Perbandingan Kurikulum KKNI dan Kurikulum Merdeka

0
1005
Penulis : Dony Teguh Budiman (Mahasiswa S2 Teknologi Pendidikan UNIPA Surabaya)

Kurikulum  sebagai  rancangan  pendidikan  mempunyai  kedudukan  yang  sangat strategis  dalam  seluruh  aspek  kegiatan  pendidikan.  Mengingat  pentingnya peranan  kurikulum  dalam  pendidikan,  maka  dalam  penyusunannya harus mengacu pada landasan yang kokoh dan kuat. Landasan pengembangan kurikulum tidak hanya diperlukan bagi para penyusun kurikulum (makro) atau kurikulum tertulis yang sering disebut  juga  sebagai  kurikulum  ideal, akan  tetapi  juga  harus  dipahami  dan dijadikan  dasar  pertimbangan  oleh  para  pelaksana  kurikulum (mikro) yaitu para pengawas pendidikan  dan  para  guru  serta  pihak-pihak  lainnya  yang  terkait  dengan tugas-tugas  pengelolaan  pendidikan. Sebagai  bahan  untuk  dijadikan  instrumen  dalam melakukan  pembinaan  terhadap  implementasi  kurikulum  di  setiap  jenis  dan  jenjang pendidikan.

Dengan  posisinya  yang  penting  tersebut,  maka  penyusunan  dan pengembangan kurikulum tidak bisa dilakukan secara sembarangan, akan tetapi harus didasarkan  pada  berbagai  pertimbangan,  atau  landasan  agar  dapat  dijadikan  dasar pijakan  dalam  menyelenggarakan  proses  pendidikan,  sehingga  dapat  memfasilitasi tercapainya tujuan pendidikan dan pembelajaran secara lebih efisien dan efektif. Globalisasi membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia termasuk di dunia kerja. Perubahan ini menuntut kompetensi yang tinggi dan relevan untuk hidup secara layak. Kebutuhan masyarakat tersebut menuntut pengembangan kurikulum, mulai dari pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi.

Berdasarkan kebutuhan tersebut kurikulum harus dimutakhirkan. Dengan adanya pemutakhiran kurikulum, maka lulusan yang dihasilkan oleh suatu institusi pendidikan menjadi relevan dan sejalan dengan kebutuhan dunia kerja. Kurikulum berbasis KKNI (Kerangka Kurikulum Nasional Indonesia) merupakan perubahan dari kurikulum yang berbasis kompetensi. Pada kurikulum sebelumnya yakni kurikulum berbasis kompetensi, siswa kurang leluasa dalam mengembangkan kompetensinya karena sistem pembelajaran masih terbatas pada penyampaian materi secara teoritis saja.

Sehingga kurikulum berbasis KKNI dirancang untuk menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Melalui kurikulum berbasis KKNI siswa tidak hanya  belajar tentang teori namun sangat memungkinkan untuk mengembangkan teori ke dalam berbagai pembelajaran praktik. Kurikulum yang terus berkembang dan mengalami beberapa perubahan merupakan upaya yang dapat memperbaiki dan memulihkan pembelajaran. Demikian juga hadirnya opsi Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dihadirkan dalam upaya mengejar ketertinggalan Pendidikan kita akibat pandemi dan perubahan   orientasi   perkembangan zaman. Selain learning loss, banyak studi nasional maupun Internasional yang menyebutkan bahwa bangsa kita juga telah lama mengalami krisis pembelajaran atau learning crisis.

Studi-studi tersebut menemukan tidak sedikit anak di Indonesia yang kesulitan memahami bacaan sederhana ataupun menerapkan konsep matematika dasar. Temuan tersebut juga menunjukkan adanya kesenjangan pendidikan yang cukup curam di antarwilayah dan kelompok sosial di tanah air.
Langkah pengembangan Kurikulum Merdeka pada dasarnya menerapkan tahapan pengembangan berbasis KKNI, yakni berisi tahapan penyusunan kurikulum mulai dari yang bersifat strategis seperti merumuskan profil sampai hal teknis. Seperti merancang Rencana Pemelajaran Semester (RPS) dan mengukur keberhasilan muatannya.

Hanya saja pada Kurikulum Merdeka analisis SWOT sangat ditekankan karena kurikulum ini terlahir karena adanya dampak pandemi yang menyebabkan Learning Loss dan tuntutan abad 21 yang menitik beratkan pada pendidikan berbasis luaran atau dikenal sebagai Outcomebased Education (OBE) dimana saat ini menjadi kebutuhan utama dalam pengelolaan pendidikan. Sebelum mengembangkan kurikulum merdeka satuan pendidikan, sekolah perlu melakukan analisis karakteristik dan lingkungan belajar dengan menampung aspirasi anggota kumunitas, dan menjadikan visi dan misi sebagai arahan yang disepakati oleh seluruh warga satuan pendidikan.

BACA JUGA :  "Let's Explore The World!" Sebagai Penutup KKN PCR di Tambaksari

Visi, Misi dan Tujuan menjadi referensi arah pengembangan dan menunjukkan prioritas satuan pendidikan. Merumuskan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan merupakan langkah awal yang sangat penting sebagai acuan utama dalam merancang pembelajaran yang berkualitas. Dalam Pengembangannya Kurikulum berbasis KKNI dan Kurikulum Merdeka sama- sama sudah melalui tahapan pengembangan yang sesuai dalam kajian teori pengembangan kurikulum. Namun masih ada beberapa hal teknis yang membuat perbedaan terutama pada kurikulum Merdeka.

Mulai tahun ajaran 2022/2023, penerapan Kurikulum Merdeka ini tidak hanya akan dikhususkan pada satuan pendidikan tingkat SMA/sederajat saja. Namun, kurikulum ini juga bisa mulai digunakan pada tingkat lainnya, seperti TK, SD, SMP, hingga Perguruan Tinggi (PT). Tentunya, penerapan kurikulum ini memiliki perbedaan pada masing-masing jenjang. Dalam setiap penerapan kebijakan, tentu ada kelebihan dan kekurangan yang senantiasa mengiringi. Demikian halnya dengan penerapan Kurikulum Merdeka pada berbagai tingkat satuan pendidikan. Kelebihan yang paling mencolok dari penerapan kurikulum ini adalah adanya proyek tertentu yang harus dilakukan oleh para peserta didik, sehingga dapat membuat mereka menjadi lebih aktif dalam upaya mengeksplorasi diri.

Selain itu, kurikulum ini juga lebih interaktif dan relevan mengikuti perkembangan zaman. Meski begitu, penerapan Kurikulum Merdeka tak lepas dari berbagai kekurangan. Misalnya, persiapan penggunaan kurikulum ini dinilai masih belum matang. Hal ini terlihat dari masih kurangnya kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melaksanakan kurikulum ini.
Secara umum, langkah pengembangan kurikulum secara umum, Kurikulum berbasis KKNI dan Kurikulum Merdeka pada dasarnya melalui tahapan pengembangan yang sama. Mulai analisis kebutuhan, penyusunan profil lulusan, kemudian menentukan capaian lulusan, merumuskan capaian pembelajaran, memetakan bidang studi dan beban belajar sampai pada tahapan penentuan evaluasi.

Hanya perbedaannya mungkin pada Kurikulum Merdeka pengembangannya lebih bersifat teknis dan kontekstual. Misalnya pada analisis SWOT kebutuhan belajar didasarkan pada kondisi mendesak dimana masa pandemi terjadi learning loss yang harus dikejar, isu tentang rendahnya tingkat literasi dan tuntutan abad 21 yang menitikberatkan pada pada pendidikan berbasis luaran atau dikenal sebagai Outcomebased Education (OBE). Lebih kontekstual dan luwes karena dikembangkan sesuai analisis karakteristik masing-masing satuan.

Kurikulum berbasis KKNI dan Kurikulum Merdeka dikembangkan melalui tahapan pengembangan dengan memperhatikan prinsip pengembangan kurikulum yang ada. Pengembangan kurikulum bukanlah proses instan tanpa adanya kajian yang matang terhadapnya. Setidaknya, sumber rujukan dalam mengembangkan kurikulum harus berdasar pada data empiris dan eksperimen, serta cerita dan pengetahuan umum yang berkembang di masyarakat. Selain itu, pijakan dalam menegembangkan kurikulum juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip dasar, seperti; prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, efisiensi, efektivitas, dan komponen pendidikan lainnya agar tujuan pengembangan kurikulum dapat terarah dengan baik. (*)

Penulis : Dony Teguh Budiman (Mahasiswa S2 Teknologi Pendidikan UNIPA Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here