Foto: Museum Rumah HOS. Tjokroaminoto di Surabaya. (rizaldy/pijarnews.id)

SURABAYA – Sebagai Kota Pahlawan sudah tidak asing di telinga kita jika Surabaya dikenang atas kisah yang heroik “Arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tapi mungkin tidak banyak dari kita yang mengetahui, jika di Surabaya juga telah tercetak para tokoh besar yang berpengaruh atas sejarah kemerdekaan Indonesia.

Dari sebuah kamar kost kecil yang terletak di Jl. Peneleh Gg. VII Kota Surabaya, rumah milik HOS. Tjokroaminoto telah menjadi rumah yang legendaris, karena disitulah tercetak para pemuda yang nantinya menjadi tokoh kemerdekaan Indonesia, tumbuh dengan semangat ideologinya masing-masing. Menjadi seorang Soekarno yang cenderung Nasionalis, menjadi Musso yang cenderung Komunis dan Kartosoewiryo yang cenderung Islamis.

Kini rumah tersebut telah resmi menjadi Museum pada 27 November 2017 kemarin, namun sebenarnya sudah mulai dibuka sejak Tahun 2010 silam. Yanuar selaku Pemandu Museum menjelaskan, “Di Museum ini telah disajikan cerita sejarah tentang para tokoh kemerdekaan Indonesia, ada Pak Tjokro, ada juga tentang Serikat Islam dan para tokoh lainnya yang dulu pernah kost disini,” jelasnya.

Oleh sebab itu ketika kita berkunjung disana, pada dinding ruang tamu telah tertempel foto para tokoh kemerdekaan Indonesia, seperti Tan Malaka sebagai pencetus konsep Republik Indonesia, lalu ada KH Ahmad Dahlan tokoh pembaharu Islam, KH Agus Salim seorang diplomat ulung pada masa Kabinet Sjahrir dan para tokoh-tokoh lainnya.

Selain itu disana juga disajikan tulisan kisah sejarah, disusun oleh tim Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang juga ditempel pada dinding rumah tersebut. Lalu jika kita naik ke lantai atas tepatnya di loteng rumah, kita akan mengetahui kamar kost yang sederhana, beralaskan tikar, serasa pengap, tidak ada jendela dan terlihat begitu sempit, namun disitukah para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia terbentuk.

BACA JUGA :  Pesmatu ala SDM Dubes
Foto: Kamar kost Soekarno dan kawan-kawan yang terlihat kecil dan sederhana.

Pria pemandu dari Dinas Pariwisata ini juga menjelaskan, karena realita hari ini anak muda yang tertarik dengan sejarah memang tidak banyak, jadi di tempat ini tidak bisa hanya “jualan sejarah”, katanya.

“Oleh sebab itu untuk menarik perhatian anak muda, salah satunya dengan mendekorasi ulang agar lebih menarik bagi para pemburu foto. Sehingga ketika mereka sudah datang, sedikit banyak pastinya juga akan membaca dan belajar tentang sejarah.” Ujar Yanuar.

Jas Merah yang berarti jangan sekali-kali lupakan sejarah, memang benar jika kita mau belajar dari sejarah, bukan hanya cerita masa lalu yang akan kita dapat. Tapi juga akan banyak memberi manfaat dari pola perjalanan sejarah masa lalu, dan jika pola-pola tersebut kembali terjadi pada masa kini, kita bisa menyikapinya dengan baik dan tepat.

Oleh sebab itu rasanya tidak lengkap jika berada di Kota Surabaya, kita belum pernah berkunjung ke rumah kost bersejarah ini, yang saat ini telah menjadi Museum dan dibuka setiap hari Selasa – Minggu, pukul 09:00-17:00 WIB.[*]

Reporter: Rizaldy*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here