MENARIK: Mohammad Agoes Aufiya, dosen prodi Hubungan Internasional UMM menceritakan India dari pengamatannya selama ini dalam program UMM Talks.

MALANG, PIJARNEWS.ID – India memiliki beragam hal unik yang belum diketahui publik. Jika selama ini dikenal dengan industri film melalui Bollywood, ternyata tak hanya itu. India juga memiliki kekayaan budaya, rempah-rempah yang khas, hingga keunggulan di bidang teknologi dan transportasi.

Hal itu diulas dengan apik oleh salah satu dosen Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) bernama Mohammad Agoes Aufiya, Sabtu (7/8/2021). Dosen yang tengah menempuh studi doktoralnya di India ini, menyibak rahasia sukses India di kanal YouTube miliknya yang subscribernya hampir menyentuh angka 500 ribu.

Dosen Prodi Hubungan Internasional ini mengungkapkan bahwa ada berbagai alasan mengapa ia membuat konten tentang India. Terlepas karena dia memang studi di negara Bollywood itu. Menurutnya India memiliki keunikan yang menarik. Ada banyak kontradiksi di negara tersebut.

Misalnya saja masih ada yang menggunakan sapi sebagai penarik kendaraan, padahal sudah memiliki Mass Rapid Transit (MRT) di ibukota New Delhi. “Beberapa orang India tercatat sebagai orang terkaya di Asia. Tapi juga banyak masyarakat hidup pas-pasan, bahkan miskin. Keadaan yang bertolak belakang ini yang menarik untuk diulas,” katanya.

Agoes -sapaan akrabnya- yang kini menempuh pendidikan di Jawaharlal Nerhu University, mengatakan bahwa bahasa, budaya, serta sistem pemerintah juga bisa menjadi bahan yang asyik untuk diceritakan. Ia memberi contoh beberapa kata yang tidak perlu diucapkan ketika berkomunikasi. Cukup hanya dengan gestur kepala khas India.

“Jadi awal-awal di India, saya sempat heran karena orang-orang tidak mengucapkan terimakasih. Malah memberikan gesture geleng-geleng kepala. Hingga beberapa minggu kemudian, saya paham gerakan-gerakan tersebut yang bermakna terima kasih,” ungkapnya.

Selain bahasa, hal unik lain yang bsia ditemui adalah sistem kasta yang sudah ada sejak ratusan tahun lamanya. Deretan kasta yang ada terdiri dari Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan di luar kasta namanya Dalit. Menurutnya, sistem kasta ini susah dihilangkan dalam budaya India. Karena pernikahanan di negeri tersebut hampir 90 persen dijodohkan.

BACA JUGA :  5 Mahasiswa TI UMM Ciptakan Game Edukasi

“Perjodohan ini dilakukan dan menjadi tradisi dalam rangka menjaga harkat dan martabat dari keluarga, agar sesuai dengan kastanya. Jarang sekali kita menemui pernikahan beda kasta,” imbuhnya.

Tidak dipungkiri Agoes, bahwa diskriminasi masih tetap ada di India. Tetapi diskriminasi kasta secara negatif sudah dilarang oleh pemerintah setempat. Sedangkan diskrimasi positif memberikan porsi kepada kasta rendah untuk tetap belajar di universitas. Bahkan juga diberi porsi untuk bekerja sebagai pegawai negeri meskipun kecil.

Lebih lanjut, ia juga menerangkan situasi dan kondisi pandemi di India yang sempat mnejadi bahan perbincangan di dunia global. Dosen asal Kalimantan Selatan ini mengatakan bahwa penanggulangan Covid-19 sebenarnya cukup baik. Pun dengan angka kematian yang berangsur menurun.

India juga berhasil memproduksi vaksin untuk menanggulangi pandemi. Bahkan menjadi salah satu produsen vaksin terbesar di Dunia. “Faktor inilah yang membuat angka positif virus Corona melandai akhir-akhir ini,” ungkapnya.

Agoes mengatakan, bahwa penanganan cepat yang dilakukan pemerintah juga menjadi hal menarik. Kini, kesehatan yang menjadi proritas pertama, sementara ekonomi berada pada prioritas nomor dua. Masyakarat juga berhak mendapatkan bantuan, baik itu sandang dan pangan.

“Usaha-usaha ini menjadi upaya pemerintah India untuk menekan angka Covid-19. Gerakan dan penanggulangan cepat ini juga bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menangani Covid-19 agar bisa lebih baik lagi,” tutupnya. (fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here