Idealisme Gerakan Nasyiatul Aisyiyah Tercermin dalam Bait Lagu Marsnya

0
824
Foto : Merchandise Muktamar ke-XIV Nasyiatul Aisyiyah di Bandung, (2-4/12),

BANDUNG, PIJARNEWS.ID —Membuka Tanwir Kelima sekaligus Tanwir pra Muktamar ke-XIV Nasyiatul Aisyiyah di Bandung, pada Jumat (2/12), Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti sebut dari bait lagu Mars Nasyiatul Aisyiyah tersimpan idealisme yang besar tentang gerak langkah Nasyiah ke depan.

Dimulai dari simbol padi, Prof Mu’ti mengatakan bahwa padi merupakan simbol dari kesejahteraan/kemakmuran. Dalam konteks Nasyiah, kesejahteraan tersebut diraih melalui keunggulan intelektualitas dan pendidikan.

“Karena Nasyiah yang bersimbol padi itu terdidik tiap hari, artinya tidak ada satupun alasan Nasyiatul Aisyiyah tidak maju, terutama dari sisi pendidikan,” ungkap Mu’ti.

Dalam kehidupan kelompok perempuan, Nasyiah menjadi bagian yang mendobrak kejumudan peradaban yang menyebut bahwa perempuan merupakan kelompok manusia kedua (second class society). Guru Besar Pendidikan Islam ini kembali menegaskan, bahwa untuk mencapai kemajuan itu dengan pendidikan.

Mengutip Surat Al Baqarah ayat 189, yang potongan ayatnya digunakan dalam pidato Nasyiah, Mu’ti tegaskan bahwa selain menjadi kelompok teredukasi, Nasyiah juga tetap salih dan taat dalam menjalankan perintah agamanya.

“Religiusitas itu harus tertanam dalam setiap diri Nasyiah, dan dalam organisasi Nasyiah itu,” imbuh Mu’ti.

Menjelaskan kandungan ayat 189 surat Al Baqarah, Mu’ti menyebut bahwa kebaikan itu tidak dikatakan baik apabila dilakukan dengan rasa takut dan tidak percaya diri menunjukkan identitas keislaman. Maka dari itu, orang yang melakukan kebaikan atas dasar perintah Islam disebut sebagai orang bertaqwa.

BACA JUGA :  Imlek di Tengah Pandemi, Klenteng di Surabaya Tiadakan Do'a Berjamaah dan Barongsai

Tokoh Muhammadiyah yang dikenal lucu ini juga mengapresiasi atas capaian-capaian yang ditorehkan oleh Nasyiatul Aisyiyah, bahwa saat ini Nasyiah menunjukkan kemajuan yang signifikan dan rasa percaya diri sebagai perempuan muda yang berkemajuan.

“Kita mulai lihat perempuan-perempuan muda Nasyiah itu sudah tidak lagi menjadi kelompok yang tertinggal, tetapi kelompok yang memimpin dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam konteks gerakan internal Muhammadiyah, tapi juga gerakan-gerakan kebangsaan,” terang Mu’ti.

Hal itu bukan isapan jempol belaka, sebab dapat dilihat kiprah kader-kader Nasyiah yang sudah menasional di luar lingkup organisasi. Selain itu juga dari sisi organisasi, kiprah Nasyiatul Aisyiyah dalam pendidikan anak dan membangun generasi kuat telah diakui oleh Pemerintah. (Mona/Hen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here