Menyoal Tata Kelola Kampus UMMAD: Wajah Buram Dunia Akademik

0
2194
M. Mochtar Mas'od (Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial UMMAD)

Peter Flemming pernah menulis sebuah karya yang berjudul “Dark Academia: How Universities Die” (2021), dimana dalam karyanya tersebut Flemming menuliskan bahwa terjadi sebuah pergeseran orientasi universitas yang dulunya dikenal sebagai lumbung pengetahuan dan pusat peradaban. Namun seiring perkembangan zaman, universitas turut terseret dalam arus Neoliberalisasi, dimana kampus lebih tertarik mengejar statistik daripada substansi.

Dalam pandangan Flemming, kampus pada zaman ini telah mengalami komersialisasi, kampus tidak hanya mencetak manusia-manusia pekerja layaknya mesin untuk keperluan industri. Namun juga kampus telah mengadopsi tata kelola organisasinya seperti tata kelola perusahaan yang orientasinya adalah mengejar keuntungan dan profit semata. Dus, mahasiswa tak ubahnya sebagai konsumen yang menjadi tumpuan utama kampus dalam memperoleh profit, sehingga untuk mengejar profit kampus meningkatkan sistem manajerial kampus yang mengakibatkan fungsi seorang dosen turut mengalami pergeseran, yang dulunya sebagai seorang ilmuan juga dituntut untuk patuh dalam sistem manajerial yang berbasis profit. Kampus dikelola tak ubahnya seperti kapal keruk demi pundi-pundi uang semata.

Akibatnya universitas pada saat ini layaknya seperti koorporasi yang saling bersaing, menjual prestasi dan pencapaian guna menarik para calon mahasiswa. Kendati kondisinya tidak seratus persen sama dengan yang terjadi di kampus-kampus Eropa dan Australia, namun kiblat sebagian besar universitas di Indonesia saat ini adalah Eropa, Amerika dan Australia. Kita memahami, pergeseran kampus dari laboratorium intelektual dan kiblat peradaban sudah lama berubah. pendulumnya sudah berganti menjadi bisnis untuk mengeruk keuntungan. Tentu ini menjadi fenomena jamak yang melanda seluruh kampus di Indonesia.

Tetapi, tradisi akademik, manajemen kampus serta ruh kampus tidak sepenuhnya diabaikan. Fakta yang mengerikan terjadi di kampus Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD). Dimana pengelolaannya dikelola secara serampangan, asal-asalan. UMMAD merupakan cerminan bagaimana kampus telah terseret arus Neoliberalisasi. Namun kondisi yang ada di kampus UMMAD justru lebih krusial daripada sekedar Neoliberalisasi kampus.

Berdasarkan pengalaman kami, para dosen kampus UMMAD selama mengabdikan diri merasakan dan mendapati berbagai banyak hal di kampus UMMAD, dari temuan kami ini banyak terjadi praktik-praktik maladministrasi mulai dari pengisian borang atau dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan legalitas kampus, hingga penyalahgunaan tugas dan fungsi seorang tenaga pengajar atau dosen.

Dalam konteks ini, kampus UMMAD tidak siap dalam menjalani roda kehidupan akademik dan bahkan cenderung memaksakan. Hal tersebut bisa terlihat dari ketiadaan aktifitas perkuliahan di masing-masing fakultas dan jurusan yang merupakan aktifitas paling mendasar di sebuah universitas, kendati pihak kampus masih mengadakan perkuliahan secara daring namun sistem pembelajaran tidak jelas. Seperti, tidak adanya kalender akademik dalam penyelenggaraan perkuliahan dan banyak para dosen yang tidak mendapatkan tugas atau distribusi mata kuliah.

Banyak dosen-dosen UMMAD yang nasibnya tidak jelas karena tidak adanya keputusan dari kampus terkait tugas dan fungsinya, menjalani aktifitas lain di luar kegiatan Tri Dharma Pendidikan Tinggi. Misalnya membersihkan halaman dan ruangan kampus, merupakan ironi bagi para dosen di lingkungan kampus UMMAD selain hak honorarium yang tidak jelas dari kampus. Kegiatan akademik yang dilakukan oleh petinggi universitas lebih mengarah pada manipulasi-manipulasi akademik. Seperti pembuatan absensi seratus persen kehadiran mahasiswa dalam Perkuliahan Tatap Muka (PTM) padahal sebenarnya dalam perkuliahan tidak pernah ada mahasiswa yang hadir ke kampus.

BACA JUGA :  Iuran BPJS Kesehatan: Cara Mudah Warga Negara Sumbang Triliunan Rupiah kepada Pemerintah

Temuan berikutnya adalah tugas akhir atau skripsi mahasiswa yang terbukti ada pemalsuan tanda tangan yang mengatasnamakan salah satu dosen pembimbing, bagaimana mungkin seorang dosen yang tidak pernah ditugaskan untuk membimbing skripsi kemudian tiba-tiba namanya muncul pada lembar pengesahan skripsi lengkap dengan tanda tangannya. Tentu hal tersebut tidak bisa diterima oleh dosen yang bersangkutan yang merasa dirugikan. Pihak kampus selalu mengarahkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya alias fiktif, seperti misalnya pengisian borang atau dokumen-dokumen lainnya sebagai penunjang akreditasi.

Ironi bagi sebuah universitas yang seharusnya menjadi tempat pencerahan dan pencetak generasi gemilang, namun justru dalam praktiknya banyak melakukan berbagai manipulasi. Dalam hal ini, UMMAD tidak hanya mengalami masalah dalam tata kelola namun juga telah mengarah pada ‘dekadensi moral’ akademik, bagaimana mungkin? Lembaga pendidikan yang seharusnya mencetak generasi yang berintegritas tinggi justru memberikan contoh perilaku manipulatif.
Pengakuan lain dari para dosen UMMAD, bahwasanya selama bergabung menjadi dosen tetap belum pernah menerima SK dan kontrak kerja dari kampus, hal tersebut menunjukkan betapa tidak jelasnya petinggi kampus dalam merekrut dan memfungsikan tenaga pengajar.

Nasib para dosen UMMAD selama dua tahun terakhir pun tidak ada kejelasan, petinggi kampus hanya memanggil beberapa orang saja untuk mengerjakan segala hal di kampus yang bahkan dipaksa mengerjakan tugas di luar kewenangan sebagai seorang dosen. Apa yang terjadi di kampus Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), telah menggambarkan betapa bobroknya tata kelola kampus. Petinggi kampus hanya mementingkan status kampus namun tidak serius dalam mengejar subtansi dari berdirinya sebuah universitas, bahkan demi mempertahankan akreditasi rela untuk melakukan manipulasi berbagai dokumen administratif. Hal ini tentu mencoreng nama Muhammadiyah yang terkenal memiliki lembaga pendidikan tinggi dengan reputasi baik.

**

Tata kelola di Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), saat ini sudah memasuki fase stadium 4, oleh karena itu hal ini harus menjadi perhatian bagi seluruh stakeholders di Muhammadiyah yang mengurusi Pendidikan Tinggi, guna mengembalikan marwah universitas sebagai pencetak generasi gemilang dan menjaga citra Muhammadiyah. Penempatan orang-orang yang memiliki kualifikasi, berintegritas, serta reputasi tinggi dalam dunia akademik, mutlak diperlukan oleh UMMAD jika ingin membenahi tata kelola kampus guna mengembalikan marwah universitas. (*)

M. Mochtar Mas’od (Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial UMMAD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here