KKN UMG: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) saat menyerahkan cinderamata kepada pihak Desa.

GRESIK, PIJARNEWS.ID – Direktor Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), dari 19 Agustus hingga 3 September 2021. Bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Gresik, DPPM UMG menyelenggarakan sosialisasi dan pendampingan kepada warga Kecamatan Bungah, Gresik untuk mendapatkan hak atas tanah secara hukum (yuridis).

Kegiatan yang melibatkan 150 mahasiswa ini, bertempat di beberapa desa pada wilayah Kecamatan Bungah. Seperti yang berada di Desa Kemangi, Gumeng, Watuagung, dan Kramat. Bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Nur Cahyadi SST MM, para mahasiswa ini berhasil menerbitkan 793 sertifikat tanah yang ada di empat desa. Diantaranya di Desa Kemangi sebanyak 240 sertifikat, Gumeng 300 sertifikat, Watuagung 175 sertifikat, dan di Desa Kramat 78 sertifikat.

Program Penyuluhan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) ini tidak hanya dilakukan di wilayah Kecamatan Bungah saja, tetapi sebelumnya program PTSL juga telah dilaksanakan di Kecamatan Dukun dan Kecamatan Dududksampeyan. Salah satu perwakilan peserta, Sherly Maftukha menyampaikan, tujuan dari kegiatan ini sendiri selain bentuk pengabdian kepada masyarakat juga, membantu dan mendampingi masyarakat untuk mendapatkan sertifikat kepemilikan atas tanah. “Banyak sekali manfaat yang bisa di dapatkan saat mengikuti program PTSL ini, antara lain bisa meminimalisir dan mengatasi perselisihan jika suatu hari kedepan terjadi sengketa antar pemilik lahan atau tanah.” terangnya.

BACA JUGA :  PTM di Ponorogo Ditunda Lagi, Tunggu Sampai Zona Oranye
Mahasiswa UMG Gresik saat melakukan proses pengukuran tanah.

Sherly menambahkan, bahwa selama 15 hari mereka melakukan pemberkasan, pengukuran dan koordinasi dengan tim BPN serta pihak desa untuk mendapatkan hasil yang maksimal. “Dan tak lupa pula kami tetap melaksanakan anjuran Pemerintah untuk menekan tingkat penyebaran Covid-19 dengan memakai protokol kesehatan, sesuai yang di arahkan dengan memakai masker dan rajin mencuci tangan,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pramudia Ananta, salah satu mahasiswa peserta mengatakan, bahwa program ini diterima dengan baik oleh pihak desa dan melibatkan masyarakat. “Tanah yang di daftarkan dalam program ini bermacam-macam fungsinya, ada yang digunakan sebagai rumah atau bangunan, tambak, dan sawah atau ladang,” terang pria asal Lamongan tersebut.

Pram, — sapaan akrab Pramudia– menambahkan, program ini bisa berjalan dengan lancar, meskipun sempat ada beberapa kendala yang kini sudah terselesaikan. “Antara lain luas tanah dan luas bangunan yang tidak sama atau bangunan yang di buat melebihi luas tanah yang di miliki, tetapi hal ini bisa diselesaikan dengan baik menggunakan cara musyawarah dan kesepakatan antar pemilik lahan atau tanah,” ungkapnya.

“Harapan kami, semoga program ini menjadi salah satu solusi dalam meminimalisir konflik dan sengketa lahan atau permasalahan lain yang kerap kali terjadi di masyarakat. Serta meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa administrasi atau keabsahan data itu sangatlah penting,” pungkasnya. (Pram/Hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here