Bullying: Bagaikan Kayu yang Tertancap Paku, Meski Terlepas, Masih Ada Bekas

0
274
Penulis : Zidan Fathur Rahman (Mahasiswa di STIA Bandung)

Bukan hal aneh lagi, perilaku bullying seringkali terjadi baik dikalangan pelajar, mahasiswa, bahkan dewasa. Bullying dalam bahasa Indonesia disebut penindasan, kadangkala dijadikan hobi dan menjadi habits pada sebagian kelompok atau malah pribadi. Kerana mereka lebih kuat dan disegani, menjadikan dirinya semena-mena berucap dan bertindak. Tentunya, banyak yang tak suka, namun tak bisa berbuat apa-apa.

Bully ada beragam macam, tapi yang sering kita jumpai; penindasan verbal yang mana para pelaku bersembunyi dibalik kata ‘cuma bercanda, kok!’. Barangkali mereka (pelaku) itu hanya ingin bercanda dengan temannya, namun justru ia (temannya) menjadi korban, dipermalukan ditengah-tengah kerumunan teman lainnya. Bukan sekali atau dua kali, tapi berkali-kali. Dan hal ini menyebabkan psikologisnya terganggu.

Dirumah atau dimana ia lagi sendiri, perasaan malu dan cemas menghiasi pikirannya. Memang bagi pelaku tak seberapa (bukan fisik yang menjadi medianya), tapi korban ‘kena mental’-nya luar biasa. Jikalau dibiarkan, pelaku akan terus-terusan menjadikannya bahan bully-an, atau mencari lagi yang secara psikis lemah.

Merdeka hanya sebatas kata, implementasinya sama sekali tak ada. Setiap tanggal 17 Agustus mereka (pelaku) mengikuti kegiatan upacara (atau hanya menonton dilayar kaya), menyanyikan lagu ‘Kemerdekaan Indonesia’, tapi 18 Agustus berulah seperti semula. Ada apa dengan pemikirannya?

Lingkungan keluarga pun bisa menjadi faktor penentu, apakah anaknya menjadi pelaku atau korban dari bullying itu sendiri. Pola asuh orang tua yang otoriter dan yang permisif-memanjakan sama-sama membentuk kecenderungan anak menjadi korban pengintimidasian. Sebaliknya, pola asuh orang tua yang otoritatif menghindarkan remaja dari keterlibatan sebagai pelaku maupun korban.

Faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang menjadi pelaku maupun korban perundungan adalah sejarah pribadi dimasa lalu. Terlebih kurangnya atau hilangnya rasa empati, sehingga berbuat sesuka diri.

Budaya ‘ospek’ pun termasuk kategori bullying, mengapa? Sebab jikalau tidak ada unsur kekerasan, tentunya Pemerintah tak kan menghapusnya. Toh, namanya juga ‘pengenalan kampus’, kenapa bisa-bisanya ada orang yang pingsan, bahkan meninggal dunia. Sudah saja namanya ganti menjadi pendidikan militer.

Kekerasan diruang lingkup sekolah pun takkan terelakkan. Berdasarkan data ICRW yang diliris tahun 2015 menyebutkan, sebanyak 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah, dan menjadikan Indonesia salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di Asia.

BACA JUGA :  Fenomena Jemput Paksa Jenazah; Dampak Social Distrust Di Tengah Pandemi

Ketika melihat data seperti itu, pastinya miris. Melihat kondisi yang tak pernah berubah, yang ‘mandeg’ disitu saja, bahkan persentasenya bisa saja menaik sewaktu-waktu. Seperti tawuran, dikalangan pelajar STM. Mungkin, berawalan dari seseorang atau permasalahan pribadi dari masing-masing yang berbeda sekolah. Kemudian kerana beraninya banyakan, dan tidak bisa diselesaikan dengan bijak dari kedua belah pihak. Kekerasan (pertempuran) antar kelompok (sekolah) pun menjadi akhirnya. Itulah mengapa peranan orangtua, guru, dan teman dekat haruslah sinergitas, sepemikiran, yang menuju ke arah kebaikan, bukan keburukan.

Dan menurut saya, sampai kapanpun bullying takkan pernah berhenti, bila tidak ada kesepahaman (se-frekuensi), dan terlebih harus ada pihak ketiga yang berani membantu, melawan segala bentuk penindasan. Maka, yang menjadi korban pun harus mulai berani, membuka mulutnya, dan menceritakan yang selama ini terjadi terhadap dirinya. Entah itu kepada orangtua, guru, dosen, atau mungkin kepada teman yang dapat dipercaya. Juga sedapat mungkin menghindar, agar tak lagi menjadi sasaran. Mulailah belajar beladiri, bukan diniatkan untuk membalaskan dendam, melainkan menangkis bila terjadi lagi serangan. Bahkan bila perlu digunakan untuk membela kebenaran, menolong orang yang berada dalam zona perundungan.

Tuhan memang pada awalnya menciptakan manusia dalam kondisi lemah, namun sesudah keadaan lemah itu dikuatkan. Semuanya telah di sempurnakan, diberikan kelebihan dan kekurangan. Cuma kadangkala manusialah yang meremehkan jati dirinya, seharusnya mengacu kepada sabda Baginda Muhammad Saw. yang artinya, “Mukmin yang kuat lebih baik, daripada mukmin yang lemah”. Pun ketika kita berjiwa kuat, pastinya dicintai lebih oleh Allah Azza wa Jalla ketimbang yang lemah.

Namun, yang perlu diingat baik-baik, setiap perbuatan pasti ada timbal-baliknya. Ketika berbuatnya yang baik, pasti kebaikan itu akan datang kembali. Begitupun sebaliknya. Semoga kasus bullying ini menyedikit, bahkan lenyap dimuka bumi ini, sehingga setiap orang dapat bebas dari segala ancaman, dan hidup dengan aman dan damai. (*)

Penulis : Zidan Fathur Rahman (Mahasiswa di STIA Bandung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here