Nu
Menkes dan perwakilan WHO saat menyaksikan langsung proses vaksinasi pada tokoh NU Jatim. (Udin/PIJARNEWS.ID)

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Sadikin Gunadi, secara langsung memantau pelaksanaan vaksinasi virus corona atau Covid-19 berjenis AstraZeneca kepada ratusan kyai yang tergabung di Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Proses penyuntikan dilaksanakan di Gedung PWNU Jatim, Jalan Masjid Agung Timur, Surabaya, Selasa (23/3/2021) pagi.

Tak hanya Budi saja, proses pemberian vaksin yang penuh polemik ini turut disaksikan langsung oleh Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Debora Comini, Kepala Perwakilan UNICEF wilayah Jawa Tubagus Arie Rukmantara, Representative WHO untuk Indonesia Dr Paranietharan, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Acara ini secara langsung dimulai pukul 09.55 WIB. Di mana, terlebih dahulu dilakukan suntikan dosis kedua menggunakan vaksin berjenis Sinovac kepada KH Anwar Mansur dari Ponpes, KH Agoes Ali Masyhuri, KH Anwar Iskandar dari Ponpes Lirboyo, KH Abdul Matin dari Ponpes Bejagung Tuban.

Setelah itu, dilakukan vaksinasi dosis pertama menggunakan vaksin AstraZeneca terhadap kiai muda. Di antaranya, KH Muhammad Muslih, KH Jazuli Soleh Chosim, KH Ainul Mubarrok alias Gus Mubarrok, dan KH Lukmanul Hakim LBM PWNU Jatim.

Kegiatan ini sengaja dibuat dengan seremoni karena meyakinkan kepada masyarakat bahwa vaksin AstraZeneca yang mengandung babi tetap halal dan boleh digunakan oleh umat Islam.

“Dengan Kiai PWNU Jatim berkenan divaksin ini bisa membangkitkan keyakinan masyaraka berkenan pakai vaksin ini yang dipastikan aman dan halal dipakai oleh seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Menkes Budi Sadikin.

Budi mengatakan, vaksinasi ini sangat penting untuk segera memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Apalagi, virus ini sudah merenggut 2,6 juta nyawa.

BACA JUGA :  Dukungan Forkopimda Jatim dalam Melawan Covid-19 di Trenggalek

Budi menjelaskan, vaksinasi di dunia diharapkan dapat mencapai 70 persen kekebalan komunal dari jumlah 7,8 miliar manusia. Artinya, ada 5,5 miliar atau butuh 11 miliar dosis yang sangat dibutuhkan dengan cepat. Sedangkan di Indonesia ada 181,5 juta warga atau butuh 360 juta lebih dosis vaksin.

Alhamdulillah kita bisa dapat untuk 181,5 juta rakyat Indonesia, kita butuh 360 juta lebih dosis. Ketika dapat kita gak bisa milih, kita rebutan seluruh dunia karena 5,5 miliar butuh 11 miliar dosis vaksin ,padahal produksinya 4 miliar per tahun. Begitu dapat, kita dapat empat jenis yakni Sinovac, AstraZeneca, Novavac, dan Pfizer yang akan digunakan dalam 12 bulan ke depan bagi 181,5 juta warga,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Rois Syuriah PWNU Jatim KH Anwar Iskandar menegaskan, bahwa program vaksinasi ini wajib diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Sebabnya, karena pandemi ini sudah merenggut 2,6 juta jiwa di dunia melebihi perang dunia dan berdasarkan ajaran Islam wajib untuk menjaga keselamatan jiwa.

“Kami ambil keputusan bagi umat Islam, warga NU melaksankan vaksinasi hukumnya adalah wajib. Menjaga keselamatan jiwa bagian kewajiban,” tegas pengasuh Ponpes Lirboyo itu.

Kedua, ia menegaskan vaksin AstraZeneca yang didatangkan ini dipastikan halal dan aman karena banyak negara-negara di Timur Tengah juga menyatakan halal.

“Kedua, AstraZeneca berdasar keputusan diambil lembaga berkompeten LBM (Lembaga Bhatsul Masail) adalah suci dan halal. Harapan kita setelah ini mata rantai Covid-19 bisa putus dan Indonesia menuju normalisasi kesehatan, normalisasi ekonomi, normalisasi pendidikan, dan lain-lain,” pungkasnya. (ram/mad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here