Dakwah Digital Muhammadiyah

0
275
Dr. Sholikh Al Huda

Perkembangan dakwah Muhammadiyah menunjukkan tren positif di era revolusi industri 4.0 (era disrupsi). Pola dakwah Muhammadiyah terus beradaptasi dengan perubahan masyarakat yang sedang memasuki era disrupsi.

Era disrupsi merupakan era dimana teknologi informasi dengan basis internet sebagai media katalisator perubahan yang serba cepat dan masif, sehingga sering menjadikan kegoncangan “shock culture” di masyarakat.

Pola perubahan masyarakat di atas (serba teknologi informasi), menjadikan pola baru dalam relasi sosial, budaya, dan keagamaan. Termasuk dalam komunikasi dakwah di masyarakat, yang serba digital berbasis internet.

Pola sosialisasi dan komunikasi yang serba digital di masyarakat juga menyasar pada pola komunikasi dakwah keagamaan, termasuk yang terjadi di Muhammadiyah. Dimana dakwah digital telah menjadi tren dan pola baru dalam perkembangan dakwah Muhammadiyah.

Pola dakwah digital ini merupakan bagian dari perkembangan dari pola dakwah konvensional Muhammadiyah, yang lebih menekankan ketemu langsung jama’ah secara masif seperti pengajian, majelis taklim dan sebagainya. Berkembang pada pola dakwah digital Muhammadiyah, yaitu pola komunikasi dakwah yang mengajarkan ajaran Islam ‘mazhab Muhammadiyah’ disampaikan melalui media teknologi informasi berbasis internet atau media sosial (medsos).

Pola dakwah digital Muhammadiyah di era teknologi informasi menunjukkan tren dan perkembangan positif. Perkembangan tersebut terpotret pada 2 indikator sebagai temuan riset. Yang pertama, situs dakwah digital di komunitas Muhammadiyah mulai tumbuh subur. Seperti situs digital yang resmi dibuat oleh Persyarikatan: muhammadiyah.or.id, pwmu.co, suaramuhammadiyah.id, klikmu.co, suaraaisyyah.co, tarjih.or.id, khittah.co, IMM.or.id dan sebagainya.

Adapula situs dakwah digital yang dibuat oleh komunitas yang secara ideologi dan agenda dakwah ketemu dengan Muhammadiyah, mereka ini adalah mantan aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), seperti: ib.times.id, insid.id, rahma.id, jibpost.id, madrasahdigital.co, genital.id, pucukmerah.id, santrishabran.net dan sebagainya.

BACA JUGA :  PDPM Bojonegoro Bersinergi dengan EMCL, SKK Migas dalam Program Patra Daya

Lalu yang kedua adalah narasi ideologi dakwah digital Muhammadiyah, mengusung dua ideologi yakni narasi ideologi moderasi Islam berkemajuan. Narasi ini merupakan komitmen Muhammadiyah untuk menghadirkan dan menyebarkan karakter Islam yang damai, toleran dan rahmatalilalamin. Sebuah model Islam tengahan yang mengedepankan pola Keislaman yang tasamuh, tawazun, ta’dul, tawasuth.

Kemudian narasi ideologi jurnalisme sehat. Narasi ini merupakan komitmen dakwah digital Muhammadiyah menghadirkan iklim jurnalisme yang bebas, bener, dan bertanggungjawab yang berbasis nilai-nilai Islam serta kemanusiaan. Sebagai bagian dari melawan jurnalisme rendah yang penuh dengan narasi diskriminasi, intoleransi, radikalisme, pornografi dan hoax. Dimana saat ini sedang membanjiri ruang digital publik di masyarakat.

*Tulisan diatas adalah hasil riset yang merupakan bagian dari program Hibah RISETMU Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah tahun 2021. Riset ini dilakukan tim riset, dengan Ketua Tim Riset Dr. Sholikhul Huda, M.Fil.I (Dosen Prodi Studi Agama-Agama FAI dan Sekretaris Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya), dengan anggota tim Maulana Mas’udi LC, M.Pd.I (Dosen Prodi Studi Agama-Agama lukisan Al Azhar University) selama 8 bulan. Dengan judul “Dakwah Digital: Perkembangan Pola Komunikasi Dakwah Muhammadiyah Pada Jejaring Sindikasi MEDIAMU Era Revolusi Industri 4.0”.

Hasil riset ini juga pernah di presentasikan pada acara The 4th Annual Conference for Muslim Scholars (AnCoMS), yang diselenggarakan oleh Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais) Wilayah IV, pada tanggal 26-27 Februari 2022 di Surabaya yang diikuti sekitar 200 Sarjana Muslim dari berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) seluruh Indonesia yang dihadiri oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Staquf, Alisa Wahid (Gusdurian), serta Prof Zainul Hamdi (Guru Besar UINSunan Ampel Surabaya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here