Tangkapan layar saat Nashir Efendi mengisi Bincang Pendidikan yang diadakan oleh RBC Institute

PIJARNEWS.ID – Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar mengadakan Bincang Pendidikan, dengan tema “Transformasi dan Digitalisasi Budaya Belajar Jarak Jauh” secara online pada Kamis (19/8) siang. Acara yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting tersebut, menghadirkan narasumber diantaranya Dosen FKIP UMM, Rina Wahyu Septiyaningrum MEd, Anggota Komisi X DPR RI Bidang Pendidikan, Prof. Zainuddin Maliki, serta Nashir Efendi, Ketua Umum PP IPM.

Nashir Efendi, yang menjadi salah satu pemateri menyampaikan seperti apa tantangan dan peluang menumbuhkan pembelajaran yang inovatif bagi siswa. Ia memberikan beberapa gambaran terkait kelebihan dan kekurangan ketika belajar secara daring (dalam jaringan), “Pandemi ini mendorong terjadinya perubahan struktural yang sangat cepat, digitalisasi (pendidikan) ini bukan memindahkan gedung sekolah ke perangkat elektronik kita, tapi memanfaatkan teknologi dalam keseharian pembelajaran tatap muka yang konvensional,” ucap pria kelahiran Lamongan tersebut.

Nashir menambahkan, ini cukup emosional kemudian human touch, “Lalu feeling dan lain-lain, itu merupakan hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam pendidikan,” terangnya. Sambil menampilkan slide, Nashir memaparkan bahwa adanya digitalisasi pada dunia pendidikan, seperti Google Classroom dapat merubah habit (kebiasaan) proses pembelajaran dari yang sebelumnya banyak tumpukan kertas esai murid di meja guru, sekarang lebih praktis karena adanya teknologi dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap dapat berlangsung meski di masa pandemi.

BACA JUGA :  Menko PMK : Jadikan Kampus Putih UMM sebagai Rumah Kedua

“Nah, ini salah satu fenomena, tidak hanya soal belajar mengajar, tapi juga soal budaya-budaya yang diluar KBM, misalkan soal birokrasi di sekolah dan kampus yang ini menjadi hal yang penting juga.” Papar Nashir.

Anggota Departemen Filsafat Etika dan Politik Lingkar Studi Filsafat Discourse ini juga mengatakan, bahwa diskusi di ruang digital jauh lebih interaktif, “Misalnya  ketika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui Google Classroom, kalau dilihat dari sisi interaktifnya, kebanyakan lebih aktif ketika memakai teks. Yang sebelumnya pendiam saat dikelas, tetapi saat PJJ lebih berani bertanya kepada gurunya ketika belum paham.” Jelasnya.

Menurut Nashir, untuk menghadapi era digital saat ini sudah saatnya kita mengubah paradigma proses pembelajaran di dalam kelas menjadi suatu proses yang penuh dengan pengalaman, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkolaborasi dengan gurunya, dengan temannya untuk membangun dan mengorganisasi pengetahuan. “Nah ini! Melibatkan diri dalam penelitian, belajar menulis, dan menganalisis serta mampu mengkomunikasikan apa yang mereka alami sebagai suatu pemikiran baru, sebagai wujud pengalaman sesuai dengan usia mereka,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here