Muktamar Muhammadiyah: Momentum Arah Baru Gerakan Dakwah 

0
2361
Penulis : Suprayetno, Ketua PCPM Solokuro, Karyawan RSM Lamongan

“Iqra’ (bacalah)” adalah perintah pertama yang diwahyukan ALLAH SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, begitulah kira-kira yang diajarkan di buku-buku sejarah Islam. Kita tidak serta merta membahas sejarah itu akan tetapi nilai-nilai yang terkandung didalamnya, termasuk mengapa bukan sholat? Akan tetapi mengapa kemudian harus membaca? Membaca dalam yang dalam perspektif lain adalah belajar dimana belajar itu sendiri mempunyai makna yang luas, yang semua keadaan belajar adalah melibatkan yang kita sebut “akal”.

Akal itulah yang kemudian menjadi bekal manusia dalam mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi ini, dan akal itu pula yang membuat derajat manusia bisa melebihi makhluk lain. Bahkan malaikat, dan akal itu pula yang dijunjung tinggi dalam agama Islam. Lalu apa hubungannya dengan Muktamar? Muktamar sejatinya bukan hanya sebuah peristiwa dimana kita memilih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, akan tetapi muktamar adalah sebuah proses dimana kita mengevaluasi gerakan dakwah yang telah kita jalankan.

Lalu menganalisis dan merencanakan gerakan dakwah untuk waktu 5, 10 atau bahkan 100 tahun kedepan. Sebagaimana yang telah dilakukan KH. Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah, yang mana melalui sebuah analisis dan perenungan yang mendalam terhadap surat Ali Imran ayat 104 yang kemudian menjadi dasar filosofis berdirinya Muhammadiyah. Dan melalui analisis dan pemahaman terhadap Al-Ma’un KH. Ahmad Dahlan merencanakan arah sebuah gerakan dakwah yaitu; panti asuhan dan pendidikan, yang mana pada waktu kehidupan masyarakat Indonesia pra kemerdekaan. Mengapa panti asuhan dan pendidikan? Karena pada waktu itu kebutuhan mendasar adalah sandang, pangan, papan dan pengetahuan atau pendidikan.

Sandang, pangan, papan diwujudkan melalui gerakan dakwah yang berupa panti asuhan dan pendidikan melalui gerakan berdirinya sebuah sistem yang hari ini kita sebut sekolah. Sekitar 8 tahun berlalu, 17 juni 1920 dengan semangat yang sama dan analisis mendalam pula, lahirlah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) yang pada malam peresmiannya ketika seorang Kyai Syuja’ ditanya tentang keinginannya oleh KH. Ahmad Dahlan adalah salah satunya mendirikan rumah sakit yang sontak menjadi bahan tertawaan para hadirin.

Akan tetapi sebuah analisis dan pemikiran yang melibatkan apa yang kita sebut akal tadi, hari ini kita melihat berjajar dari ujung barat sampai ujung timur negeri ini berdiri rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah. Kesimpulannya adalah gerakan dakwah lahir dan merupakan sebuah jawaban dari tantangan dan kebutuhan umat. Lalu apa harapan kita terhadap Muktamar yang akan digelar November bulan depan? Sebagai warga Muhammadiyah tentunya kami berharap ada sebuah arah baru gerakan dakwah. Mengingat kompleksitas masalah dan kebutuhan umat dan bangsa Indonesia pada hari ini dan masa yang akan datang.

BACA JUGA :  Bergerak Dibidang Ekonomi, PCPM Solokuro Teken MoU dengan KSU Kencana Makmur

Sebuah perandaian kecil di Muktamar nanti lahirlah sebuah gerakan baru dibidang farmasi, dimana Muhammadiyah mampu menghadirkan obat-obatan hingga vaksin yang 100% halal ditengah kebutuhan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim seringkali tidak ada pilihan terhadap obat-obatan maupun vaksin. Dan secara ekonomis mampu menjadi salah satu penopang dari kebutuhan rumah sakit milik Muhammadiyah. Arah baru selain farmasi adalah perbankan, yang kami berharap Muhammadiyah  menjawab dari kebutuhan umat saat ini yaitu perbankan yang syariah. Saat ini kita dikelilingi oleh bank-bank konvensional yang kita tidak yakin ke-syari’ah-annya.

Lebih dalam lagi soal bank yang kami harapkan itu adalah sebuah bank yang mampu selain menyimpan adalah pinjam (kredit), yang tidak hanya meminjamkan akan tetapi sampai pada pendampingan dan pengelolaan terhadap uang yang dipinjamkan. Dengan hasil akhir dari perbankan itu lahirlah sebuah kemandirian ekonomi umat, dan tentunya menjawab kebutuhan umat yaitu terhindar dari riba. Selain dua arah baru diatas kami juga berharap suatu saat lahirlah yang entah apa kita menyebutnya kelak, yaitu sebuah lembaga yang khusus yang menangani pekerja dan pekerjaan warga Muhammadiyah semacam ILO-nya PBB yang mengatur, memberikan pendidikan, menjembatani antara pemberi pekerjaan dan pekerja, serta memperjuangkan standart hidup yang layak bagi pekerja khususnya warga Muhammadiyah.

Dan yang terakhir dari kami warga Muhammadiyah pinggiran, yang kami harapkan dari Muktamar adalah sebuah lembaga yang mengurus pembangunan Amal Usaha Muhammadiyah, dimana lembaga itu terpusat dan terorganisir. Harapan dan mimpi kami mungkin belum seperti harapan dan mimpi KH. Ahmad Dahlan dan Kyai Syuja’ akan tetapi semoga yang kami sampaikan ini menjadi referensi dan wacana bagi peserta Muktamar November mendatang. Selamat Muktamar Muhammadiyah ke-48. (*)

Penulis : Suprayetno (Ketua PCPM Solokuro Lamongan, Chief DMC RSM Lamongan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here