Ngaji Pasan, Tradisi Pesantren dalam Membentuk Karakter di Bulan Ramadan

1
243
Penulis : Mohammad Lathiful Wahab (Maha Santri Mahad Aly Al-Hasaniyyah)

Memasuki zaman yang serba modern, tentu menjadi tantangan besar bagi muslim milenial. Khususnya di kalangan generasi muda yang menjadi agen perubahan, baik di masa kini maupun masa depan. Banyak dari generasi muda yang terbuai memasuki “dunia hitam”, untuk memuaskan hawa nafsunnya. Salah satu bukti yang bisa dihadirkan yakni, minimnya remaja yang berambisi untuk  beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala baik di masjid, mushola, atau surau.

Dalam konteks dunia modern hari ini, terdapat faktor kunci yang turut berperan dalam menurunkan mentalitas dan integritas muslim milenial, yakni “kesalahan” dalam mengunakan fasilitas yang serba digital. Fasilitas yang seharusnya sebagai media belajar, dakwah, dan mengembangkan peradaban bangsa, berbalik menjadi sebuah virus. Akibatnya, ruang digital telah membentuk mindset muslim dalam mengejar duniawi dan mengalahkan ruang ukhrowi

Bahkan muslim milenial yang seharusnya menjadi subyek di ruang digital, justru dalam beberapa kesempatan menjadi obyek-pasif. Hal ini merupakan fakta yang miris dan jauh dari idealisme seorang muslim. Memang perlu dicatat, selama problem krisis identitas muslim belum terselesaikan, maka nilai-nilai yang senafas dengan prinsip-prinsip agama tidak akan berjalan sesuai harapan. Problem kekinian inilah yang menjadi sorotan menarik untuk ditindak lanjuti. Tentu saja menyelesaikan problem secara spontan akan sulit, tetapi bisa menghadirkan beberapa opsi yang lebih mudah.

Tawaran ini substansinnya ialah mengajak muslim untuk mengisi waktu dengan sebaik mungkin. Pada elemen paling dasar, mengaji merupakan pilihan tepat dalam mengisi waktu, sebab akan memberikan dampak yang signifikan pada muslim millenial. Misalnya, pengetahuan agama dan etika semakin baik. Terlebih, aktivitas mengaji yang dilaksanakan di bulan Ramadan.

Berawal dari sinilah, penulis hendak mengajak muslim milenial untuk mengisi waktu Ramadan dengan mengaji. Dalam istilah pesantren, mengaji yang dilaksanakan di bulan suci Ramadan dikenal dengan ‘ngaji pasan’. Sebuah aktivitas pengajian dengan kitab khusus, yang dilaksanakan secara khusus selama bulan ramadan. Disamping itu juga sebagai stimulus muslim millenial supaya giat belajar dan beribadah di bulan suci.

Dimensi Ramadan dan Ngaji Pasan

Bulan Ramadan merupakan medan dalam mencari pahala dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Pada bulan ini, Allah swt menurunkan rahmat dan ampunan kepada hamba-Nya. Masyarakat muslim dunia pasti berpuasa dan memperbanyak amal yang bernuansa positif sebagai bentuk ibadah di bulan suci. Mulai dari memperbanyak dzikir, baca Al-Qur’an, dan memperbanyak sholawat di bulan Ramadan. Dalam hal ini, tentu membutuhkan usaha (riyadhoh) yang istiqomah sebagai bentuk ibadah yang rutin.

Mengetengahkan ibadah yang tepat dalam mengisi bulan Ramadan, tentu mengaji adalah pilihannya. Dalam artian, mengaji tidak hanya memberikan semangat ibadah pada muslim milenial, tetapi juga memberikan ilmu yang berlimpah. Aktivitas inilah yang menjadikan muslim milenial mampu memanfaatkan bulan suci Ramadan sebagai ajang ibadah dan mencari ilmu. Senyatannya, puasa akan  lebih terasa nikmat dengan  aktivitas mengaji. Buktinya, muslim milenial akan menyelami ajaran agama dengan baik dan penuh makna.

Sekali lagi, istilah mengaji dalam khazanah pesantren yang dinamakan sebagai ngaji pasan, punya dampak positif dan keberkahan yang luar biasa. Tak hanya mendapatkan setetes pengetahuan, akan tetapi samudera pengetahuan akan didapatkan. Mulai dari kelengkapan ma’na kitab dan mendapatkan pendidikan karakter. Inilah yang menjadi kekayaan pesantren dan sulit ditemukan di tempat lain.

BACA JUGA :  Hijrahku Keren: Dari Republik Menuju Khilafah

Dari dua unsur diatas tentu menjadi pandangan umum, bahwa posisi pesantren sangatlah berperan penting bagi muslim milenial. Selain manfaat di atas, ngaji pasan juga memberikan puncak keemasan yang tak dapat diperoleh di lembaga lain. Dalam istilah pesantren biasa disebut dengan transmisi sanad. Artinya, sebuah jaminan yang menjadikan hubungan kuat antara guru dan murid dalam menjaga kualitas  keilmuan. Mulai dari satu guru ke guru lain, hingga sampai pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Contohnya, seorang santri belajar satu kitab kepada gurunya, lalu gurunya belajar kepada gurunya dan seterusnya hingga sampai kepada Rasulullah SAW. Perlu diketahui, sanad menjadi hal penting sebagai garansi, bahwa ilmu yang diperoleh bisa terjaga dan terpercaya hingga generasi mendatang. Sanad keilmuan ini bisa diperoleh melalui aktivitas pengajian dengan model guru membaca murid mendengarkan (talaqqi wa musyafahah) atau murid membaca guru menyimak (sorogan). Model inilah yang menjadi mekanisme masyarakat pesantren, dalam menjaga otentisitas keilmuan. Faktor utama yang mendorong pesantren untuk selalu menjaga sanad adalah melestarikan kualitas keilmuan hingga tersambung pada Rosulullah SAW.

Karakter Islam: Keilmuan Utuh dan Sikap Rahmat

Menilik narasi diatas, tentu transmisi sanad merupakan hal yang urgen dalam dunia keilmuan. Sekaligus sebagai rambu-rambu kualitas dan bobot  pengetahuan yang didapat. Transmisi sanad substansinya memberikan dampak yang positif  bagi muslim milenial dalam penguatan karakter. Senyatannya, transmisi sanad meneguhkan muslim milenial untuk tidak mendapatkan ilmu secara instan. Sebab, ketika muslim millenial mendapatkan ilmu secara instan tanpa proses transmisi sanad, maka akan mudah terjerumus pada tindakan amoral.

Dorongan inilah yang menjadi motivasi pesantren untuk selalu menjaga budaya transmisi sanad dalam menjalankan aktivitas pendidikan dan pengajaran. Selain manfaat di atas, tentu secara praktis, transmisi sanad akan menambah keilmuan yang detail bagi muslim millenial. Segala kebutuhan yang sekirannya kurang dalam dunia pendidikan, pasti akan tercukupi. Hal ini menjadi bukti kuat, bahwa menyelami ilmu tak akan ada habisnya.

Imam Syafii, sebagaimana disitir Al-Ghozali dalam ihya’ ulumuddin (2001:9) menuturkan, termasuk dari kemuliaan seorang yang berilmu adalah mempunyai kelebihan yang dapat membuatnya terhormat, walaupun pada perihal yang sepele. Konsep semacam ini tentu benar dan menjadi aturan  dalam dunia pendidikan. Terlebih, konsep ilmu yang dibangun disertai etika yang baik sebagai penopang dimensi intelektual seseorang.

Tentu kedua kompenen ini, (baca: etika dan ilmu) telah mengakar dan menjadi ciri khas di pesantren. Oleh sebab itu, muslim millenial akan memperoleh keduannya secara totalitas, ketika mengikuti ngaji pasan dengan sungguh-sungguh. Melalui ngaji pasan ini, muslim millenial menjadikan bulan ramadan sebagai ajang melestarikan tradisi ulama salaf yang berbanding lurus dengan moderasi Islam. Hal tersebut penting, sebagai komitmen mewujudkan muslim dengan kecakapan intelektual, sekaligus meneguhkan narasi moderat. Mengingat akhir-akhir ini terdapat eskalasi kekerasan atas nama Islam. Ngaji pasan menjadi alternatif merealisasikan hal tersebut. (*)

Penulis : Mohammad Lathiful Wahab (Maha Santri Mahad Aly Al-Hasaniyyah)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here