Computational Thinking dan Paradigma Merdeka Belajar

0
775
Penulis : Endang Suprapti (Wakil Dekan 1 FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya)

Upaya pemerintah tak pernah surut dalam memperbaiki proses pembelajaran. Berbagai cara dan setumpuk kebijakan ternyata belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Menurut Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek, Santi Ambarrukmi, mengatakan bahwa skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia masih rendah. Hasil PISA menempatkan Indonesia di urutan ke 74 alias peringkat keenam dari bawah.

Kemampuan membaca siswa Indonesia menempati posisi 74, dengan skor 371. Kemampuan Matematika berada di posisi 73 dengan skor 379, dan kemampuan sains berada di posisi 71 dengan skor 396 (radioedukasi.kemdikbud.go.id). Tentu ini menjadi permasalahan serius dan perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah serta dibutuhkan kepedulian dari berbagai pihak bagaimana membangkitkan gairah Pendidikan sehingga tujuan bangsa menciptakan generasi emas dapat tercapai.

Belakangan ini, dalam dunia Pendidikan sering mendengar topik tentang Merdeka Belajar, Isu hangat yang menjadi perdebatan bagi para praktisi Pendidikan menuai yang pro dan kontra, akan tetapi hal ini menjadi tatangan kita semua untuk lebih serius dalam mempersiapkan generasi bangsa yang siap menghadapi Era Digital.

Ikhtiar kolektif setiap elemen bangsa harus turut andil dalam mempersiapkan generasi emas tahun 2045. Tentu hal ini tidak bisa lepas bagaimana membuat berbagai program pengembangan dunia Pendidikan. Seperti yang di usung oleh Nadiem Makarim sebagai Mendikbud-Ristek mencanangkan dua kompetensi baru dalam sistem pebelajaran anak Indonesia yaitu Computational Thinking (CT) dan Compassion sebagaimana dilansir oleh media CNBC Indonesia (18/2/20).

Computational Thinking Pemikiran komputasi akan menjadi keterampilan dasar digunakan oleh semua orang pada pertengahan abad ke-21 seperti membaca, menulis, dan berhitung (Wing, 2011). Melalui kebijakan diterapkannya CT ini diharapkan dapat merubah paradigma belajar di sekolah selama ini yang masih cenderung berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik (Student Centerl Learning).

Tantangan Computational Thinking
Publik perlu tahu apa itu CT, apakah CT Itu penting dan bagaimana menerapkannya dalam pembelajaran?. CT dalam penerapannya tidak diajarkan akan tetapi diprektekkan melalui mata pelajaran dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. CT merupakan proses berpikir dalam memformulasikan permasalahan dengan strategi dalam menentukan atau memilih solusi yang efektif, efisien, optimal untuk diselesaikan oleh agen pemproses informasi sehingga mendapatkan solusi. Siapa agen pemroses informasi tersebut? manusia?, Komputer?.

CT adalah proses berpikir yang terlibat dalam merumuskan masalah dan solusinya sehingga solusi direpresentasikan dalam bentuk yang dapat dilakukan secara efektif oleh agen pemrosesan informasi. CT melibatkan keterampilan pemecahan masalah dan disposisi tertentu, seperti kepercayaan diri dan ketekunan, ketika menghadapi masalah tertentu “kemampuan berpikir dengan komputer sebagai alat”.

Metode dalam CT adalah yang pertama, banyak bertanya termasuk bertanya pada diri sendiri, kedua Latihan dan Latihan, ketiga berani mencoba yaitu berani salah karena dengan salah kita belajar dan yang keempat dalah mencoba, bagaimana peserta didik diarahkan untuk selalu mencoba dan mencoba.

BACA JUGA :  Dorong UMKM Masyarakat, Mahasiswa UMSurabaya Edukasi Bisnis Digital Warga Jojoran Stal

Bagaimana menerapkan CT
Tentunya agar CT ini dapat terbiasa bagi peserta didik guru perlu mengemas pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan. Sehingga dalam hal ini peranan peseta didik dalam mempraktekkan CT sebagai muatan pengetahuan dalam proses belajarnya sedangkan guru berperan sebagai fasilitator tentunya diperlukan model pembelajaran yang sesuai dalam menerapkan CT sebagai contoh model Problem Based Learning, Projek Based Learning, Inquiry Based Learning, Transformative Learning dan Experiential Learning, serta bisa dengan pendekatan Construktivistic.

Sebagai contoh Latihan problem solving dimana peserta didik diberikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, mengarahkan peserta didik menemukan sebuah pola sehingga dapat dipakai dalam menganalisis trend, serta melakukan prediksi sehingga mampu menemukan berbagai macam solusi.

Tentunya dalam penerapannya diperlukan algoritma agar peserta didik dapat menginterprestasikan instruksi yang diberikan, mampu membayangkan apa yang terjadi dalam permasalahan kehidupan sehari-hari tersebut sehingga peserta didik mampu menulis langkah-langkah penyelesaian dengan runtut.

Melalui CT, diperlukan Latihan kecil, peserta didik diajak melakukan analisis data dengan banyak membaca dan Latihan soal-soal PISA, soal-soal Asesment Kompetensi Minimum (AKM), Modeling dan simulasi melalui laboratorium virtual, Programing yaitu berpikir algoritma. Harapan pembelajaran dengan menerapkan CT ini mampu memerdekakan pembelajaran sebagai beban menjadi pembelajaran sebagai pengalaman yang menyenangkan sesuai dengan Renstra Kemdikbud 2020-2024.

Pembelajaran menyenangkan tentunya dapat diterapkan melalui belajar bebasis aktivitas seperti belajar melalui bermain game, Role Play dan permainan papan. Dalam penerapan CT refleksi menjadi bagian penting dari pembelajaran, pembelajaran berbasis pengalaman.

Peserta didik diberikan Latihan pemecaham masalah. Melalui CT peserta didik mengaitkan kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, dengan demikian peserta didik melakukan pembelajaran bermakna. CT dapat diterapkan disemua mata pelajaran karena CT merupakan proses berpikir untuk problem solving.
Peserta didik dapat dibiasakan menerapkan CT dengan selalu mengasah Thinking Skill nya melalui praktek bukan dengan teori, dan dalam hal ini prakteknya dalam mata pelajaran.

Keberhasilan dalam menerapkan CT dalam pembelajaran tidak dipungkiri membutuhkan dukungan dari berbagai pihak terutama penggerak Pendidikan yaitu Pendidik, Kepala Sekolah dan Dinas Pendidikan. Bagaiman para pihak tersebut harus siap untuk selalu belajar melakukan perubahan. Sekarang bagaimana penerus generasi bangsa akan berubah apabila pencetak generasi bangsanya masih tetap pada posisi yang sama. Maka paradigma ini harus menjadi kesadaran bagi berbagai pihak yang akan menentukan arah bangsa Indonesia kedepan.*

* Penulis : Endang Suprapti (Wakil Dekan 1 FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here