Muhammadiyah Jatim Butuh Sosok Seperti Buya Yunahar Ilyas

0
1023
MUSYWIL ke-16 Muhammadiyah Jawa Timur

Pasca meninggalnya Buya Yunahar Ilyas, kita merasakan sedih. Semakin berkurang saja tokoh di Muhammadiyah yang punya dua kapasitas sekaligus, sebagai ulama panutan sekaligus intelektual produktif dalam tulisan.

Ini adalah pekerjaan berat bagi Muhammadiyah. Pasalnya, di kepemimpinan tingkat Pusat hingga level Wilayah, hendaknya pimpinan itu mempunyai dua kompetensi tersebut. Hal ini karena problem yang dihadapi Muhammadiyah biasanya berurusan dengan urusan agama dan kemasyarakatan. Dan, jalan penyelesaian yang diambil tentulah berdasarkan dalil agama dan ilmu pengetahuan.

Muhammadiyah perlu memperbanyak kepemimpinannya dengan figur-figur yang menguasai ilmu agama secara mendalam dan kajian akademik yang luas.

Di Muhammadiyah Jawa Timur, misalnya, penulis melihat sosok seperti Kiai Nurbani sangatlah pantas menjadi salah satu figur yang menggantikan peran intelektual Buya Yunahar.

Di lingkungan Muhammadiyah, Nurbani Yusuf dikenal sebagai Kiai sekaligus penulis yang prolifik. Berbagai artikelnya menggugah kesadaran kita karena senantiasa Muhammadiyah mengedepankan pemikiran yang rasional dan inklusif.

Salah satu artikelnya yang viral di media sosial ialah, ketika dia menyoroti aktivisme dakwah para mubaligh sosmed yang ramai dalam satu dekade ke belakang. Menurutnya, mereka ini meskipun tidak semuanya- sebenarnya tak benar-benar paham agama secara mendalam. Tapi karena hebatnya rekayasa teknologi informasi, maka konten-konten dakwahnya bisa menyebar secara luas.

Padahal, di antara mereka, ada yang sikap Nasionalisme-nya perlu dipertanyakan. Mereka menolak demokrasi, apalagi Pancasila yang bagi Muhammadiyah ideologi itu telah dianggap final melalui darul ahdi wa syahadah.

BACA JUGA :  Potret Keluarga Demokratis

Hemat Kiai Nurbani, para mubaligh ini merupakan “pendatang” baru di arena dakwah. Tetapi, mereka itu begitu digandrungi warga Muhammadiyah. Padahal, pengkhutbah-pengkhutbah tersebut bukanlah pimpinan atau ustadz berpahamkan ideologi Muhammadiyah.

Ironisnya, tak hanya sekali para penganut mubaligh sosmed tersebut bilang bahwa cara berdakwah Muhammadiyah itu lembek. Tidak keras. Dakwah Muhammadiyah dianggap hanya fokus pada gerakan amar ma’ruf, sementara nahi munkarnya tidak diurusi.

Kiai Nurbani tegas menyebut orang-orang yang mengatakan demikian itu sebagai warga Muhammadiyah yang kehilangan identitas. Akibat kader-kader yang bermental parasit itulah pintu-pintu amal usaha Muhammadiyah yang inklusif itu sekarang banyak dikuasai kelompok fundamentalis.

Parahnya lagi, kata Nurbani, otoritas keagamaan para Pimpinan Muhammadiyah dibuat berantakan karena menyebar narasi ngawur dengan menganggap para Pimpinan Muhammadiyah banyak yang tidak paham agama.

Hemat Nurbani, sangat jelas orang-orang yang demikian inilah yang menggerogoti Muhammadiyah dari dalam. Semoga kita bisa intropeksi diri, dan kembali mengajukan khittah Muhammadiyah.

Penulis : Muhammad Sabil, (Kader Muhammadiyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here