PWM Jatim Bisa Lebih Maju, Ini Syaratnya

0
765
Penulis : Tamam Choiruddin, M.Si. (Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur Periode 1999-2001)

Tulisan ini lebih mengarah pada siapa saja yang di pandang lebih tepat, lebih layak mengisi 13 formatur pada Musyawarah Wilayah (Muswil) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur ke-16 yang akan diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), 24-25 Desember 2022. Saya masih berkeyakinan, kemajuan organisasi bergantung pada sistem. Dan sistem dalam Muhammadiyah diciptakan oleh forum tertinggi di tingkatannya masing masing.

Kalau PWM otomatis forum tertingginya Muswil; sebab disinilah memilih 13 formatur PWM, merumuskan struktur organisasi beserta majelis/lembaga, serta kebijakan dan program dalam satu periode kepemimpinan. Jika ditanya, siapakah yang paling banyak mengerti persoalan Muhammadiyah; pasti selain ketua adalah mereka yang paling sering turun ke lapangan. Bertemu dengan majelis/lembaga, Ortom, AUM, dan PDM, PCM, PRM.

Menjelang Muktamar saya membuat tulisan, bahkan merekomendasi salah satu nama agar masuk di jajaran PP Muhammadiyah. Sebab dalam pandangan saya, orang ini mengerti masalah dan kebutuhan Muhammadiyah. Untuk Muswil saya tidak mengajukan nama, sebab nama-nama bakal calon sementara atau calon tetap nantinya, pasti beberapa adalah kenalan saya. Mungkin dosen, teman waktu kuliah atau sesama sebagai keluarga besar alumni IPM, IMM dan Pemuda Muhammadiyah.

Maaf saya tidak menyertakan TS dan HW, sebab semasa sekolah dan nyantri tidak ada kegiatan kedua Ortom tersebut. Jika ada pasti saya ikut, dan pastinya sudah jadi pendekar TS dan Ramanda HW. Saya fokus di IMM, senang diskusi dan bikin artikel semasa mahasiswa dan artikel opini ketika masih aktif menjadi dosen.

Kembali ke topik, kebutuhan PWM Jawa Timur pasca Muktamar ke-48. Saya memulai dari fakta yang dihadapi Muhammadiyah Jawa Timur. Pertama, AUM-nya sudah maju; baik pendidikan, kesehatan dan sosial. Kemajuan AUM dipicu oleh standarisasi yang diterapkan Pemerintah. Misalnya guru dan dosen wajib menjalani sertifikasi. Dan lembaga lembaga yang dimiliki Muhammadiyah wajib menjalani akreditasi.

Kedua, diluar tiga AUM yang saya sampaikan, ada sejumlah majelis/lembaga yang harus menemukan polanya sendiri, tidak terbina bahkan diabaikan keberadaannya oleh PWM. Persis seperti kritikan para alumni Ortom pada PWM; priyayi dan tidak punya waktu mengurus diluar tiga AUM besar. Jika ada majelis/lembaga maju, itu semata karena atas karya para pimpinannya dan bukan atas arah PWM. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, majunya AUM bukan karena pembinaan majelis/lembaganya, itu karena pintar nya para direktur dan kepala sekolah.

Mungkin kritik ini bukan hanya untuk PWM, boleh jadi juga untuk PDM, PCM, PRM. Jadi majunya AUM bukan karena pemiliknya, tetapi karena atas penyelenggara (majelis/lembaga), bahkan mungkin karena kepintaran para pelaksananya; dalam hal ini oleh para direktur dan kepala sekolahnya. Ini fakta yang tidak bisa diingkari, Muhammadiyah sebagai pemilik usaha, kalah pintar dengan pelaksana usaha. Makanya jangan heran jika di AUM tertentu hubungan dengan pemiliknya kurang harmonis, bahkan berani mendikte pemiliknya.

Dan yang miris, kader otentik Muhammadiyah; apakah IPM, IMM, PM, NA, TS, HW yang terlatih, berpengalaman, pintar, terpental dan tidak terpakai di AUM, sebab Direktur, Rektor, Kepala Sekolah tidak segaris, tidak kader otentik. Sampai terlahir 13 manifesto; maknanya bukan sekedar pernyataan sikap biasa, tetapi punya muatan politik yang harus diketahui publik. Pada acara “Rembug Kader Sang Surya”, Sabtu, 10 Desember 2022, di Universitas Muhammadiyah Gresik yakni :

1. Memohon kepada seluruh warga Muhammadiyah Jawa Timur untuk turut mensukseskan Musyawarah Wilayah XVI Muhammadiyah Jawa Timur dengan menjaga kondusifitas, membentengi dari kepentingan pragmatis, serta mengedepankan ukhuwah Islamiyah selama pelaksanaan Musywil, demi terwujudnya permusyawaratan yang berkeadaban dan keutuhan Persyarikatan.

2. Meminta kepada peserta Musyawarah Wilayah XVI Muhammadiyah Jawa Timur untuk dapat berpartisipasi aktif dalam merumuskan program kerja Muhammadiyah Jawa Timur periode 2022-2027 yang mampu menjawab persoalan mendasar umat dan bangsa kekinian, meneguhkan peran amar ma’ruf nahi munkar, serta memperkuat tata kelola organisasi yang lebih akuntabel, transparan, dan inklusif.

3. Mendorong semua peserta Musyawarah Wilayah XVI Muhammadiyah Jawa Timur agar menyalurkan suaranya pada calon-calon pimpinan kolektif PWM Jawa Timur yang teruji kematangan perkaderan dan loyalitasnya pada Muhammadiyah, serta memiliki kredibilitas dalam memajukan Persyarikatan, khususnya di Jawa Timur. Oleh karena itu, Panitia Pemilihan agar segera memublikasikan 64 calon sementara anggota PWM Jawa Timur 2022-2027.

BACA JUGA :  Hewan Ternak 3 Kwintal Terjebak Genangan Lumpur di Surabaya

(Kepada Pimpinan Kolektif PWM Jawa Timur)
4. Berkomitmen untuk memegang teguh amanah dan menjalankan roda organisasi secara akuntabel, transparan, dan inklusif, serta menegakkan amar makruf nahi mungkar kepada diri sendiri, anggota Persyarikatan, masyarakat, dan juga Pemerintah.

5. Mampu membangun jaringan serta kolaborasi dengan mitra strategis baik di lingkup Internasional, Nasional, maupun lokal untuk kepentingan gerakan Muhammadiyah.

6. Memiliki keberanian menegakkan aturan organisasi secara tegas dan disiplin. Terutama terkait akuntabilitas tata kelola Majelis, Lembaga, dan Amal Usaha Muhammadiyah di Jawa Timur, serta menertibkan batasan periodesasi pimpinan amal usaha sebagaimana aturan organisasi.

7. Mampu merumuskan sistem dan mekanisme organisasi yang akuntabel untuk diimplementasikan dalam tubuh Persyarikatan maupun amal usaha dengan harapan dapat memperkecil potensi dan peluang terjadinya praktik-praktik penyalahgunaan aset Muhammadiyah, baik untuk kepentingan pribadi maupun golongan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

8. Mendesain dan menjalankan Muhammadiyah Jawa Timur sebagai organisasi pergerakan yang responsif terhadap persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan, bukan sebagai organisasi birokratis.

9. Mengembangkan mekanisme organisasi yang dapat menjamin kelangsungan dan dinamisasi Majelis dan Lembaga secara adil dan transparan.

10. Mampu menyusun kepengurusan Majelis dan Lembaga dengan mengutamakan distribusi kader yang memiliki kecakapan, kredibilitas, dan kematangan perkaderan Muhammadiyah.

11. Menjamin kelangsungan kaderisasi dan regenerasi di Persyarikatan, dengan berkomitmen untuk mengisi posisi pimpinan kolektif selama maksimal 2 periode.

12. Memberikan pembinaan dan keteladanan pada Majelis dan Lembaga agar masing-masing dapat menjalankan fungsinya secara maksimal untuk mendukung tercapainya tujuan Persyarikatan.

13. Memiliki kepedulian dan dukungan yang tinggi terhadap Angkatan Muda Muhammadiyah. Mampu membangun pola komunikasi yang aktif dan cair dengan kader-kader Persyarikatan. Kepedulian tersebut tidak hanya dalam konteks dinamika di internal Persyarikatan, tetapi juga dalam konteks dinamika keumatan dan kebangsaan di semua bidang kehidupan termasuk di bidang politik dan pemerintahan seperti diperlukannya segera merumuskan kebijakan menjelang Pemilu (Pemilihan Eksekutif, DPR/DPRD, dan DPD).

Atas 13 poin di atas, silakan dibaca dan ditafsir secara mandiri. Sampai di sini dapat dipahami mengapa ada Rembug Kader Sang Surya yang di gagas oleh para alumni IPM, IMM, PM, NA minus TS dan HW. Sebab mereka merasakan ketidak berfungsian sebagai kader otentik; pelopor, pelangsung, penyempurna amanah. Kedepannya, PWM harus bagaimana?; tentunya memperhatikan suara yang bernada kritikan sekaligus memberi solusi dari para eksponen alumni AMM. Sebab perjalanan Muhammadiyah bergantung pada kaderisasi dan kepemimpinan yang terus berproses dan benar dalam setiap tahapannya.

Yang lain, yang saya pandang masuk akal adalah PWM harus membuka diri menata organisasi sekretariat yang lebih modern. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Jamaluddin Ahmad, Sekretaris LPCR PP Muhammadiyah di periode 2015-2022. Yakni membentuk serupa dengan Direktorat; ada Sumber Daya Manusia (SDM), keuangan, administrasi dan protokoler, pusat syiar digital.

Siapa yang tepat dan lebih layak masuk dalam 13 formatur PWM? Menurut saya harus menggambarkan struktur dan bagan organisasi lengkap dengan majelis dan lembaga yang ada yang dihasilkan oleh Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta, sebab itulah senyatanya tantangan sekaligus amanak kepemimpinan. Di samping itu, siapa mereka yang layak. Maka saya memberikan ciri-cirinya saja. Saya meniru gaya bertuturnya Imam Al Mawardi, adalah mereka yang merepresentasi berbagai kemampuan;

Pertama, pintar berkomunikasi (baik secara tertulis, lisan, dan visualisasi). Kedua, yang memiliki kemampuan cepat dalam memecahkan masalah; mana yang akan di sasar dan bagaimana menyelesaikannya. Ketiga, gemar melakukan riset; idealnya adalah para akademisi, dosen atau guru yang memiliki kemampuan menceritakan dan menafsirkan data mentah, pengalaman dalam penelitian, pintar dalam menyajikan pertanyaan yang lengkap.

Keempat, memiliki perhatian yang mendetail terhadap setiap hal, meski kecil, tapi harus bisa dibaca sebagai/menjadi pentunjuk ke hal yang lebih besar. Sebab kemampuan ini adalah wujud dari kewaspadaan terhadap kesalahan kecil yang memicu munculnya masalah besar. Kelima, memiliki kemampuan Bekerjasama; di antara para antar pimpinan, majelis/lembaga, Ortom, AUM, kepemimpinan level di bawahnya hingga ke tingkatan ranting. Termasuk kemampuan berkolaborasi untuk membawa PWM berkembang maju. (*)

Penulis : Tamam Choiruddin, M.Si. (Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur Periode 1999-2001)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here