Umat Islam dan Informasi di Era Post Truth

0
691
Nu'man Iskandar. (RDS/PIJARNews.ID)

Kita, umat Islam, seringkali emosional dalam menanggapi sebuah berita. Khususnya pada berita-berita yang tidak sesuai dengan kehendak (diri sendiri). Pada berita itu, tanggapan emosinya lebih dominan dibanding dengan isi atau nilai berita itu.

Contoh misalnya soal vaksin, berseliweran di dinding media kita bahwa vaksin itu ada chipsnya, kemudian itu digunakan oleh orang-orang yang tidak suka Islam dan ingin menghancurkan Islam. Intinya, dalam berita-berita itu disampaikan bahwa vaksin dibuat oleh orang kafir untuk menghancurkan Islam.

Membaca berita-berita itu, banyak yang kemudian ikut beramai-ramai menyebarkan berita soal vaksin yang jelas-jelas berita bohong tersebut. Namun, karena perasaan merasa cocok dengan berita itu, banyak diantara kita yang ikut menyebarkannya.

Karena emosional, logika kita menjadi mati. Ilmu pengetahuan tidak dipakai lagi. Bahkan, ajaran agama sering dilupakan. Kita ikut menyebar bukan karena benar atau salah lagi, tapi berdasar suka atau tidak suka atas berita itu. Padahal kita, umat Islam, diwajibkan untuk cermat dan teliti terhadap segala informasi. Ajaran ini sering kita lupakan dalam berislam.

Bagaimana kita melakukan konfirmasi sebuah berita apakah berita itu benar atau tidak? Adalah ilmu pengetahuan. Karena dengan menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan, kita bisa menilainya. Ilmu pengetahuan lahir didasarkan pada hukum-hukum alam yang jika ada kesalahan, pasti akan bisa dikoreksi. Bisa dikoreksi berdasarkan logika manusia, bisa juga dikoreksi dengan ajaran agama.

BACA JUGA :  Membincang Revitalisasi dan Ortodoksi Manhaj Muhammadiyah

Rasa, satu hal ini memang penting. Tapi rasa bisa juga salah. Sebagai contoh, pernah kita merasa sholat sudah menghadap ke barat yang dekat ke arah kiblat, tapi nyatanya kita bisa sholat ke arah lain. Padahal perasaan kita sudah merasa benar pada arah sholat kita tersebut.

Jadilah, berita hoax dan bohong itu menyebar begitu cepat. Dan karena emosionalnya se-frekuensi, akhirnya kita menganggap itu sebagai sebuah berita yang benar bersama-sama. Dalam banyak hal, kita sebenarnya baru mendapatkan setengah atau sebagian beritanya, tapi kita sudah memberikan kesimpulannya utuh.

Apalagi kita mendapatkan berita tersebut dari orang yang kita suka, orang yang tidak mungkin berbohong kepada kita. Padahal logikanya adalah, orang tersebut mungkin saja tidak mungkin berbohong kepada kita. Tapi karena berita yang disampaikannya bersumber dari pihak lain, belum tentu bukan berita bohong.

Inilah informasi era post truth. Seringkali kita mempercayai informasi berita, bukan lagi dari menyaring kebenaran berita itu sebelum mencernanya. Tetapi lebih sering mempercayainya karena sesuai dengan kehendak perasaan kita. Ini ironi, ironi bagi umat Islam. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here