Selama Tujuh Bulan, Ada 1.025 Pasangan Ajukan Dispensasi Pernikahan Dibawah Umur

0
33
Foto: Moh. Khoirul, Humas Pengadilan Agama Kepanjen Kabupaten Malang.

MALANG, PIJARNEWS.ID – Angka pernikahan dibawah umur di Kabupaten Malang masih tergolong tinggi, terbukti dari data Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Kepanjen Kabupaten Malang. Ada 1.025 pengajuan dispensasi kawin sepanjang Januari hingga Juli 2021, problematika tersebut disampaikan oleh Humas Pengadilan Agama Kabupaten Malang, Moh. Khoirul. Ia mengatakan banyaknya pengajuan tersebut didapati sejak awal pandemi di 2020 hingga 2021 ini, Januari menjadi bulan terbanyak mencatatkan permohonan dispensasi kawin yakni sebanyak 219 pasangan.

“Jumlah ini bisa dibilang stagnan, namun tetap tinggi dibanding tahun 2020 dengan jangka yang sama, yakni sebanyak 1.037 ajuan,” ujar Khoirul pada hari Rabu (22/9) kemarin. Ditahun 2019 pada periode Januari-Juli hanya tercatat 206 kasus yang diterima, banyak diantaranya dipengaruhi perubahan aturan batas minimal usia pernikahan berdasarkan Undang-Undang Perkawinan, yakni UU No. 16/2019 tentang Perubahan atas UU No. 1/1974 tentang Perkawinan, yang telah menaikkan usia minimal kawin perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun, dan laki-laki juga 19 tahun.

“Biasanya yang mengajukan orang tua yang mau menikahkan anaknya, karena ada kekhawatiran problem hamil duluan, pergaulan bebas, dan sebagainya. Dari sana mereka berharap terhindar dari perzinahan,” terang Khoirul.

Lebih lanjut Khoirul menambahkan, rata-rata usia pasangan yang mengajukan relatif, ada kalanya usia termuda yakni 15 tahun. Ia juga menuturkan rentang usia yang cukup untuk menikah diatas 20 tahun, dimana harus ditinjau secara medis. “Perlu adanya edukasi, penyuluhan pentingnya menikah usia 19 tahun keatas,” sambungnya.

BACA JUGA :  Nekat Buka, Karaoke di Surabaya Kembali Disegel Polisi

Khoirul juga menjelaskan, seharusnya Dinas Pemberdayaan Perempuan juga terlibat andil dalam mengedukasi masyarakat. Ia berharap, masyarakat bisa membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera sesuai dengan nilai yang diharapkan. “Dampak bagi yang belum siap, salah satunya dikhawatirkan memicu potensi perceraian, atau ketidak harmonisan,” pungkasnya. (Tyo/Hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here