Menko PMK dan Ketum PP Muhammadiyah Memberikan ‘Wejangan’ di Pesmaba UMM 2021

0
7
Menko PMK, Muhadjir Effendy memberi selamat kepada para maba yang sudah diterima di Kampus Putih.

MALANG, PIJARNEWS.ID – Mahasiswa baru (Maba) dari beragam daerah Indonesia turut hadir dalam gelaran Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2021. Event tahunan ini mengangkat tema “Harmony in Diversity” yang mendorong sivitas akademika untuk senantiasa menghargai berbagai keberagaman yang dimiliki oleh Nusantara. Menyuguhkan berbagai penampilan, Pesmaba UMM 2021 berlangsung selama lima hari sejak Selasa (21/9) dengan format daring dan luring di Hall Dome UMM menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

Pada hari kedua pelaksanaan, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Prof. Dr Muhadjir Effendy MAP, yang juga Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) UMM ini memberi selamat kepada para maba yang sudah diterima di Kampus Putih. Ia mendorong para mahasiswa baru untuk segera beradaptasi, karena telah berada di fase transformasi diri. Yakni dari seorang siswa sekolah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. “Saudara harus bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang Kampus Putih berikan. Jangan lewatkan satu detikpun untuk tidak belajar dan mencari pengalaman,” katanya.

Lebih lanjut, Muhadjir memberikan lima pesan bagi mahasiswa baru yang nantinya akan menjadi pemimpin masa depan. Pertama, ia berharap mereka memiliki kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan-kegiatan yang UMM sediakan, pun pula dengan sikap kreatif dan inovatif yang nantinya akan berguna saat menghadapi beragam permasalahan. “Saya juga ingin agar saudara mampu memiliki keterampilan berkomunikasi dan berkolaborasi. Tak lupa juga saudara harus menjadi insan yang percaya diri,” tutur mantan Rektor UMM tersebut.

BACA JUGA :  SMAN 1 Sekaran Tetap Mencetak Siswa Berprestasi di Tengah Pandemi

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr Haedar Nashir MSi mengungkapkan, bahwa era ini tidaklah mudah karena kehidupan multikulturalisme semakin kompleks. Ditandai dengan adanya demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), toleransi, pluralisme, serta hubungan antar kelompok, Bangsa dan Negara. “Maka, mahasiswa tidak bisa lagi menghindar. Mereka harus senantiasa mawas diri agar tidak terbawa arus dan menjadi objek multikulturalisme,” terangnya.

Prof Haedar menambahkan, bahwa saat ini juga menjadi era revolusi digital dan informasi yang mana memberikan kemudahan dan kecepatan. Meski begitu, jika tidak berhati-hati maka anak muda akan menjadi objek hingga terjerembab dalam kehidupan yang tidak baik. “Hal itu bisa terjadi karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) berdasarkan ilmu, etika dan nilai. Maka perlu adanya peningkatan diri untuk menguasainya dengan baik,” tegasnya.

Haedar juga menyebutkan, era media sosial sebagai konsekuensi revolusi digital. Selain manfaat yang diperoleh, ia juga menyebutkan berbagai dampak buruknya seperti hoaks, kebencian, berleha-leha dan lainnya. “Selain sukses dalam belajar, ananda juga harus memiliki akhlak yang mulia, cerdas, berilmu dan berkualitas tinggi serta menjadi orang yang berguna agar bisa menghadapi ketiga era tersebut,” tutur Haedar. (Hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here