Memilih Kacang Dalam Karung

0
1076
Penulis : Prof. H. Fauzan Saleh, Ketua PDM Kota Kediri (Istimewa)

Musyawarah Wilayah (Musywil) Muhammadiyah Jawa Timur ke-16 yang akan diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Ponorogo tinggal menghitung hari. Musywil adalah ajang bagaimana pimpinan yang diangkat pada Musywil sebelumnya harus mempertanggung-jawabkan kinerjanya sesuai dengan program-program yang telah ditanfidzkan pasca Musywil. Apakah pertanggung jawaban itu akan diterima secara utuh, diterima dengan catatan, atau bahkan ditolak. Semuanya tergantung pada dinamika yang akan berkembang dalam forum tertinggi di tingkat wilayah nanti.

Selain melihat bagaimana PWM mempertanggung-jawabkan kinerjanya, dalam forum Musywil nanti kita juga akan memilih pimpinan baru Muhammadiyah untuk Wilayah Jawa Timur periode mendatang. Siapa yang layak kita tempatkan pada posisi paling bergengsi dalam komunitas Muhammadiyah Jawa Timur ke depan? Sampai detik ini belum ada nama-nama calon tetap yang akan kita pilih. Tidak heran jika kondisi ini menimbulkan kekhawatiran sebagian aktifis bahwa mereka akan dihadapkan pada dilema “memilih kucing dalam karung.” Pertanyaannya, mengapa kucing? Ini tentu karena kita latah menirukan peristilahan yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa diketahui asal-usulnya. Daripada memilih kucing, saya lebih suka memilih kacang. Memilih kacang dalam karung mungkin akan memiliki makna lebih positif.

Kacang yang berada dalam karung tentunya adalah kacang-kacang yang sudah terpilih melalui seleksi alam dan melalui proses alamiah, sehingga ia layak dan siap untuk dipasarkan. Tradisi pengkaderan di Muhammadiyah sudah cukup kuat mengakar dan telah berlangsung sepanjang sejarah persyarikatan ini. Mereka juga sudah paham siapa yang layak mengajukan diri sebagai calon pimpinan pada semua level, mulai dari Ranting sampai Pusat atau PP. Minimal, mereka adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Orang yang mencalonkan diri menjadi pimpinan dalam Persyarikatan, misalnya, tidak boleh ada motif untuk panjat sosial, memperoleh keuntungan ekonomi atau politik, menjadikannya sebagai pijakan untuk mendapat jabatan di pemerintahan, atau motif-motif serupa.

Terus apa yang akan kita dapat dengan aktif di Muhammadiyah? “Jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tetapi hidup-hidupilah Muhammadiyah.” Pesan yang sangat sakral dari KH. Ahmad Dahlan itu begitu kuat mengakar dalam dasar kesadaran setiap warga Muhammadiyah. Jadi kita akan dapat apa? Tiada lain niat kita Bermuhammadiyah ialah guna mendapatkan ridho Ilahi. Berdakwah amar ma”ruf nahi munkar guna membangun kehidupan yang sejahtera sesuai ajaran Islam, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Terus, bagaimana halnya jika ada orang yang secara faktual belum selesai dengan dirinya sendiri, apakah tidak boleh bergabung dengan Muhammadiyah? Tentu boleh. Mereka bisa menjadi pendukung setia sambil belajar untuk menata diri, agar pada saatnya bisa mengambil peran dalam memajukan Persyarikatan sesuai bakat, kecakapan dan keahliannya.

Kita masih ingat suatu kisah ketika seorang Menteri di era Suharto tiba-tiba mengajukan diri untuk menjadi calon pimpinan di tingkat Pusat atau PP. Berbekal jabatan sebagai Menteri tokoh tersebut merasa layak untuk maju dalam pemilihan calon pimpinan dalam forum Muktamar. Tampaknya ia yakin akan bisa diterima dalam forum permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah tersebut, dengan mengatakan sebagai kader “saya ini kurang Muhammadiyah bagaimana?” Namun karena dia tidak pernah mengikuti proses pengkaderan secara alamiah dan berjenjang maka dia harus memaklumi ketika pengajuan dirinya sebagai calon pimpinan di tingkat pusat tidak bisa diterima.
Memang tidak mudah mengenali siapa-siapa yang bakal kita pilih untuk menduduki jabatan di tingkat wilayah maupun pusat. Para calon pimpinan itu baru diketahui siapa-siapanya di arena pemilihan, sehingga peserta Muktamar atau Musywil tidak punya waktu yang cukup atau referensi yang tepat untuk menentukan pilihannya secara matang.

BACA JUGA :  Dukung Bintang Emon Lawan Buzzer

Tidak heran jika belakangan muncul desakan agar identitas para calon pimpinan baik pada level Muktamar maupun Musywil segera dibeberkan ke peserta lebih dahulu sehingga peserta Muktamar/Musywil bisa mengetahui track record-nya secara tepat. Di sinilah makna memilih kacang dalam karung, yang berbeda dengan memilih kucing dalam karung. Kalau kacang dalam karung itu segera dibuka, maka orang akan segera mengetahui kualitasnya untuk dipilih. Kacang, berbeda dengan kucing, tidak akan lari ke mana-mana.

Tetapi kalau kucing dalam karung yang dipilih kita tidak bisa membuka karungnya. Sebab begitu karungnya dibuka, kucing pasti akan segera lari berkeliaran dan sulit ditangkap, apalagi dipilih. Kader-kader persyarikatan yang akan kita pilih dalam Musywil nanti secara umum telah berproses secara alamiah, berpengalaman mengelola organisasi, berintegritas, memahami ideologi Kemuhammadiyahan secara mantap dan telah mampu menginterrnalisasikan nilai-nilai perjuangan serta pedoman hidup Islami dalam Muhammadiyah. Jadi kita akan memilih kacang….. bukan kucing dalam karung.

Memang tidak semua kader Persyarikatan mempunyai peluang untuk “memasarkan diri” ke daerah-daerah agar dikenali dengan baik oleh jama’ah. Kesempatan untuk memasarkan diri ini biasanya diperoleh ketika yang bersangkutan mendapat undangan sebagai muballigh pada forum-forum pengajian rutin di setiap daerah. Semakin sering seorang tokoh diundang ke daerah-daerah maka ia semakin banyak dikenali oleh warga. Moment seperti itu menjadi modal dasar untuk maju ke level pimpinan, baik di tingkat Pusat, Wilayah, dan juga Daerah. Susahnya, di Muhammadiyah ini orang tidak boleh melakukan kampanye untuk bisa dipilih jadi pimpinan. Hal itu tidak lazim dan tidak dibenarkan dalam Bermuhammadiyah. Akhirnya, kita harus memilih nama-nama popular tanpa mengetahui kualitas ideologis, komitmen maupun kecakapan serta pengalamannya dalam berorganisasi.

***

Dalam tradisi Bermuhammadiyah sampai hari ini tidak ada forum untuk menunjukkan ambisi seseorang untuk maju sebagai calon pemimpin. Bahkan menjelang pemilihan pun tidak ada jadwal untuk memaparkan visi-misi bagi para calon pimpinan agar kita terhindar dari stigma memilih kucing dalam karung. Apakah tradisi ini perlu dipertahankan, atau harus segera dibongkar? Hanya keputusan tertinggi di tingkat Pusat yang bisa memberikan jawaban. Dalam praktik, kita disuruh memilih sejumlah nama yang telah dikerucutkan secara bertahap melalui proses yang sudah ditetapkan dalam AD/ART Persyarikatan.

Sejauh ini kita tidak mengenal betul pribadi dan kualitas calon pimpinan yang telah disodorkan dalam mekanisme pemilihan pada semua jenjang. Suka-tidak suka, semua pilihan kita tergantung pada informasi yang sangat terbatas dari orang-orang yang merasa lebih tahu tentang nama-nama yang disodorkan dalam menu pemilihan. Jadi, sebaiknya karung yang telah berisi kacang-kacang pilihan itu segera dibuka saja, supaya kita segera tahu figur-figur pilihan untuk kita tentukan mana yang terbaik dari yang terbaik, deciding the best among the best. (*)

Penulis : Prof. H. Fauzan Saleh, Ph.D (Ketua PDM Kota Kediri, Guru Besar IAIN Kediri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here