MITRA STRATEGIS: Dari kiri, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMM Nasrullah, Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMM Himawan Sutanto, dan Ketua LSF RI Rommy Fibri Hardiyanto saat menjadi narasumber dalam seminar nasional perfilman, Rabu (9/6/2021).

MALANG, PIJARNEWS.ID – Lembaga Sensor Film (LSF) RI terus menggalakkan sensor mandiri untuk meningkatkan literasi publik pada film. Untuk menyukseskan program tersebut, LSF menggandeng Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

LSF sendiri menganggap Ilmu Komunikasi UMM yang merupakan prodi tersertifikasi internasional AUN QA tersebut, sebagai mitra strategis untuk mewujudkan target tersebut. Kedua pihak lantas menggagas seminar nasional perfilman, Rabu (9/6/2021), sebagai penanda kerjasama.

Agenda yang diadakan secara daring dan luring ini mengangkat tema “Sensor Film diantara Kebebasan Berkreasi dan Menjaga Budaya Bangsa”. Tampil sebagai narasumber Ketua LSF RI Rommy Fibri Hardiyanto dan Dosen Komunikasi UMM Nasrullah. Acara dibuka Wakil Rektor I Prof. Syamsul Arifin.

Ketua Prodi Komunikasi UMM Himawan Sutanto menyatakan, kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari penandatanganan nota kesepahaman yang dilangsungkan kedua pihak bulan lalu di Jakarta.

Selain seminar bersama, kerjasama juga meliputi penguatan kapasitas tenaga sensor, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pemagangan, penguatan gerakan Desa Sensor Mandiri, serta sedang dijajaki sertifikasi untuk tenaga sensor film.

“Ini merupakan langkah awal. Selanjutnya, sebagaimana arahan rektor, Komunikasi UMM dan LSF akan mewujudkan kerjasama ini untuk memperkuat MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Red),” terang Himawan.

Diskusi berlangsung menarik karena sebagian peserta yang mengikuti langsung di lokasi acara, maupun secara online lewat channel Youtube Komunikasi UMM menyampaikan pertanyaan kritis. Salah seorang penanya dari Cirebon, misalnya bertanya apa urgensi LSF saat ini ketika kreatvitas seharusnya tidak perlu dibatasi.

Dalam paparannya Nasrullah mengungkapkan, film memiliki tiga posisi strategis. Yakni sebagai industri, komunikasi massa, dan kebudayaan. Sebagai industri, film merupakan bisnis yang menggiurkan. Sebuah film yang bagus dan box office bisa berlipat ganda.

Film juga merupakan komunikasi massa yang sangat tergantung dari apa isi dan bagaimana teknologi infomasi yang membawanya sampai kepada penonton. Film dalam hal ini dapat digunakan untuk propaganda hingga agitasi.

“Kekuatan film sangat dahsyat mempengaruhi khalayak,” kata Nasrullah seraya mencontohkan film propaganda anti-vaksinasi di Amerika Serikat berjudul Vaxxed. Film juga merupakan produk budaya. Kata Nasrullah, film merupakan lanskap peradaban sehingga untuk melihat kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari filmnya.

BACA JUGA :  Inovasi Pasar Gratis oleh Sekelompok Pemuda di Malang

“Jika Korea dapat menggoncang dunia melalui Korean Wave, maka seharusnya Indonesia bisa menggerakkan anak-anak muda di belahan dunia lain untuk menggandrungi kuliner rendang, tarian pendet, kepulauan di Labuhan Bajo atau Raja Ampat,” ungkapnya.

Rommy setuju jika kampus menjadi entitas strategis dalam menggalakkan kajian kritis sekaligus mendorong literasi publik pada film. LSF menurutnya, tidak akan mampu menjangkau semua film yang diproduksi untuk disensornya. “Kami memerlukan mitra strategis seperti Komunikasi UMM ini,” katanya.

Saat ini, menurut Rommy, sedang terjadi tsunami tontonan. Masyarakat dibanjiri dengan film-film yang hadir diberbagai platform yang berbeda. Tidak hanya di bioskop dan televisi, di platform digital publik justru lebih bebas memilih

“Di sinilah urgensinya sensor mandiri. Masyarakatlah yang harus memilih dan memilah sendiri tontonan yang sehat untuk diri sendiri dan keluarganya,” terang Rommy menyinggung konsep Sensor Mandiri.

LSF mulai tahun ini akan memasifkan gerakan Sensor Mandiri ini. Gerakan itu dimulai dari mengajak masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari khalayak film yang kritis. LSF tidak akan lagi menjadi tukang potong film.

“Paradigma baru LSF bukan lagi menggunting film, tetapi berdialog dengan produser film untuk menentukan batas usia penonton, mendiskusikan mengenai adegan yang perlu direvisi atau dihilangkan, sampai menemukan titik temu yang tidak mengganggu jalan cerita film tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai budaya bangsa kita,” terangnya.

Dalam waktu singkat, tayangan live di channel Youtube seminar ini trending. Tak kurang 5.400 orang telah menonton diskusi menarik ini. Rektor UMM Fauzan mendukung agar Komunikasi UMM menindaklanjuti kerjasama dengan LSF ini lebih produktif lagi.

“Banyak program-program UMM yang bisa dikolaborasikan, termasuk rencana mau membuka Kelas Film yang bisa diambil oleh mahasiswa dari jurusan apapun asal memiliki passion dan minat yang kuat. Silakan dimatangkan lagi,” kata Fauzan rektor usai menerima Rommy yang didampingi anggota LSF Joseph Samuel di kantor Rektorat. (fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here