Masuki Musim Penghujan, Petani Diimbau Persiapan Masa Tanam

0
106
Salah seorang petani di Kecamatan Pakisaji tengah menggarap sawah saat masa tanam tiba jelang musim hujan

MALANG, PIJARNEWS.ID – Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, mulai mengimbau para petani menyambut musim penghujan. Masa tanam di awal musim penghujan, dinilai ideal untuk tanaman prioritas pangan. Hal ini demi menjaga kestabilan ketersediaan bahan pangan di Kabupaten Malang.

Budiar Anwar, Kepala DTPHP Kabupaten Malang mengatakan, terdapat tiga prioritas tanaman pangan yang disarankan. Ketiganya akan mendukung ketersediaan bahan pokok utama tetap stabil. “Tanaman pangan prioritas yang disarankan Pemerintah, yakni Pajale atau Padi Jagung Kedelai. Musim penghujan menjadi ideal untuk masa tanam,” ujar Budiar saat dikonfirmasi pada Rabu (29/9).

Budiar menambahkan, DTPHP terus melakukan pemantauan luasan tanam pangan setiap harinya. Komoditas yang baru saja memasuki masa tanam yakni jagung, namun dari temuannya masih ada permasalahan pada harga jual hasil tanaman jagung.

“Saat ini jagung sedang masa taman, tapi kami masih mengkaji problem di pertanian karena harga jual agak rendah,” katanya. Menurutnya, hasil pertanian di Kabupaten Malang masih mengalami surplus. Bahkan kualitasnya cenderung unggul.

“Khususnya beras kita masih surplus, 2020 didapat sekitar 350.000 ton gabah kering panen. Dengan surplus 70 ribu ton, dimana kebutuhan di daerah lain masih dipenuhi Kabupaten Malang,” tuturnya.

Menanggapi keluhan petani terkait hasil yang harus bersaing dengan komoditas impor, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Namun ia memastikan dibanding daerah lain, hasil tani Kabupaten Malang cenderung tinggi.

BACA JUGA :  Liga 1 2020 Mandek, Pemain Persik Kediri Buka Usaha Laundry

Meski begitu pihaknya mengakui, bahwa masih ada kekhawatiran penggunaan produk impor berharga murah dengan pelabelan atau branding dari Kabupaten Malang. Budiar berharap agar petani tetap produktif dan mengupayakan produk unggul yang tak kalah saing dengan hasil tanam impor.

“Problem impor jadi kebijakan pusat ada di Kementerian Perindag, balance-nya pusat yang mengatur. Yang jelas, produk kita cukup bagus se-Jatim yakni Rp 10.200 untuk HPP (Harga Pembelian Pemerintah) premium, medium Rp 9.800, dan gabah Rp 4200. Dibanding daerah sekitar seperti Blitar dan lainnya, Kabupaten Malang masih paling tinggi,” pungkas Budiar. (Tyo/Hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here