Foto: Upacara Sumpah Pemuda di SMK Al-Falah Kota Probolinggo. (muhaf/pijarnews.id)

PROBOLINGGO – Berdasarkan Keppres Tahun 1959 No. 316 yang dikeluarkan oleh Pemerintah, menjadikan tanggal 28 Oktober adalah hari yang memperingati peristiwa Sumpah Pemuda Tahun 1928. Dalam momen ini, Pemerintah tidak menjadikan hari sumpah pemuda sebagai hari libur, akan tetapi setiap Instansi Pemerintahan, baik itu lembaga sekolah diwajibkan untuk melakukan upacara pada hari tersebut, begitu juga yang dilakukan SMK Al-Falah yang beralamat di Jl. Durian No. 13-B, Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, Senin (28/10/19).

Upacara Sumpah Pemuda SMK Al-Falah dipimpin oleh Purwanto (siswa kelas 11) yang juga merupakan Ketua Osis, dengan petugas pembaca ikrar sumpah pemuda adalah Nurdina Kamelia (siswi kelas 12), selanjutnya selaku pengibar Bendera adalah Susan Ria Rahayu (kelas 10), dengan Ismail Rahmatullah (kelas 11) dan Muhammad Basori (kelas 11). Pemerintah secara serentak memberikan tema dalam memperingati hari sumpah pemuda tahun ini yaitu, “Bersatu Kita Maju”.

Dalam literatur sejarah diajarkan bahwa sumpah pemuda adalah keputusan kongres pemuda yang dilaksanakan selama dua hari, yaitu 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan tersebut menegaskan bahwa cita-cita persatuan memang sudah sejak lama digagas oleh pemuda, menjadi tanah air Indonesia, menjadi bangsa Indonesia dan memiliki bahasa Indonesia yang satu. Keputusan ini akhirnya menjadi asas atau dasar setiap kelompok bangsa Indonesia yang sampai saat ini untuk hidup dalam bingkai Negera Kesatuan Republik Indonesia.

Bapak Muhammad Fendik, Kepala Sekolah SMK Al-Falah dalam pidatonya mengutip pesan  Bung Karno yang berbunyi, “Jangan mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air.” Kutipnya.

Menurut beliau, kita memang harus bersyukur atas apa yang sudah di perjuangkan oleh pemuda atau pendahulu, namun kita juga jangan terlena dengan apa yang sudah kita dapatkan di zaman kemerdekaan ini, tugas kita sekarang justru semakin sulit, yaitu bagaimana kita harus mengisi kemerdekaan, dengan berkarya, berkreasi dan memiliki kompetensi. “Pemuda saat ini harus berkarya, berkreasi dan memiliki kompetensi,” ujar Bapak M. Fendik, yang juga selaku pembina dalam upacara sumpah pemuda 2019 di SMK Al-Falah Probolinggo.

Maksud Bapak Fendik, momen sumpah pemuda di era milenial saat ini, tidak bisa hanya bicara tentang satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa. Tetapi lebih kepada bagaimana kita harus merawat semuanya dengan menghadapi tantangan zaman yang semakin berat.

BACA JUGA :  Ngaji Blirik, Salah Satu Fenomena Dakwah Kekinian di Kota Surabaya

“Tantangan zaman menjadi semakin berat, dengan pesatnya perkembangan teknologi memang memberikan keuntungan akan tetapi juga bisa sekaligus menjadi ancaman kompetensi manusia. Contohnya kita lihat sekarang, kenapa banyak pemuda yang mengangur, susah cari pekerjaan, jika ada itu juga pekerjaan kasar,  ini semua terjadi bukan hanya karena tidak ada lowongan pekerjaan, tapi lebih kepada kebutuhan pekerja yang semakin berkurang akibat pergantian peran manusia pada teknologi yang semakin cangih atau robotisasi.” Ungkap Bapak Fendik.

Adanya pergantian peran pekerjaan manusia mengakibatkan kebutuhan pekerjaan masa depan juga berorentasi pada kompetensi sebagaimana mesin, “dan ini menjadi masalah tersendiri,” ungkapnya. Karena lulusan yang di cetak sekolah belum memiliki kompetensi tersebut. Bahkan jika ada sekolah SMK yang sudah bertahun-tahun menjalankan program kompetensi tertentu, lulusannya juga tidak bisa dipakai karena alat praktik yang di gunakan di sekolah sudah berbeda jauh dengan di industri (lapangan) akibat perkembangan teknologi, sehingga menjadi tidak relevan.

“Tapi kemungkinan perbaikan masih terbuka,” ujar Bapak Fendik. Beliau selanjutnya bercerita tentang penunjukan Nadiem Makarim (CEO Gojek) yang menjadi Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, menurutnya hal tersebut adalah suatu sinyal dari Pemerintah yang akan mencarikan peluang untuk generasi muda kedepan.

“Kita memasuki zaman yang mana inovasi dan kompentensi adalah hal yang akan banyak dibutuhkan, termasuk dalam pekerjaan, sehingga penunjukan Mas Nadiem kemarin, kelihatannya Pemerintah akan konsen pada teknologi dan peluang pekerjaan yang ada di masa depan.” Ujar Bapak M. Fendik.

Nadiem Makarim adalah mentri pendidikan dalam Kabinet Indonesia Maju, beliau adalah pemuda yang berhasil menciptakan jasa traspotasi sesuai kebutuhan masa depan, “Menurut saya beliau adalah sosok yang mampu menyatukan inovasi dan kompetensinya, maka lahirlah Gojek tersebut.” Imbuh Bapak M. Fendik, Kepala Sekolah SMK yang juga sekaligus Sekertaris Pemuda Muhammadiyah Probolinggo.

Dalam kalimat penutupnya Bapak Fendik berpesan, “Siswa/I SMK Al-Falah kedepan harus lebih peka terhadap perkembangan teknologi, khususnya pada jurusan yang kita sediakan, dengan terus belajar dan bersahabat pada teknologi, mengasah terus kompetensi serta memperbaiki Akhlaq kepada sesama, Orang Tua dan Sang Pencipta.” Pungkasnya.(*)

Reporter: Muhaf*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here