Hadirkan 2 Pakar, Kelas Profesional FPP UMM Kaji Tantangan Budidaya Udang

0
29
PAPARAN: Head Division FM Technical Service & Laboratorium CP. Prima Heny Budi Utari saat memaparkan budidaya udang dalam Kelas Profesional yang digelar FPP UMM.

MALANG, PIJARNEWS.ID – Dalam rangka mendukung pemerintah dalam pelaksanaan Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan kelas khusus Profesional Udang, Senin (9/8/2021).

Kelas yang dilakukan secara daring ini, mengundang dua pakar untuk membahas tantangan dalam budidaya udang. Di antaranya, Head of TS dan Training Center dari PT. Suri Tani Pemuka Sarwana dan Head Division FM Technical Service & Laboratorium CP. Prima Heny Budi Utari.

Sarwana mengatakan, overfeeding dan penyakit merupakan dua di antara masalah-masalah dalam budidaya udang. Pemberian pakan umumnya menggunakan metode tradisional dengan cara ditebar. Hal ini berpotensi sebagian pakan tidak sampai dan tidak termakan oleh udang.

“Hal tersebut akan memicu timbulnya penyakit akibat menumpuknya limbah sisa pakan di dasar kolam. Untuk itu, sudah saatnya petambak beralih ke sistem budidaya intensif untuk memaksimalkan keuntungan,” ujar Sarwana.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, para peternak udang bisa menggunakan alat bernama autofeeder machine. Mesin ini dilengkapi dengan komponen yang dapat diatur untuk memberikan pakan secara perlahan, dengan interval waktu tertentu serta dalam durasi yang sudah ditentukan.

Pengaturan otomatis tersebut mempermudah pekerjaan petambak dalam mengontrol jumlah pakan yang akan diberikan pada udang. Dengan pakan yang terkontrol, diharapkan akan mengurangi limbah sisa pakan di dasar kolam. Hingga nantinya bisa menjaga kualitas air di mana udang tersebut dibudidayakan.

BACA JUGA :  Bina Klien Bapas Kelas I Malang, Program Dosen UMM Latih Pembuatan Kerupuk Lele

“Meski demikian, teknologi autofeeder masih memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah pakan yang keluar dari mesin bisa terlontar di luar area tambak. Apalagi jika kolam yang dimiliki terlalu kecil. Selain itu, ketika musim hujan, terkadang pellet pakan cenderung lengket akibat basah sehingga tidak bisa keluar dari mesin,” jelasnya.

Sementara itu, Heny Budi Utari menjelaskan, bahwa 90 persen kematian dalam budidaya akuatik disebabkan oleh penyakit. Untuk mengatasi masalah tersebut, penerapan biosecurity menjadi solusi yang patut dicoba. Bisa dimulai dengan memanajemen pakan dan limbah yang baik.

Dengan meminimalisasi limbah sisa pakan di dasar kolam, kesehatan udang juga akan lebih baik. “Sudah saatnya, para petambak untuk menerapkan manajemen kesehatan dalam pembudidayaan aquatik ini. Bagi para petambak berskala rumah tangga, usahakan memiliki alat untuk mengontrol kualitas air untuk meminimalisir penyakit,” jelasnya. (fan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here