Perkuat Nilai Perdamaian dan Toleransi, Dosen UMM Hadiri Konferensi di Kairo

0
138
Nafik Muthohirin saat menghadiri Konferensi Internasional di Kairo, Mesir. (NM/PIJARNews.ID)

KAIRO, PIJARNEWS.ID – Dalam dua dasawarsa terakhir, negara-negara di dunia memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan ekstremisme dan terorisme. Hal itu terjadi sejak peristiwa 11/9 yang menghancurkan dua simbol kekuatan negara adidaya Amerika Serikat (AS), yaitu Phentagon dan World Trade Center (2001).

Kemudian, belakangan, situasi dunia semakin diperparah dengan populisme agama yang disulut sejumlah politisi tertentu demi kampanye politik, juga kebencian terhadap Islam (Islamophobia) di sisi yang lain yang banyak terjadi di negara-negara Barat.

Atas berbagai tantangan masyarakat dunia itulah, perwakilan para pemimpin negara, Mufti/ulama dan peneliti dari 42 negara berkumpul dalam Konferensi Internasional bertajuk “Religious Extremism: The Intellectual Premises and Counter-Strategies” di Kairo (7-9/6).

Salah satu perwakilan dari Indonesia adalah Nafik Muthohirin. Dia adalah Direktur Program RBC Malik Fadjar Institute, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, kegiatan ini membicarakan tentang pengalaman berbagai negara dalam upayanya memerangi terorisme dan ekstremisme.

Nafik menambahkan, forum ini semacam bertukar pikiran tentang strategi masing-masing negara dalam keberhasilannya memerangi ekstremisme.

Selain itu, sebagaimana pidato Grand Mufti Mesir Prof. Dr Shawki Ibrahim Allam, konferensi ini bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai perdamaian, koeksistensi, dan toleransi semua agama.

“Konferensi ini juga diharapkan akan membuka koneksi kerjasama akademis dan riset tentang memerangi ekstremisme dan terorisme,” jelas Dr. Shawki.

Ia menyebutkan, perlawanan terhadap ekstremisme berbaju agama tidak bisa dilakukan secara sendiri. “Untuk memeranginya perlu aksi kolektif antara pemimpin negara, pemimpin agama, dan akademisi. Ini penting karena tidak cukup memerangi ekstremisme melalui pendekatan militeristik. Ada cara yang lebih humanis dengan memoderasi pemahaman dan perilaku keberagamaan pengikutnya,” kata Nafik yang juga sebagai dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kepada PIJARNews.Id.

BACA JUGA :  Handphone Penghambat Masuk Surga? Begini Penjelasan Kepala SMAM10 GKB

Penting diketahui, bahwa keterlibatan Nafik Muthohirin dalam konferensi tersebut merupakan afirmasi dari kerjasama antara Institute Leimena, Ma’arif Institute, Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, dan RBC Institute A. Malik Fadjar dalam Program Internasional Peningkatan Kapasitas Guru Madrasah/Pesantren dan Ismuda dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). (NM/Hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here