Musywil Muhammadiyah Jatim : Proporsional dan Segmentasi Sosial Budaya

0
792
Penulis : Fauzan Saleh (Ketua PDM Kota Kediri)

Menjelang hari H pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Musywil) ke-16 Muhammadiyah Jawa Timur, dinamika internal di kalangan warga Persyarikatan terasa semakin menghangat. Ini tampaknya bukan Musywil yang serba adem ayem dan tenang-tenang saja, tanpa dinamika. Tentu kita tidak menginginkan adanya kegaduhan dalam Musywil nanti. Itu bukan budaya Muhammadiyah.

Selama ini kita selalu menjaga prinsip-prinsip keadaban dalam bermusyawarah dalam setiap jenjang organisasi. Namun demi kemajuan dan perbaikan yang lebih progresif, kita perlu menyadari bahwa tidak ada yang sempurna pada diri manusia, siapa pun orangnya. Itulah perlunya check and balance, evaluasi, dan kritik membangun dalam proses pertanggung-jawaban atas kinerja mereka yang telah mengemban amanah dari warga Persyarikatan.

Memilih kacang dalam karung (bukan memilih kucing dalam karung) tampaknya bukan hal yang tidak mungkin kita lakukan, meskipun harus tetap berada pada koridor normatif Persyarikatan. Jalinan silaturrahmi dan komunikasi intensif antara Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di Jawa Timur telah memberi landasan yang cukup kredibel untuk dapat meneropong figur-figur ideal dalam melanjutkan estafet kepemimpinan Muhammadiyah Jawa Timur ke depan.

Hal itu dilakukan bukan untuk “ndisiki kerso, atau nggege mongso.” Kebijakan untuk “tidak membuka karung” sebelum waktunya tampaknya memiliki landasan filosofi yang dapat kita maklumi keabsahannya. Tidak lazim dalam Muhammadiyah menciptakan kubu-kubuan, membentuk tim sukses untuk mengegolkan calon tertentu, atau memaksakan kehendak agar calon yang dijagokan menang dalam pemilihan. Itu bukan tradisi yang baik, maka harus dicegah, dan tidak boleh ditiru oleh warga Muhammadiyah.

Yang perlu digaris-bawahi di sini ialah aspek proporsionalitas berdasarkan segmentasi sosio-kultural masyarakat Jawa Timur secara keseluruhan. Kita tahu masyarakat Jawa Timur ini tidak homogen. Secara kultural Jawa Timur merupakan sebuah mozaik kebudayaan dengan subkultur yang sangat beragam. Ada segmen atau komunitas Arek, Pendalungan, Jawa Pasisiran, Madura, Osing, dan Mataraman, sekedar menyebut sebagian contoh. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat wilayah ke depan sebisa mungkin merepresentasikan segmentasi dari kebhinnekaan sosio-kultural yang ada.

Proporsionalitas ini sangat perlu menjadi bahan pertimbangan, agar terjadi keseimbangan. Maafkan kalau saya keliru dalam memberikan penilaian. Sejauh ini mereka yang berada di jajaran PWM sepertinya kurang merepresentasikan segmentasi sosial budaya yang ada di Jawa Timur. Kadang-kadang terkesan terlalu Surabaya-sentris. Bahkan, sekali lagi mohon maaf, terkesan elitis. Persoalan-persoalan dan dinamika yang ada di daerah hanya dipandang dari kacamata Surabaya secara top-down perspective. Jadi penilaiannya cenderung bias, dan sebagian terasa kurang adil.

Itulah perlunya proporsionalitas dalam pemilihan calon-calon pimpinan di tingkat wilayah yang akan datang. Memang kita paham bahwa untuk menjangkau Surabaya setiap pekan untuk bersidang di Kantor PWM secara rutin perlu biaya cukup besar, yang mungkin cukup berat untuk bisa ditanggung oleh unsur pimpinan yang berdomisili jauh dari Surabaya. Namun hal itu tidak dapat dijadikan alasan pembenar untuk mengabaikan prinsip proporsionalitas, demi terwujudnya keseimbangan dan equalitas dalam mengambil kebijakan. Insya Allah masih cukup banyak kader-kader dari daerah di luar Surabaya-Malang dan sekitarnya yang siap berkhidmat untuk kemajuan Muhammadiyah Jawa Timur ke depan.

BACA JUGA :  Sah! Ketum NA : Dari Puspitarini ke Puspitasari

Kita tentu sangat salut dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih oleh PWM Jawa Timur periode 2015-2022. Namun demi rasa cinta kita pada Muhammadiyah, kita tidak boleh terbuai oleh sanjungan atas prestasi yang dicapai selama ini. Sebagai manusia kita tidak pernah sempurna. Kita tidak ingin mencari-cari kesalahan orang lain, karena kita pun punya banyak kekurangan. Di Muhammadiyah kita diajarkan untuk menerima budaya kritis tanpa mengurangi loyalitas kita pada Persyarikatan.

Elemen budaya demokratis dan egalitarianisme sudah tertanam sejak awal berdirinya Persyarikatan dengan membuang tradisi feodalisme. Semua ini karena kita mengedepankan prinsip-prinsip rasionalitas tanpa mengurangi keadaban dalam berinteraksi sesama yang lain. Hal inilah yang mendorong kita untuk melihat semua persoalan secara obyektif dan jujur. Kita sangat salut dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada jajaran Panitia Musywil, wa bil-khusus PDM Ponorogo dan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, yang dengan penuh semangat telah mempersiapkan segala sesuatunya demi suksesnya gawe besar Musywil Muhammadiyah Jawa Timur di penghujung tahun 2022 ini. Kemeriahan, kegembiraan dan jalinan silaturrahmi yang akrab akan mewarnai pelaksanaan gawe besar ini. Semoga momentum amat bergengsi ini bisa menghasilkan pimpinan yang handal untuk kemajuan Muhammadiyah di Jawa Timur yang akan datang.

Terakhir, kita sangat salut pada tokoh-tokoh senior di jajaran pimpinan wilayah yang telah puluhan tahun mengabdi di PWM. Mereka merasa sudah “tuwuk” dan menyadari perlunya memberikan kesempatan lebih luas pada sumber daya insani yang lebih segar (untuk tidak mengulang ungkapan “darah segar”) dari kader Persyarikatan agar bisa berkiprah lebih leluasa di jajaran Pimpinan Wilayah. Integritas pribadi, kreativitas yang tinggi, di samping energi yang prima disertai idealisme yang tinggi akan menjadi modal penting untuk mendatangkan kemajuan lebih besar bagi Muhammadiyah di Jawa Timur. Semoga. “The future must be better and brighter”

Penulis : Fauzan Saleh (Ketua PDM Kota Kediri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here