

Namun dibalik sosoknya yang sederhana itu, ketegasan dan keberaniannya dalam memberantas korupsi di tanah air tidak diragukan lagi.

Pria yang lahir di Situbondo ini pernah menjabat sebagai Hakim Agung sejak 2000 hingga 2018. Selama itu pula, banyak kasus besar yang ditanganinya.

Seperti halnya kasus proyek pusat olahraga Hambalang, suap impor daging, dan suap ketua Mahkamah Konstitusi menjadi beberapa perkara yang ditanganinya hingga tuntas.

Untuk kasus proyek pusat olahraga Hambalang, Artidjo Alkostar memperberat vonis politikus Partai Demokrat, Angelina Sondakh menjadi 12 tahun, yang sebelumnya, hanya divoinis selama empat tahun enam bulan.

Kemudian, Artidjo juga memperberat vonis terhadap mantan Ketua Partai Demokrat, Anas Urbaningrum dalam perkara korupsi dan pencucian uang proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Sebelumnya, Anas divonis 7 tahun yang kemudian diperberat menjadi 14 tahun penjara.

Untuk kasus suap ketua Mahkamah Konstitusi, Artidjo memperkuat vonis Pengadilan Tipikor Jakarta dan Pengadilan Tinggi Jakarta yang menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup terhadap Akil Mochtar, selaku mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Dengan rentetan kasus Tipikor yang ditanganinya itu, Artidjo Alkostar menjadi momok menakutkan bagi para koruptor. Sebab, dia tak segan menghukum para koruptor dengan sanksi terberat sekalipun. (fzi/mad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here