Stok Minyak Goreng di Malang Sulit, Harga Meroket

0
165
Foto: Pedagang Pasar Kepanjen mengaku kesulitan mendapatkan stok minyak goreng kemasan dan minyak goreng curah yang langka serta harga meroket.

MALANG, PIJARNEWS.ID – Sengkarut kebijakan subsidi minyak goreng yang dicabut untuk harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng kemasan dikeluhkan. Kebijakan itu dinilai belum menyelesaikan masalah. Melonjaknya harga minyak goreng (Migor) dan kecenderungan kelangkaan stok masih terjadi di Kabupaten Malang.

Sejumlah pengusaha yang bergantung keberadaan minyak goreng menjerit. Pantauan di Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang, minyak goreng cenderung mengalami kelangkaan. Utamanya pada minyak goreng curah. Sementara untuk minyak goreng kemasan sederhana dan premium stoknya terbatas, harga yang tinggi juga dikeluhkan masyarakat.

Saiful, salah satu pedagang sembako di Pasar Kepanjen mengaku sudah tidak menjual minyak goreng. Sejak kemarin ia memesan stok pada pemasok, ia tak mendapatkannya.

“Saya sudah pesan enam karton, tapi tidak dikirim oleh distributor,” ungkap Saiful saat ditemui, Rabu (23/3).

Pria yang sudah 40 tahun berjualan di Pasar Kepanjen itu menyebut, harga minyak goreng saat ini Rp 24 ribu hingga Rp. 30 ribu per liter untuk jenis minyak goreng kemasan. Sementara ia mengaku kesulitan mencari stok untuk minyak goreng curah.

“Minyak goreng curah langka, mayoritas pedagang di sini juga tidak menjual, karena sudah tidak ada,” jelasnya.

Senada dengan Saiful, Mustofa pedagang sembako lain juga menyampaikan persoalan kelangkaan. Stok minyak goreng yang ia jual saat ini hanya dua karton. Hal itu karena distributor membatasi jatah tokonya.

“Kami menjual ke konsumen seharga Rp 24 ribu per liter. Itu pun untuk merk yang murah. Sesuai ketentuan distributor kami,” ujarnya.

BACA JUGA :  HMPG Minta Pemerintah Kaji Ulang Kebijakan Impor Garam

Keterbatasan stok rupanya juga terjadi di sejumlah ritel modern. Salah satunya di Genengan Pakisaji. Stok dalam dua hari terakhir habis belum ada kiriman tersedia dari distributor. “Banyak pelanggan komplain atau protes karena minyak sulir ditemui. Padahal masih mau beli meskipun harga tinggi,” ujar Meidalila, salah satu pegawai Alfamart di Genengan Pakisaji.

Untuk harga, wanita yang disapa Mei ini mengatakan dijual dengan harga Rp 48 ribu per dua liter. Hal itu terjadi rata-rata pada kemasan premium dengan selisih tak jauh beda.

“Harganya sekarang tergantung merk, sudah naik, stoknya per hari tergantung datangnya dari distributor. Sejak kemarin sore kosong sama sekali,” ungkapnya.

Menanggapi permasalahan ini, Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Agung Purwanto mengatakan, bahwa pihaknya mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah pusat. Masih ada penyesuaian harga di pasaran paska subsidi dicabut.

“Kita di daerah pasti akan mendukung kebijakan Pemerintah Pusat, terkait HET hanya untuk migor curah sebesar Rp 14 ribu per liter / Rp 15 ribu per kilo,” ungkapnya.

Agung mengakui mulai ada kesulitan stok di pasar tradisional.

“Hasil pantauan sementara migor kemasan di toko modern tersedia cukup dengan harga sesuai mekanisme pasar, sedangkan untuk migor curah belum sepenuhnya tersedia karena masih penyesuaian kebijakan baru,” pungkasnya. (Tyo/Hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here