Peran Muhammadiyah dalam Arus Digitalisasi Global

0
545
Penulis : Royce Diana Sari, S.H. (Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

Digitalisasi pada masa dewasa ini sudah mempengaruhi pola hidup dan pola perkembangan jaman. Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini menuntut Muhammadiyah bersikap inklusif. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan seluruh masyarakat terutama warga Muhammadiyah dalam hal literasi digital. Hal itu penting agar sumber daya manusia yang ada, memahami, mengakses, memproduksi, dan merespons segala informasi dalan konteks dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Muhammadiyah lahir dari pemikiran pembaruan K.H. Ahmad Dahlan. Ketika beliau menunaikan ibadah haji, beliau tinggal dan bermukim di Mekkah untuk berguru pada ulama-ulama Indonesia yang ada di sana. Sepulang dari Mekkah, Kyai Ahmad Dahlan melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik.

Kyai Haji Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Alquran dan Hadits, ia lantas memanfaatkan aktivitasnya sebagai pedagang untuk berdakwah ke lapisan masyarakat terbawah. Sehingga dalam waktu singkat, ajarannya menyebar ke luar kampung Kauman, bahkan sampai ke luar daerah dan luar pulau Jawa.

Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M. Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah, selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Ahmad Dahlan, juga untuk mewadahi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikannya pada 1 Desember 1911.

Organisasi ini mengajukan pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912, dengan mengirim Statuten Muhammadiyah atau Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama pada tahun 1912. Kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914.

Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendirinya. Hal itu tertuang dalam visi misi Muhammadiyah.

Visi Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Alquran dan As-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya. Serta senantiasa istiqamah dan aktif dalam melaksanakan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar di segala bidang. Sehingga menjadikan rahmatan lil ‘alamin bagi umat, bangsa, dan dunia menuju terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhoi Allah SWT.

Sedangkan misi Muhammadiyah ada empat. Pertama, menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah yang disyariatkan sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad SAW. Lalu yang kedua, memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat duniawi.

Ketiga, menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada Alquran sebagai kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia sebagai penjelasannya. Dan yang keempat, mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Literasi Digital

Dikutip dari buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021) karya Devri Suherdi, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya. Kecakapan pengguna dalam literasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat, tepat sesuai kegunaannya.

Sedangkan menurut Yudha Pradana dalam Atribusi Kewargaan Digital dalam Literasi Digital (2018), literasi digital memiliki empat prinsip dasar. Pertama, pemahaman yang artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan media, baik secara implisit ataupun eksplisit. Kedua saling ketergantungan, yang artinya antara media yang satu dengan lainnya saling bergantung dan berhubungan. Media yang ada harus saling berdampingan serta melengkapi antara satu sama lain.

BACA JUGA :  Menko PMK Muhadjir Effendy Apresiasi Sumbangsih Muhammadiyah Kota Probolinggo

Ketiga, faktor sosial yang artinya media saling berbagi pesan atau informasi kepada masayrakat. Karena keberhasilan jangka panjang media ditentukan oleh pembagi serta penerima informasi. Dan keempat, kurasi, yang artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, serta menyimpan informasi untuk dibaca di lain hari. Kurasi juga termasuk kemampuan bekerja sama untuk mencari, mengumpulkan serta mengorganisasi informasi yang dinilai berguna.

Respons Muhammadiyah dalam Arus Digitalisasi

Bagaimana sikap Muhammadiyah dengan pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi pada era dewasa ini? Sesuai watak tajdid yang dimiliki, Muhammadiyah dituntut untuk bersikap inklusif terhadap hadirnya masa digitalisasi. Muhammadiyah harus mampu menerima dan menyesuaikan diri, termasuk didalamnya berbagai macam keberagaman, perbedaan penafsiran, bahkan akibat hukum dari segala sesuatu yang berubah menjadi digital.

Sebagai contoh maraknya belanja atau jual beli online. Bagaimana Muhammadiyah bersikap? Jual beli adalah kegiatan bertemunya penjual dan pembeli, sehingga barang berpindah dari penjual kepada pembeli. Namun sekarang bergeser menjadi tidak saja hanya bertemu secara tatap muka, tapi cukup melalui media online.

Drs. Muhsin Hariyanto M.Ag, Dosen Ekonomi dan Perbankan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dalam kuliah Ramadan pada 24 Mei 2018 lalu mengatakan, berbisnis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran agama Islam. Hal itu seperti yang diajarkan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 275. Namun dengan catatan, selama dilakukan dengan benar sesuai tuntunan Islam.

Beberapa hal yang wajib dipastikan dalam transaksi online adalah barang harus jelas dan pasti ada, harga pasti dan wajar, komitmen penjual dan pembeli, tidak ada yang dirugikan atas jual beli tersebut, dan tentu tidak melanggar syariat Islam. Maka warga Muhammadiyah wajib memilih dan memilah ketika melakukan transaksi secara online.

Semangat amar ma’ruf dan nahi munkar wajib dipegang teguh oleh Muhammadiyah, apalagi di masa pandemi ini. Seperti kata almarhum K.H. Nadjib Hamid, Wakil Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa timur dalam kajian milad Muhammadiyah ke 108 di Kota Pasuruan.

“Era pandemi, memberi fitnah terhadap kita tentang beberapa hal. Salah satunya adalah bahwa selama ini pemahaman keagamaan warga Muhammadiyah khususnya, dan umat Islam pada umumnya, adalah paham keagamaan yang bersifat normal dalam situasi normal,” katanya.

Maka situasi yang tidak normal dan berubah hampir 360 derajat ini, warga Muhammadiyah tidak boleh gagap dalam menerapkan kaidah agama secara normal di masa berubahnya digitalisasi yang dipicu oleh pandemi. Muhammadiyah harus mengambil peran sebagai aktor sosial dalam menginisiasi berbagai bentuk usaha, baik itu finansial, material, maupun sosial.

Hal itu penting agar semangat inklusivitas sosial di era literasi digital, mencapai build forward better. Perkembangan Muhammadiyah semakin hari semakin baik, karena selalu haus akan semangat tajdid dan fastabiqul khairat. Sesuai satu bait dalam theme song Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke 48, “Muhammadiyah teguhkan asa, majukan umat, jayakan bangsa”.

Penulis : Royce Diana Sari, S.H. (Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here