Taliban kembali menguasai Afghanistan. Foto : ABC Australia

Tulisan ini adalah salah satu cara melihat kemenangan Taliban, agar kita umat Islam tidak terjebak pada euforia-euforia yang tidak perlu. Melihat Taliban secara obyektif.

Akhir-akhir ini saya melihat ada semacam euforia pada umat Islam di Indonesia setelah Taliban mengambil alih pemerintahan Afghanistan.

Pada satu sisi, hal ini patut disyukuri bahwa Afganistan kini tidak lagi dipimpin oleh pemerintahan “boneka” Amerika Serikat (AS). Ini mirip dengan awal-awal proklamasi kemerdekaan negara kita Indonesia.

Taliban bisa dengan mudah merebut kota-kota penting di Afghanistan setelah AS memilih meninggalkan Afghanistan. Sedang Indonesia, setelah Belanda diusir oleh Jepang, pasca bom Hiroshima dan Nagasaki, Jepang menyerah tanpa syarat. Kekosongan kekuasaan ini dimanfaatkan pemuda Indonesia untuk melakukan Proklamasi Kemerdekaan.

Berbeda sejarah memang, tapi sama-sama herois. Ada peran umat Islam dalam pengambilalihan kekuasaan itu, menjadi pemimpin dinegeri sendiri.

Kembali pada bahasan Taliban, pada sisi yang lain, umat Islam di Indonesia ini sering dan terlalu berlebihan menyikapi kemenangan Taliban. Seolah ini adalah kemenangan Islam (secara keseluruhan). Ini yang harus harus diluruskan.

Bahwa, kemenangan Taliban adalah simbol kemenangan melawan imperialisme AS, jawabannya adalah iya, tapi sekali lagi ini adalah simbol. Ini sama seperti saat kita memproklamasikan kemerdekaan, simbol kemenangan melawan kolonialisme.

Afghanistan, adalah Afghanistan. Afghanistan memiliki cara sendiri setelah berhasil merebut kekuasaan dari pemerintahan boneka AS. Lihatlah, baru beberapa hari berkuasa, mereka langsung melakukan pertemuan dengan China utk menjalin kerjasama. Padahal jelas, Afghanistan dan China memiliki ideologi yang berbeda. Afghanistan yang Islam, dan China yang komunis, perbedaan ini tidak menjadi penghalang kerjasama mereka. Inilah yang disebut kerjasama strategis.

Bahkan, Afghanistan mulai membicarakan kerjasama dengan Rusia yang dulunya adalah Uni Soviet (USSR). Sebagaimana kita tahu, USSR adalah ‘kakek buyut’ faham dan gerakan komunis. Saat Tan Malaka dan Sema’un di Eropa, mereka belajar komunis dinegara ini. Bahkan Tan Malaka menjadi ketua Komintern di Asia Tenggara.

BACA JUGA :  Begini Sinergitas FWP dan Polres Pamekasan dalam HPN 2021

Afghanistan juga membuka pembicaraan dengan negara-negara Eropa lain. Inilah yang dimaksud dengan kerjasama kemitraan. Mengapa Afganistan tidak menjalin kerjasama dengan negara-negara Islam sesaat setelah berkuasa? Ini perlu juga menjadi catatan kita. Afghanistan adalah Afghanistan. Mereka memiki cara sendiri terkait kepentingan pemerintahannya.

Bahkan untuk kerjasama dengan China, Afghanistan telah meminta China utk mendukung kepentingan Afghanistan dalam forum-forum internasional. Dan China bersedia menjadi sekutu dalam kepentingan Afghanistan ini.

Kemudian, apa yang akan didapat China? Ada banyak, salah satunya adalah soal Uyghur, China tidak ingin Afgganistan menjadi basis perjuangan kemerdekaan Uyghur.

Apa lagi yang akan didapat China? Masih banyak lagi, dan hal ini tidak akan diungkap dipublik. Apalagi terkait dengan kerjasama pertahanan, tentu tidak akan pernah dibuka. Afghanistan sangat membutuhkan bantuan China untuk kepentingan pertahanannya. Apalagi, China telah memiliki kemandirian dalam alutsistanya. Afganistan juga tidak mungkin menggantungkan kepentingan pertahanannya kepada AS dan sekutunya.

Ini belum terkait nanti soal alih teknologinya, Afghanistan tertarik dengan kemajuan teknologi yg dibangun China.

*

Jadi, sekali lagi, kita umat Islam di Indonesia tidak perlu terlalu euforia atas keberhasilan Taliban dalam merebut kekuasaan. Afghanistan adalah Afghanistan. Mereka memiliki cara sendiri dalam mengatur pemerintahannya.

Kita harus melihat Afghanistan ini dengan obyektif. Afghanistan kini dipimpin oleh umat Islam, sedang Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kita bisa melakukan kerjasama strategis, sama seperti Afghanistan menjalin kerjasama strategis dengan China. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here