Senyum
Gambar Ilustrasi

Judul pelatihan sangat menarik yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan dan Konsultasi Nasional (LKPN). Saya sebenarnya enggan mengikuti kegiatan pelatihan menulis, bukan karena saya pintar, tapi karena saya malas. Ketika anak kedua menjapri menawari agar saya ikut, saya bersemangat semoga kegiatan tersebut menjadi amunisi baru.

Tanggal 2 Maret 2021 pelatihan itu dimulai, betapa senangnya aku, pematerinya Andi Arsyil Rahman. Dia seorang artis ganteng super sibuk, di usia mudanya saat ini, telah menulis buku yang diterbitkan 11 judul. Saya makin kagum dia menyelesaikan studi S1 di tiga fakultas (Fisika, Teknik dan Ekonomi). Saat ini dia sedang menempuh studi magister. Kalimat penting dari sang artis ganteng ini, “menulis itu semudah tersenyum”.

Rasa kagumku belum berakhir pada Arsyil, saya disuguhi pembicara kedua David Ming. Anak muda penuh talenta dengan segudang karya. Selain sebagai ghost writer, trainer menulis, motivator dan aktivis pesantren (rumah tahfidz).

Kedua anak muda tersebut di hari pertama, membuat semangatku membara untuk menulis. Kalimat yang selalu saya kenang “untuk menjadi penulis yang baik, harus jadi pembaca yang baik”. Saya sekitika juga teringat tulisan cak Nun (Emha Ainun Najib), “jika menulis diibaratkan buang air kecil, membaca itu ibarat minum air, mungkinkah kita buang air kecil kalau kita tidak minum?”. Kalimat lain yang menyentuh batinku, “menulis itu ibadah”.

BACA JUGA :  Daring Bikin Boring, Sekolah Bikin Lelah. Butuh Inovasi Didunia Pendidikan

Hari kedua, 3 Maret 2021, saya mendengarkan sambil dalam perjalanan. Seorang Profesor Ahli Bahasa, dengan gaya khas jenaka memberi rumus menulis yaitu “EGP”, awalnya saya pikir hanya lelucon. Beliau mempertegas untuk jadi penulis itu jangan ragu dan takut. Emang Gue Pikirin (EGP) tulis saja yang kita rasakan, yang kita pikirkan, yang kita inginkan. Jadilah 100 persen dalam setiap aktivitas.

Beliau mengkisahkan seseorang sukses karena dipaksa, itu rumus kedua untuk jadi penulis. Kisah itu dialami seorang guru dengan siswa yang tidak mau menulis. Sang guru membimbing siswa agar mau menuliskan apa yang dirasakan tentang orang tua dan gurunya. Siswa yang tidak mau menulis tadi, setelah menuangkan kemarahannya ternyata bisa menulis tiga halaman. Diakhir sesi kami diminta menulis puisi.

Hari ketiga, 4 Maret 2021, mendengar dan memperhatikan pak Jonih Rahmat, penulis “Malaikat Cinta”. Semangat menulisku tersulut, salah satunya yang anda baca. Bagus atau tidak EGP. Hehehe…..!.

Dari keempat narasumber, saya mendapatkan spirit dan support baru. Dan tak disangka, Webinar berakhir disambut hujan deras. Pimpinanku mengirim apresiasi kegiatanku selama tiga hari ini, semoga segera banjir karya yang memberi makna. Kata motivasi dari pak Jonih Rahmat. “Berbuatlah sesuatu, sekiranya kita sudah mati, masih dikenang, menulislah, menulislah dan menulislah..!”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here