Foto: Foto bersama setelah pelantikan Pimpinan Komisariat dan Korkom IMM UINSA Surabaya masa bakti 2019/2020. (rizaldy/pijarnews.id)

SURABAYA – Pelantikan Pimpinan Komisariat dan Kordinator Komisariat (Korkom) masa bakti 2019/2020, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya sukses diselenggarakan. Acara tersebut sekaligus dikemas dengan Diskusi Panel, bertempat di Aula Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Minggu (27/10/2019).

Serah terima jabatan dari IMMawan Aziz Maulana Akhsan selaku ketua Korkom periode sebelumnya, dengan IMMawan Farid Syaifullah sebagai Ketua Korkom baru, menandakan telah bergantinya seluruh kepemimpinan Komisariat se-UIN Sunan Ampel Surabaya.

Usai acara pelantikan, disambung dengan Diskusi Panel yang mengusung tema “Revolusi Karakter Berbasis Keilmuan dan Keagamaan Guna Menjawab Problematika Zaman”.

Diskusi tersebut mengundang sebanyak tiga Narasumber diantaranya, DR. H. Solihin Fanani (Ketua Majelis Tablig PWM Jatim), Khoirul Abduh, M.Si, (Wakil Ketua PDM Jombang) dan Sholihul Huda, M.Fil.I (Direktur Lembaga Kajian & Riset Kedai Jambu Institute). Dengan dimoderoatori oleh Humanika Dian Nusantara (Kabid RPK IMM UINSA), diskusi menjadi momen yang luar biasa kerena ketiga Narasumber juga hadir tanpa terkecuali dan tanpa diwakilkan.

H. Solihin Fanani, mengawali pembicaraan dengan menekankan kepada para IMMawan dan IMMawati untuk terus ingat dan belajar pada latar belakang berdirinya IMM, Tujuan terbentuknya IMM, Identitas IMM dan atau Identitas Muhammadiyah.

Mengenai karakter, beliau mengutip pendapat Al-Ghazali tentang pentingnya faktor agama, ilmu pengetahuan, kebiasaan dan lingkungan sekitar dalam membentuk karakter. Untuk merubah karekter tentu tidak mudah, akan tetapi karakter seseorang dapat dirubah dari pembenahan cara berpikir.

“Oleh sebab itu revolusi karakter sama dengan revolusi berpikir, yakni memiliki cara berpikir kritis dan filosofis,” ujar Dr. H. Solihin Fanani yang juga merupakan Founding IMM di IAIN Sunan Ampel yang sekatang menjadi UINSA Surabaya.

Foto: Diskusi panel setelah prosesi pelantikan. (rizaldy/pijarnews.id)

Selanjutnya Direktur Kedai Jambu Institute (KJI), Sholihul Huda, M.Fil.I, menambahkan pentingnya gaya bermuhammadiyah yang terbuka, budaya pemikiran dalam IMM harus selalu dirawat bersama, dengan didasari basis keilmuan yang filosofis, mendasar, radikal dan komprehensif.

Menrut beliau problematika keagamaan hari ini ialah karena banyak milenial yang menggunakan medsos atau youtube sebagai sumber rujukan, bukan kepada para ahli atau Majelis Tabligh. Selain itu juga karena ada kecenderungan menerima informasi yang tanpa filter dan menganggap semua informasi keagamaan itu benar, sehingga mudah termakan informasi hoaks.

BACA JUGA :  Desa Rawan Longsor, Bupati Beserta Danrem 081 dengan Dandim Ponorogo Tanami Rumput Vetiver

Sebab itu, pria yang sering disapa Cak Sholik tersebut menuturkan, agar kader IMM dalam bersikap harus memiliki basis data dan keilmuan, sehingga perlu dikembangkan tradisi-tradisi riset. Maka salah satunya melalui Kedai Jambu Institute adalah upaya dalam membangun tradisi riset dalam Muhammadiyah, seperti pesan KH.Ahmad Dahlan yang beliau kutip yaitu “Muhammadiyah tidak dibangun atas prasangka.” Tuturnya yang juga sebagai Dosen di UMSurabaya dan kandidat Doktor di UINSA Surabaya.

Khoirul Abduh, M.Si, dalam sesi terahir bercerita tentang kisah perjuangan beliau dan kawan-kawan di IMM IAIN dahulu (sekarang UINSA). Terasa masih begitu membekas baginya perjuangan yang dilakukan hingga berdarah-darah, dan akhirnya terbentuk para Aktivis IMM yang waktu itu bisa memiliki karakter militan dan pantang menyerah.

Beliau juga memberikan contoh dalam mendidik karakter sebagaimana cara Nabi Muhammad SAW. Pertama, fokus pada pembinaan dan penyiapan kader, penyiapan tersebut melalui rentang waktu dan tahapan seperti Baitul Arqam. Kedua, pendidikan karakter bisa dibangun melalui bahasa perbuatan bukan hanya bahasa perkataan. Ketiga, menanamkan keyakinan yang bersifat ideologis sehingga menghasilkan nilai moral dan etika dalam menyelesaikan masalah.

Beliau menutup dengan memberi pesan kepada peserta diskusi dan seluruh pimpinan baru IMM UINSA Surabaya, tuturnya, “Jadi IMM itu harus merdeka, jangan menunduk-nunduk dan merasa minder, bangun karakter untuk berani, tenang saja.. kalian tidak akan kalah kalo kalian berani, jangan kagetan (mudah terkejut), jangan gumunan (mudah kagum), jadilah yang berkarakter betul. Identitas harus menjadi citra diri saat berjuang.” Pungkas Khoirul Abduh, M.Si yang juga mantan Aktivis IMM dan salah satu tokoh penting berdirinya IMM UINSA Surabaya hingga saat ini.(*)

Reporter: Rizaldy*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here