Digitalisasi Spiritual, Dampak dari Bulan Ramadan

0
354
Abdul Ghofir, S.Ag, Sekretaris Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Cabang Tuban

Setelah sebulan penuh menjalankan perintah ibadah puasa Ramadan, terasa ada gairah dan rasa yang berbeda dalam beragama, ada sebuah rasa damai, tenang, dan bersamaan dengan itu muncul gairah beribadah yang lebih daripada bulan-bulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan konsep Alquran yang tertulis didalam Surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya:

“Wahai orang orang yang beriman di wajibkan bagi kamu sekalian untuk berpuasa sebagai telah diwajibkan bagi umat-umat terdahulu sebelum kamu supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.”

Dari ayat tersebut diatas ada 3 komponen penting yang perlu kita perhatikan. Pertama, Allah mengawali surat itu dengan panggilan “wahai orang orang yang beriman” sebagai satu komponen penting yang berfungsi sebagai obyek dari sebuah proyek pelatihan yang tersebut dalam poin kedua yaitu ashiyam (puasa) di bulan Ramadan.

Ashiyam adalah komponen penting sebagai wadah pembelajaran dan pelatihan bagi orang-orang yang beriman, yang bertujuan agar tercipta sebagai mana poin ketiga, yaitu predikat taqwa. Atau dalam bahasa lain orang yang beriman, sebagai peserta pelatihan program puasa di bulan Ramadan yang mana output-nya adalah akan mendapatkan sertifikat sebagai orang yang bertaqwa yang akan bisa mengalami quantum leap (loncatan besar) dalam bidang spiritual digital.

Berbicara tentang digital, sungguh dunia kita ini telah mengalami quantum leap (loncatan besar) dibidang teknologi informasi dan komunikasi sejak di temukannya bilangan biner (bilangan 0 dan 1). Digital adalah kumpulan dari bilangan 0 dan 1, sedangkan digitalisasi menghasilkan akurasi dan kecepatan yang pada akhirnya menghasilkan percepatan yang sangat luar biasa.

Dan sungguh saat ini kita telah merasakan perubahan cepat tersebut, dulu kalau menghubungi sanak saudara kita yang jauh, kita hanya bisa mendengar suaranya. Kini dengan rekayasa digital yang luar biasa, kita bisa mendengar suara dan bisa saling memandang, baik lewat aplikasi video call maupun aplikasi Zoom. Dulu surat menyurat masih butuh tanda tangan dan cap stempel, sekarang cukup dengan surat elektronik dan tanda tangan digital.

Dulu ketika mau beli buku harus menyiapkan uang dan rak buku yang besar, tapi sekarang telah banyak buku-buku digital yang tidak banyak butuh uang dan rak besar. Begitulah perubahan cepat dunia informasi dan teknologi saat ini, sebagaimana diharapkan akan terjadi juga perubahan besar atau akan mengalami transformasi spiritual digital dalam setiap insan yang telah menjalankan pelatihan puasa Ramadan.

Oleh karena itu, kenapa dalam pelatihan puasa Ramadan yang dipanggil sebagai peserta pelatihan adalah orang-orang yang beriman? Bukan orang-orang yang munafik, bukan pula orang-orang yang Islamnya hanya Islam KTP. Ini semua dikarenakan orang-orang yang beriman telah terinstal di dalam hatinya bilangan binner, yaitu bilangan 0 dan 1. Didalam hati orang yang beriman telah tertanam kalimat thoyyibah la ila ha (tiada tuhan), yang dilambangkan dengan bilangan 0 adalah kalimat yang menegasikan segala kekuatan, menegasikan adanya Tuhan, menegaskan adanya Dzat yang berhak di sembah.

Menegaskan adanya Dzat yang bisa memberikan manfaat dan madhorat “Ila Allah” (kecuali Allah) yang dilambangkan dengan angka 1 yang mengakui Allah adalah satu-satunya yang punya kekuatan, Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak di sembah, Allah-lah satu-satunya Dzat yang bisa memberikan manfaat dan madhorot. Maka, bermodalkan kalimat thoyyibah inilah orang-orang yang beriman berproses untuk melakukan transformasi spiritual digital. Dan dengan bermodalkan kalimat inilah, mereka dengan rasa gembira dan bersungguh-sungguh menjalankan pelatihan puasa di bulan Ramadan.

Mereka menjalani puasa Ramadan sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari, meninggalkan segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa. Berusaha dengan sepenuh hati untuk tidak makan dan minum, berusaha sepenuh hati untuk tidak hubungan suami istri, berusaha sepenuh hati untuk menjaga hati, lisan dan pendengaran serta memperbanyak dzikir, sholat, dan bacaan Quran. Memperbanyak mengeluarkan zakat, infaq dan sedekah.

Kesungguhan inilah yang menghasilkan buah yang manis, yang mengantarkan pelakunya kepada keadaan  jiwa yang mengalami digitalisasi spiritual. Sebagaimana tergambar dalam surat Ibrahim yang artinya :

BACA JUGA :  Kredibilitas KPU Sedang Diuji

“Tahukah kamu, bagaimana Allah telah membuat permisalan kalimat thoyyibah (kalimat Tauhid), yaitu seperti pohon yang sangat baik, dimana akarnya mencengkeram jauh ke petala bumi. Sedangkan daun dan rantingnya rimbun menjulang tinggi ke angkasa, selalu berbuah setiap musim dengan kehendak Allah.” ( QS. Ibrahim: 24-25).

Maka sebagai tolak ukur keberhasilan proses transformasi spiritual digital ini, minimal tergambar dalam 3 keadaan, yakni adanya peningkatan iman dan ibadah. Tolak ukur pertama adalah peningkatan keimanan seorang hamba akan eksistensi Tuhan dan segala hal yang bersifat ghoib dengan keimanan yang haqqul yakin sebagaimana tertulis dengan indah dalam surat Al Baqarah ayat 3 dan 4.

Artinya mengimani dan benar-benar yakin bahwa Tuhan adalah Maha Segalanya dan dengan segala sifat yang ada pada Allah. Mengimani adanya malaikat dengan segala macam tugasnya, dan benar benar-benar yakin bahwa tiap saat malaikat Rokib dan Atid merekam semua amal kebajikan dan keburukan manusia. Mengimani adanya qodho’ dan qodar Allah, yakin sebenar-benarnya sehingga menumbuhkan sikap sabar dan syukur atas segala yang menimpahnya. Mengimani adanya hari pembalasan dengan dengan seyakin-yakinnya.

Sehingga menumbuhkan peningkatan dalam ibadah, yang dulunya malas dalam menjalankan sholat berubah menjadi bersemangat, yang dulunya tidak berjamaah dalam sholat berubah menjadi rajin berjamaah. Perubahan perubahan akan terus terjadi dengan prinsip “Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin besok harus lebih baik dari pada hari ini.”

Yang selanjutnya yakni meningkatnya kesolehan sosial. Puasa telah melatih jiwa manusia semakin peka terhadap kondisi sosial dilingkungan masing-masing. Manusia akan semakin bisa merasakan kondisi saudaranya yang berkekurangan. Sikap inilah yang akan membentuk pribadi-pribadi yang selalu punya empati dan kepedulian terhadap penderitan saudara-saudaranya. Maka jiwa mereka akan mudah terpanggil untuk selalu bisa menolong, dan akan selalu bisa menyisihkan rezeki yang telah di berikan kepadanya untuk kepentingan agama Allah atau untuk membantu sesama.

Dan hebatnya lagi, semuanya itu dilakukan bersandarkan pada motivasi-motivasi Alquran dan Assunah. Sebagaimana ternukil didalam surat Al Baqarah yang artinya :

“Permisalan orang menafkahkan harta mereka di jalan Allah, seperti menanam satu biji, dari satu biji tersebut tumbuh tujuh tangkai, dan setiap tangkai tersebut terdiri dari seratus biji.”(Albaqoroh: 261)

Lalu yang terakhir, berusaha memperbaiki hubungan.
Nabiyullah Muhammad Saw, pernah berkata kepada Uqbah, “Ya Uqbah Maukah kamu aku tunjukkan sebuah perbuatan atau amalan yang kebaikannya meliputi dan tersohor di dunia dan di akhirat,” Uqbah menjawab, “Iya ya Rasulullah,” Nabi meneruskan sabdanya :  “Sambunglah silaturrahim pada orang yang telah memutus tali silaturrahim. Berikan makan atau hadiah kepada orang yang membencimu, dan maafkan orang yang telah berbuat dholim kepadamu.” (Alhadits)

Dari hadits ini kita bisa menangkap, bahwa untuk memperbaiki sebuah hubungan yang telah rusak harus dilakukan 3 hal, pertama meminta maaf, memberikan hadiah, dan membukakan pintu maaf. Bahkan dalam hadits yang lain dikatakan : “Seseorang belum dikatakan sebagai penyambung silturrahim sejati jika yang disambungnya hanya orang-orang yang hubungannya selama ini baik baik-saja, akan tetapi penyambung silturrahim yang sesungguhnya adalah mereka yang selalu menyambung silaturrahim terhadap hubungan yang telah di putus.”(Mutafaq alaih)
***

Hal ini akan terasa sangat berat untuk dijalankannya, akan tetapi bagi manusia yang telah berhasil mengikuti pelatihan puasa Ramadan dan telah merasakan digitalisasi spiritual akan terasa ringan dalam menjalankannya. Yang ada dalam pikirannya adalah, bahwa apa yang dilakukan adalah menjalankan perintah Allah SWT semata, harapanya adalah pujian Allah bukan pujian atau celaan manusia yang statusnya hanya makhluk Allah. Insya Allah peradaban manusia akan mengalami loncatan besar (quantum leap) setelah lahirnya era manusia digital spiritualitas, yaitu peradaban yang berbasis kepada doktrin tauhid digital : La ialaa ha (0) illallah (1). (*)

Penulis : Abdul Ghofir, S.Ag., Sekretaris Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Cabang Tuban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here