Foto: Muh. Khoirul Abduh, M.Si., pengamat sosial politik dan pembina Kajian Kebon Jambu, Jombang - Indonesia. (wok/pijarnews.id)

PIJARNews.ID – Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan nama-nama menteri Kabinet Indonesia Maju, Rabu (23/10). Sejumlah nama muncul sebagai kejutan. Salah satunya Muhadjir Effendy, yang oleh Jokowi didapuk sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).

Pasalnya, tokoh Muhammadiyah yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) 2016-2019 itu, tak hadir saat sejumlah calon menteri mendatangi Istana Presiden.

Kepastian Muhadjir kembali dipercaya Jokowi, ketika mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mendatangi Istana Presiden jelang pengumuman nama-nama menteri. Saat mendatangi istana, Muhadjir mengenakan batik, sama seperti calon menteri yang akan dikenalkan Jokowi.

Pengamat sosial politik yang juga pembina Kajian Kebon Jambu (KKJ) Jombang-Indonesia, Muhammad Khoirul Abduh mengatakan, penunjukan nama-nama menteri Kabinet Indonesia Maju memang banyak kejutan.

“Penunjukan Pak Muhadjir sebagai Menko PMK sebenarnya agak kurang tepat. Itu karena latar belakang dan pengalaman beliau di bidang pendidikan,” ujar pria yang akrab disapa Abduh ini pada pijarnews.id, beberapa saat setelah perkenalan menteri.

Menurut Abduh, Muhadjir seharusnya ditunjuk sebagai Mendikbud. Alasannya, Muhadjir paham problem dan solusi di bidang pendidikan. “Lebih tepat jika beliau menjadi Mendikbud Dikti,” jelasnya. Buktinya, dengan tangan dinginnya sebagai rektor, ia sukses menjadikan UMM sebagai perguruan tinggi swasta ternama.

Abduh juga menilai Muhadjir sebagai sosok yang kaya ide dan terobosan di dunia pendidikan. Apalagi ia dibesarkan di ormas Muhammadiyah, yang selama ini menjadikan pendidikan sebagai salah satu fokus dakwah.

BACA JUGA :  Pak Ipong, Bupati Penggerak Subuh Berjamaah

Meski begitu, Abduh mengapresiasi langkah Muhadjir yang legawa dengan jabatan sebagai Menko. Hal itu ia nilai sebagai bentuk kenegarawanan Muhadjir dalam merespons amanah presiden. Dimana, loyalitas dan pengabdiannya pada bangsa dan negara sebagai pertimbangan.

“Beliau tak hanya menunjukkan kapasitasnya sebagai seseorang yang berani mengambil peran. Namun juga pribadi yang siap menerima amanah, dalam situasi dan kondisi apapun,” jelasnya.

Seperti diketahui, nomenklatur kementerian yang baru, pendidikan tinggi (dikti) yang sebelumnya berada di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), dilebur dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud).

Mendikbud sendiri, oleh Jokowi dipercayakan pada eks pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim. Sementara, urusan Ristek kini berada dalam Kementerian Ristek dan Badan Riset Inovasi Nasional, yang dipercayakan pada Bambang Brodjonegoro.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengingatkan menterinya untuk tidak korupsi. Jokowi juga mengingatkan jika visi misi yang dijalankan kementerian bukanlah visi menteri, melainkan visi presiden dan wapres. Presiden juga meminta menterinya bekerja dengan cepat.

“Kita semua harus kerja cepat, kerja keras, produktif. Jangan terjebak rutinitas, kerja nyata,” ujarnya. “Terakhir, semua harus serius dalam bekerja. Yang enggak serius enggak sungguh-sungguh, bisa diganti di tengah jalan,” imbuh Jokowi kemudian. (wok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here