Kepemimpinan Profetik dalam Teori dan Aksi

0
1262
Penulis : Hadi Prasetyo (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan arah dan tujuan yang akan dicapai oleh suatu instansi atau organisasi. Secara umum, kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam kelompok. Kepemimpinan berarti melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau karyawan yang akan dipimpin. Kepemimpinan juga melibatkan pembagian kekuasaan. Atau dengan kata lain, kepemimpinan ialah kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannya.

Pada Lembaga Pendidikan Islam, setiap pemimpin berpijak pada konsep kepemimpinan yang relevan dengan ajaran Islam. Dalam ajaran Islam, teladan dalam memimpin adalah kepemimpinan Nabi (prophetic). Keberhasilan kepemimpinan telah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah orang yang paling berhasil dan berpengaruh sepanjang masa. Kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam memimpin tidak terlepas dari 4 (empat) sifat yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah.

Shiddiq memiliki arti jujur atau bisa di artikan transparan. Transparan dalam setiap kebijakan, serta sesuai dengan tindakan untuk mencapai tujuan yang mulia. Jujur merupakan sifat yang berasal dari pribadi seseorang, sifat tersebut merupakan pondasi untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, selain itu sifat tersebut dapat membangun sebuah komunikasi yang baik dengan orang lain. Seorang pemimpin harus terbuka, dan keterbukaan ini harus diawali dari dirinya sendiri atau kepribadiannya, hal itu merupakan point terpenting. Menjadi pribadi yang transparan akan memberikan kepercayaan kepada orang lain, khususnya kepada anggota tim terlebih kepada klien.

Pemimpin yang transparan dapat membuat segala sesuatu menjadi nampak jelas, dan semua anggota tim dapat menilai kinerja seorang pemimpinnya. Amanah disebut juga dengan istilah trust atau tanggung jawab. Seorang pemimpin harus bersifat amanah, karena tanggung jawab yang diberikan kepadanya lebih besar daripada yang lainnya. Melalui sifat amanah, maka penyalahgunaan jabatan dan wewenang dapat dihindari. Pemimpin memiliki tugas, kewenangan, hak dan kewajiban yang dapat dipertanggungjawabkan menyeluruh atas segala dan semua dalam kepemimpinannya. Pertanggungjawaban kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin menjelaskan, bahwa ia sepenuhnya bertanggung jawab atas jatuh bangunnya institusi yang dipercayakan kepadanya. Dalam kaitan ini, keberhasilan ataupun kegagalan kepemimpinan tergantung dan bergantung sepenuhnya pada sang pemimpin.

Tabligh artinya menyampaikan (komunikatif). Setiap pemimpin yang memiliki sifat tabligh akan mampu mengkomunikasikan anggota yang dipimpinnya untuk melakukan sesuatu yang benar sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Komunikasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam menjalankan proses administrasi dan interaksi antar elemen pada suatu organisasi atau lembaga, baik internal maupun eksternal. Tanpa adanya jalinan komunikasi yang baik dan benar, besar kemungkinan semua proses di dalam organisasi atau lembaga tersebut tidak akan dapat berjalan dengan maksimal sesuai dengan yang telah direncanakan. Kemampuan komunikasi yang baik akan sangat membantu semua proses yang ada dalam suatu organisasi atau lembaga.

Fathanah adalah cerdas (kompeten) atau dapat pula diartikan visioner, yaitu pemimpin memiliki visi dan misi ke masa depan, melihat dan memanfaatkan secara cepat dan tepat peluang yang ada serta memahami problematikanya. Pemimpin yang fathanah atau cerdas akan dapat melihat peluang-peluang yang mungkin diambil guna meraih visi, misi, tujuan bersama dalam kepemimpinannya. Sehingga apa yang menjadi tujuan dapat tercapai sesuai harapan dan sasaran. Kepemimpinan visioner, artinya kemampuan pemimpin dalam menciptakan, merumuskan, mengomunikasikan, mensosialisasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya sebagai hasil interaksi sosial di antara anggota organisasi lainnya.

BACA JUGA :  Guru, Corona, UU Omnibus Law dan Pilkada

Orang dengan gaya kepemimpinan ini akan selalu melihat apa saja potensi perusahaan atau organisasi yang tidak dilihat oleh orang lain. Setelah melihat potensi tersebut, ia akan menciptakan ide-ide yang memungkinkan perusahaan dapat bersaing dengan kompetitor. Dari hal-hal tersebut, ia diyakini dapat meraih cita-cita organisasi di masa depan. Sebagai seorang pemimpin, selain harus mempunyai sifat kepemimpinan profetik, ia juga harus mampu mempunyai karakter atau attitude yang baik sehingga menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Segala tindak-tanduk pemimpin akan menjadi penilaian bagi anggotanya, baik itu tindakannya sebagai pemimpin suatu lembaga atau sebagai masyarakat biasa, termasuk dalam ranah sosial-kemasyarakatan.

Ada satu hal penting yang cukup menarik mengenai konsep kepemimpinan yang saya temukan di tempat saya bekerja, bahwa kepemimpinan itu merupakan suatu karakter yang melekat pada diri seseorang yang mana salah satunya adalah bahwa seorang pemimpin harus menjadi teladan bagi orang lain atau bagi masyarakat yang dipimpinnya. Layaknya posisi seorang ibu dan ayah bagi anak dalam lingkungan keluarga, maka seorang pemimpin juga seolah menjadi orang tua bagi masyarakat yang dipimpinnya, masyarakat tersebut pada akhirnya akan mencontoh apa yang dilakukan oleh pemimpin.

Jika seorang pemimpin sudah mampu menjadi teladan bagi anggotanya dalam berbagai hal, maka diharapkan bahwa anggota yang dipimpinnya juga akan mengikuti sikap dari pemimpinnya sehingga anggota akan lebih simpati terhadap pemimpinnya. Hal ini bisa berdampak luas, karena selain membangun anggota yang baik, juga akan meningkatkan efektifitas kinerja organisasi. Selain itu, ketika seorang pemimpin menjadi contoh baik bagi anggotanya. Maka stakeholder akan lebih antusias dalam mengikuti instruksi dan ajakan dari pemimpin, termasuk dalam melaksanakan setiap program kerja yang memang memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat.

Setiap pemimpin yang memiliki sifat shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah dapat menjadi teladan ideal para anggota atau pengikutnya. Dengan demikian, secara teoritis dan praktis kepemimpinan profetik adalah kemampuan yang mencerminkan konsistensi. Konsistensi antara keyakinan semangat beragama yang memanusiakan manusia, membebaskan, dan menghadirkan dimensi ilahiah yang padu. Padu antara tutur dengan laku, sejalan antara perkataan dengan perbuatan. (*)

Penulis : Hadi Prasetyo (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here