Reinkarnasi Jipolmu (?) dan Darah Baru Muhammadiyah

0
815
Penulis : Abd. Sidiq Notonegoro, aktivis Muhammadiyah Gresik

Menyambut Musywil ke-16 Muhammadiyah Jatim di Ponorogo

Semakin mendekati hari pelaksanaan Musyawarah Wilayah ke-16 Muhammadiyah Jawa Timur di Ponorogo pada 24-25 Desember 2022 ini, perbincangan tentang siapa yang semestinya harus masuk dalam jajaran 13 besar anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim semakin hangat, bahkan cenderung memanas.

Berbagai wacana (isu?) berkembang diseputar perhelatan reformasi dan regenerasi kepemimpinan Muhammadiyah Jatim ini. Misalnya, ada yang menyebut Musywil ke-16 ini tidak lebih dari sekedar untuk mengisi sisa ‘kursi’ kosong, ada yang menginginkan musywil sebagai perhelatan ‘tranfusi’ darah segar untuk Muhammadiyah, ada pula yang berharap Musywil ke-16 ini berjalan alamiah sesuai dengan substansi “musyawarah wilayah” yang demokratis sebagaimana yang selaras dengan AD/ART Muhammadiyah.

Ironisnya, tidak setiap harapan itu dikemas dengan cara yang apik sehingga menarik simpatik. Sebaliknya, ada kemasan-kemasan yang terkesan merendahkan warga Muhammadiyah — utamanya yang memiliki hak suara di Musywil — seolah merupakan pribadi buta yang tidak memiliki ‘referensi’ dalam mengenal dan memahami calon-calon yang hendak dipilihnya.

Melalui jejaring sosial, khususnya grup Whatsapp, muncul selebaran yang mengatasnamakan diri dari elemen “Jipolmu” (Jihad Politik Muhammadiyah) yang merekomendasikan 13 (tiga belas) nama kepada sejumlah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) agar dipilih dalam Musywil ke-16 tersebut. Menjadi pertanyaan, benarkah bahwa rekomendasi tersebut benar-benar dari Jipolmu? Atau kelompok kepentingan yang mencatut nama besar Jipolmu?

Jipolmu Reinkarnasi?

Jika pun benar itu dari Jipolmu, patut dipertanyakan pula “Jipolmu yang mana?” Bukankah Jipolmu merupakan besutan PWM untuk kepentingan politik Muhammadiyah Jawa Timur terkait dengan perhelatan politik 2019 lalu? Dan seiring dengan berakhirnya Pemilu 2019, berakhir pula usia Jipolmu.

Namun jika kemudian dikatakan Jipolmu yang sekarang merupakan reinkarnasi dari Jipolmu 2019, sungguh naif jika panggungnya menjadi sangat menyempit, dari panggung politik nasional untuk kepentingan Muhammadiyah dalam rana kebangsaan ke panggung Persyarikatan untuk kepentingan individu-individu tertentu. Bukankah ke 64 nama calon formatur yang sudah disahkan oleh “panitia pemilihan” merupakan pribadi-pribadi yang teruji ideologinya di Muhammadiyah? Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jatim tentu tidak gegabah dalam mengusulkan 13 nama untuk dimasukkan sebagai calon formatur.

Andai Jipolmu saat ini hidup kembali, tentu merupakan sesuatu yang sangat diharapkan, tentunya tidak patut dikaitkan atau bahkan mengkaitkan diri dengan perhelatan Musywil ke-16 Muhammadiyah Jatim ini. Apapun alasannya, Muhammadiyah perlu berkontribusi dalam Pemilu 2024 dengan merekomendasikan kader politik terbaiknya untuk terjun ke gelanggang politik. Dan keberadaan Jipolmu sangat penting dalam mensukseskannya.

Namun jangan sekali-kali Jipolmu (itu pun jika benar adanya) merasa hebat dan terhormat, jika gelanggang permainannya justru di arena Musywil Muhammadiyah ini. Cukuplah Musywil ke-16 Muhammadiyah Jatim ini menjadi panggung fastabiqul khairat masing-masing PDM dan PCM yang menjadi musyawirin. Diharapkan kemudian dari panggung Musywil ke-16 ini memunculkan rekomendasi politik untuk mendinamisasi dan memberi amanah Jipolmu berkaitan dengan misi politik Persyarikatan dalam memberi warna pada Pemilu 2024.

BACA JUGA :  Musywil jangan riuh memilih Calon, Tapi menyiapkan Program baru.

Hingga detik ini saya masih yakin bahwa “Jipolmu” tidak ada atau minimal di‘mati-suri’kan, paling tidak sampai kelak musyawirin Musywil ke-16 Muhammadiyah Jatim di Ponorogo ini merekomendasikan perlunya Muhammadiyah Jatim menitipkan beberapa kader terbaiknya melalui satu atau beberapa partai politik untuk bertarung di pentas Pemilu Legislatif 2024. Namun, jika di rasa Muhammadiyah tidak perlu mengulang kebijakan politik menjelang Pemilu 2019 lalu, maka secara eksistensi Jipolmu pun tidak dibutuhkan lagi, dengan kata lain bubar dengan sendirinya.

Pentingnya Darah Baru

Muhammadiyah sejak berdiri hingga kini sudah berganti-ganti kepengurusan, termasuk Muhammadiyah Jatim yang juga sudah mengalami pergantian kepemimpinan sebanyak 16 kali. Hal ini merupakan sinyal bahwa usia Persyarikatan Muhammadiyah itu jauh lebih Panjang daripada usia para pengurusnya. Karena itulah, regenerasi merupakan sunnatullah yang tidak boleh diingkari dan dihindari.

Sebagai organisasi modern nan berkemajuan, Muhammadiyah memiliki tradisi penyegaran kepengurusan 5 (lima) tahun sekali, mulai tingkat pusat hingga tingkat ranting. Karena itu, pengkaderan di Muhammadiyah merupakan keniscayaan yang tidak boleh diabaikan. Adanya organisasi otonom (ortom) di Muhammadiyah — seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah dan sebagainya — menjadi penanda bahwa Muhammadiyah siap hidup sepanjang masa. Muhammadiyah tidak akan kehabisan stok generasi penerus.

Keberadaan ortom-ortom tersebut menjadi penegas bahwa “haram” di Muhammadiyah muncul statemen “krisis kader pemimpin”. Jika ada pemimpin Muhammadiyah yang merasa belum punya pengganti dirinya, maka hal itu mengisyaratkan tentang 2 (dua) hal, yaitu : 1) sosok pemimpin yang gagal, atau 2) sosok pemimpin yang enggan di gantikan.

Perhelatan lima tahunan bukanlah perhelatan biasa, bukan perhelatan untuk mengisi kursi kosong. Perhelatan lima tahunan merupakan perhelatan evaluasi kepemimpinan. Ada pemimpin yang lama yang sementara masih perlu dipertahankan, namun juga ada pemimpin yang saatnya harus legowo digantikan. Roda regenerasi harus terus dijalankan. Berlimpahnya kader di Muhammadiyah membawa inspirasi untuk mengikis peluang rangkap jabatan, apalagi rangkap jabatan di Persyarikatan dan Amal Usaha.

Strategi Politik

Menjaga elan vital regenerasi kepemimpinan tidak cukup dibiarkan berjalan alamiah. Muhammadiyah perlu merumuskan strategi politik regenerasi agar tidak ada yang tersakiti, maupun tidak merasa tidak dibutuhkan lagi di Muhammadiyah.

Maka semangat transformasi kader di Muhammadiyah perlu dan penting untuk diterapkan. Transformasi kader dari kader persyarikatan ke kader umat, dari kader umat ke kader bangsa perlu terus didinamisasi.

Kita berharap Musywil ke-16 Muhammadiyah Jatim di Ponorogo ini berjalan lancar dan sukses. Bukan sekedar sukses dalam memilih 13 formatur, namun juga sukses dalam menjaga roda transformasi kader.

Penulis : Abd. Sidiq Notonegoro, aktivis Muhammadiyah Gresik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here