Pesantren
Gambar Ilustrasi

Memahami globalisasi adalah hal yang cukup penting. Contoh saja dengan berkembangnya teknologi komunikasi modern (gadget), diakui atau tidak, gadget telah mengubah pola hidup kita semua. Gadget yang seharusnya dikendalikan oleh manusia, justru telah menjadi pengendali manusia. Saat bermain gadget, banyak manusia yang kehilangan waktu dengan sia-sia.

Posisi gadget juga bisa mengubah gaya hidup sebuah keluarga, misalkan, orang tua yang sibuk dengan gadgetnya, akan rentan menelantarkan anak-anaknya. Akibatnya, jika orang tua berbicara pada anaknya, sang anak juga berbalik kurang memperhatikan perkataanya. Sehingga memang benar perkataan “gadget telah menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh”.

Posisi gadget memang cukup mempengaruhi perilaku manusia, menjadi individual, kreatif, dan ada yang selalu ingin tampil menarik di media sosial. Fungsi gadget pun berubah, yang dahulu hanya untuk alat komunikasi, kini menjadi alat kompetisi.

Keadaan yang demikian, nyatanya juga mempunyai dampak negatif terhadap perkembangan keagamaan anak-anak dan remaja. Lazimnya anak-anak dan remaja berduyun-duyun ke Masjid dan Musholla, sehingga terdengar ramai oleh suara ngaji dan belajar. Kenyataannya sekarang menjadi lenyap digantikan oleh suara dering gadged android.

Peran Pesantren

Disamping itu, tersadari atau tidak, gadget juga bisa menggantikan marwah kyai sebagai pusat ilmu keagamaan. Contohnya, pada kondisi yang demikian, generasi millenial lebih memilih mencari fatwa keagamaan melalui gadgetnya, dari pada harus datang pada kyai. Ini problem besar dan nyata yang harus dihadapi oleh pemuka agama.

Disinilah pesantren bisa menjadi ‘tembok kekuatan’, terutama bagi kalangan anak-anak dan remaja. Berkaitan dengan pesantren, memang harus membuka jendela pengetahuan yang lebih luas, bukan hanya sisi akademis saja, tetapi juga etika.

Memang, era globalisasi yang ditandai dengan liberalisme di berbagai sektor, mengakibatkan menyusutnya kepercayaan masyarakat terhadap ruang keagamaan. Namun, justru hadirnya pesantren sebagai edukasi ganda bagi generasi millenial. Pada satu sisi, sebagai edukasi akademis, baik ilmu keagamaan dan umum. Pada sisi lain sebagai edukasi beretika, baik dalam dunia nyata ataupun maya. Konsepsi yang diutamakan dalam pesantren adalah membangun etika yang baik, sebagai formula ideal bagi generasi millenial.

Dalam ruang lingkup pesantren, etika menjadi hal yang vital dibanding akademis. Sebab mayoritas generasi millenial telah mengunakan gadget  sebagai alat akses dan komunikasi di era globalisasi. Berbekal etika inilah generasi millenial mampu memanfaatkan gadget sebagai media belajar dan dakwah. Sebab bagaimanapun, jika interaksi tanpa dilandasi aturan atau rambu-rambu, maka akan memunculkan ketidakteraturan.

BACA JUGA :  Natural-Organik: Gerakan Moralitas yang Dihancurkan Oleh Kekerasan

Pada dasarnya, substansi etika dalam konsep pesantren adalah menjadikan seseorang untuk saling menghargai dan menghormati. Individu yang tua menyayangi yang kecil dan individu yang kecil menghormati yang tua. Sekaligus sebagai sarana menghindari permusuhan di dunia nyata, serta menghindari hoaks dan cyberbullying di dunia maya. konsepsi inilah menjadi akses menuju keharmonisan sosial dan bermasyarakat dalam menciptakan kesatuan dan perdamaian.

Generasi Millenial adalah Harapan Bangsa dan Agama

Disisi lain, substansi pesantren selain membangun etika, adalah mencerdaskan generasi bangsa. Melihat zaman yang serba modern, tentu butuh keilmuan dan skill yang memadai. Berbagai macam keilmuan telah disiapkan, ibaratkan makan siap saji. Mulai dari ilmu keagamaan seperti kajian durusul qur’an dan kutubutturots, sampai kajian ilmu umum seperti biologi, fisika, sosiologi dan berbagai kajian lainnya. Tentu, subtansi ini telah memberikan pemahaman yang vital dan komperhensif bagi millenial muslim.

Dalam sebuah kaidah dikatakan “pemuda zaman sekarang adalah pemuda dimasa depan, dan hidup yang sudah terlewati ibaratkan mimpi, dan hidup yang belum datang bagaikan sebuah harapan”, menilik kaidah tersebut, tentunnya menanamkan  spirit dan harapan besar bagi generasi millenial, supaya mampu menjadi generasi yang unggul dan bermartabat. Harapan inilah, substansi terperting dalam mengkokohkan bangsa dan agama, lebih-lebih menjaga hak asasi manusia dan menjalin hubungan internasional dalam berbangsa.

Langkah-langkah tersebut, merupakan bentuk harapan bangsa dan agama kepada generasi millenial, supaya menjadi generasi yang unggul. Akses pesantren adalah edukasi yang alternatif dalam membenahi etika dan menambah berbagai wawasan seputar keaktualan problematika. Tergantung generasinnya, ingin menyelami ilmu sedalam lautan atau tidak. Sebab lumbung padi telah tersedia dihadapan mata, dan tidak ada kata sulit untuk meraihnya.

Editor: Amanat Sholihah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here