Bumil
Perawat Rumah Sakit Kendangsari Merr dengan berpakaian Alat Pelindung Diri lengkap sedang menenangkan bayi yang sedang menangis di ruang rawat inap. (Rama/PIJARNEWS.ID)

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Pandemi Virus Corona yang belum usai ini menciptakan keresahan terhadap para ibu hamil di Kota Surabaya. Ini disebabkan karena banyak ibu hamil yang takut jabang bayinya tertular virus tersebut.

Sehingga, mereka jadi enggan memeriksakan kehamilannya di rumah sakit. Meski demikian, bumil harus dituntut menjaga kehamilan agar tetap sehat ditengah badai virus corona yang masuk di Indonesia beberapa bulan yang lalu.

Berdasarkan rekomendasi dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi (POGI), para bumil yang tidak memiliki keluhan lebih baik berdiam diri di rumah. Tujuannya adalah meminimalisir kontak agar tidak tertular dari virus corona.

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan, Dr. Ernawati, dr., Sp.OG (k), mengatakan, kondisi ibu hamil dibagi menjadi trimester satu pada tiga bulan pertama, trimester kedua untuk tiga bulan kedua dan trimester ketiga dengan tiga bulan terakhir

“Di tiga bulan pertama dilakukan kontrol untuk memastikan kehamilannya. Memastikan bahwa ada calon bayi di dalam rahim, serta mengetahui usia kehamilannya berapa. Selebihnya, tidak perlu kontrol kalau tidak ada keluhan,” ujarnya, saat ditemui di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kendangsari Merr, Jum’at (19/3/2021).

Kemudian, lanjut Ernawati, pada trimester kedua atau tiga bulan kedua. Ibu hamil perlu datang ke rumah sakit hanya untuk keperluan screening saja. Terutama, ketika berada di usia kehamilan 22 dan 24 minggu.

“Kalau ada keluhan yang lain. Cukup disampaikan lewat konsultasi online. Lebih baik stay di rumah saja,” imbuhnya.

Masih kata Ernawati, pada trimester ketiga atau tiga bulan terakhir, bumil harus kontrol di rumah sakit karena masa tersebut menjelang persalinan. Terutama setelah melewati usia kehamilan 37 minggu.

BACA JUGA :  Begini Cara Tim Futsal YBKFC dalam Menjaga Kebugaran di Tengah Pandemi

“Jadi ibu hamil harus kontrol untuk memastikan kondisi bayinya dan rencana persalinannya bagaimana, berjalan normal atau operasi cesar. Para ibu hamil bisa datang pada satu atau dua minggu sekali,” tuturnya.

Para ibu hamil diperbolehkan kontrol apabila mengalami sejumlah keluhan yang lain. Seperti mual dan muntah yang hebat, pendarahan, nyeri yang luar biasa, memiliki penyakit darah tinggi serta diabetes dalam kehamilan.

Menurut Ernawati, ada beberapa ibu yang usai melahirkan dicurigai terkena virus Covid-19. Hal ini disebabkan karena telah terjadi perubahan fisiologis pada kehamilan bumil. Mereka lebih tahan dan tertutupi walaupun sedang dalam keadaan sakit.

Ernawati juga menambahkan, sebanyak 13,7 persen ibu hamil bisa positif terkena virus corona tanpa mengalami gejala sesak nafas dan lain sebagainya.

“Memang tidak terlalu banyak, karena ibu hamil lebih terproteksi,” imbuhnya.

Supaya ibu hamil tidak tertular, Ernawati menganjurkan, agar selalu memakai masker, tetap di rumah, jaga jarak, dan cuci tangan. Serta, minum vitamin untuk menjaga stamina.

“Cara penularan virus corona lewat kontak, droplet, jadi lebih baik tidak perlu datang ke rumah sakit untuk kontrol. Bisa kontak dengan pasien di rumah sakit takutnya terkena virus itu,” ucapnya.

Pada saat persalinan, sesuai dengan protokoler. Kalau bumil tidak memiliki tanda-tanda Covid-19 pada kehamilannya. Bisa melakukan proses bersalin di rumah sakit non rujukan.

“Tetapi, kalau ibu hamil ada tanda gejala atau riwayat Covid-19. Maka, ia harus bersalin ke rumah sakit rujukan Covid-19. Karena disana ada fasilitas kamar persalinan tekanan negatif,” terangnya. (ram/mad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here