JUJUKAN WISATAWAN: Hutan Mangrove saat ini menjadi salah satu lokasi wisata menarik yang perlu dikunjungi di Kabupaten Pamekasan. Tak hanya untuk tempat berlibur, akademisi juga banyak yang melakukan penelitian di lokasi tersebut.

PAMEKASAN, PIJARNEWS.ID – Slaman mengaku sudah puluhan tahun menjaga hutan mangrove di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. Dengan kegigihannya, hutan mangrove itu kiniakhirnya sekarang bisa jadi tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

Bukan hanya itu, tapi tempat tersebut sering dijadikan tempat penelitian mahasiswa. Kendati wahana baru, tempat wisata ini cukup potensial karena memiliki panorama alam dan udaranya yang sejuk. Wisata mangrove semakin menarik perhatian wisatawan karena dikelilingi pepohonan yang rindang. Pihak pengelola memberi fasilitas berupa spot foto yang menarik.

Slaman, perintis hutan mangrove bercerita hutan mangrove mengatakan, tahun 1986-an Desa Lembung yang ada di Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, terancam musnah akibat abrasi. Air laut perlahan mengikis bibir pantai dan menghancurkan tambak sekitar. Bahkan saat gelombang laut meninggi air laut naik ke rumah warga.

Ancaman kerusakan ekosistem kala perubahan iklim semakin menghawatirkan bagi warga setempat. “Air laut saat pasang masuk ke dapur dan rumah warga. Jika dibiarkan yang jelas warga Lembung tidak akan bertahan,” kata Slaman.

Untuk menjaga desanya dari kerusakan akibat abrasi waktu itu, Slaman melakukan perluasan penanaman mangrove. Pada awal penanaman, Slaman mengaku mengikuti jejak ayahnya. Ia menanam satu sampai tiga mangrove di bibir pantai. Sampai tahun 2021, hutan mangrove itu luasnya mencapai 46 hektar.

“Saya merawat mangrove sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Waktu itu, saya kelas IX,” tuturnya. Tidak hanya menyelamatkan lingkungan, hutan mangrove mendapatkan berbagai penghargaan setelah dibentuknya komoditi kopi mangrove pada tahun 2012.

BACA JUGA :  Suara Gemuruh Gunung Raung Terdengar Hingga Radius 16 Km

Yakni, menjadi perwakilan pada ajang Anjang Kontes Modifikasi (AMD) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia di Jakarta pada tahun 2013. Sejak meraih juara 1 tingkat nasional kategori Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, warga sekitar hutan produktif membuat kopi dari buah mangrove yang disebut dengan kopi malam Jum’at.

“Pada tahun 2012 kami membuat komoditi kopi mangrove yang terus bereksperimen,” kata. Dari berbagai penikmat kopi mangrove, efek yang ditimbulkan konon bermacam-macam. Ada yang tidak bisa tidur, bahkan ada yang mengaku bertambah kejantanannya.

Slaman mengatakan tidak mudah menjaga hutan mangrove, apalagi pernah ada pembakaran posko atau gubuk di area mangrove. Bahkan ada yang mencabut bibit mangrove yang ditanam oleh kelompoknya. Namun kejadian tersebut, tidak membuat Slaman menyerah dalam menjaga dan terus melestarikan hutan mangrove.

“Merawat lingkungan yang paling dibutuhkan adalah keikhlasan. Banyak orang inovatif dan pintar, tapi tidak ikhlas. Yang kedua, adalah keuletan dan sikap tidak gampang menyerah,” kata Slaman.

Lebih lanjut, dia merasa bangga ketika mendapat kunjungan dari kalangan akademisi. Mulai dari siswa SD, SMP, SMA bahkan dari perguruan tinggi. “Ada yang dari SD, SMP dan mahasiswa. Kadang ikut membantu dalam penanaman,” jelasnya. (fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here