RBC Institut Adakan Silaturrahim Akhir Tahun

0
2166
Foto : Silaturrahim Akhir Tahun 2022 dan Expo Karya Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Jum`at, 30/12/2022.

MALANG, PIJARNews.ID – Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar menggelar Silaturrahim Akhir Tahun 2022 dan Expo Karya bertempat di kantor RBC pada Jum`at, 30/12/2022.

Program ini dilaksanakan dengan tujuan membahas dinamika kebangsaan dan keummatan yang terjadi selama satu tahun ke belakang. Selain itu, acara ini juga dimaksudkan untuk mempererat relasi RBC dengan berbagai mitra komunitas yang selama ini berkolaborasi.

Direktur Riset RBC Institute, Hasnan Bachtiar mengatakan, silaturahmi adalah kunci untuk membangun kemajuan-kemajuan di masa yang akan datang. Dengan berbagai kolaborasi yang solid dan kreatif, akan mempermudah meraih pencapaian dan prestasi.

Acara tersebut dihadiri sejumlah narasumber di antaranya adalah Dr. Nazaruddin Malik (Wakil Rektor II UMM), Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati (Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya), Prof. Dr. Unti Ludigdo, Ak (Guru Besar Bidang Ilmu Etika Bisnis dan Profesi Universitas Brawijaya), Khoirul Abduh, M.Si (Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jombang/Inisiator Komunitas Kedai Jambu Institut), Dr. KH. Nurbani Yusuf (Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar), Dr. Nur Subeki (Wakil Rektor III UMM), Luthfi J. Kurniawan (Direktur Eksekutif Malang Corruption Watch), dan beberapa lainnya.

Acara dibuka oleh Subhan Setowara, Direktur Eksekutif RBC Institute. Dia menuturkan, tujuan acara silaturahim ini semata ingin membangun simpul-simpul pergerakan khususnya yang ada di Malang Raya. Silaturrahim dan kolaborasi itu bersifat lintas profesi dan lintas generasi. Tujuannya agar terbangun jejaring yang kuat dan gagasan yang sinergis untuk membangun negeri ini.

“Kami ingin memberikan pandangan terkait isu dan langkah strategis sesuai dengan posisi dan latarbelakang kita masing-masing, baik dari elemen kampus maupun aktivis organisasi,” kata Subhan.

Kita sadar, lanjut Subhan, tahun 2022 adalah tahun yang tidak mudah. Tahun ini adalah masa di mana Indonesia dan mungkin seluruh negara di dunia sedang berjuang mengupayakan pemulihan ekonomi pasca Covid-19.

Melalui acara ini, Dewan Pembina RBC Institute Nazaruddin Malik menyampaikan bahwa menjadi Muslim berarti menjadi bagian masyarakat yang turut menyelesaikan masalah. “Refleksi keislaman hari ini mestinya kita menjadi bagian dari komunitas yang memberi solusi, bukan menjadi bagian dari masalah itu sendiri,” kata Nazaruddin yang juga menjabat sebagai Warek II UMM.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya Sasmito Djati berpesan khususnya untuk para kader Muhammadiyah, setiap orang harus punya perencanaan, sehingga yang namanya Islam Berkemajuan itu nyata adanya. Menjadi ciri khas orang Muslim yang modern.

BACA JUGA :  Pilkada 2020, DPC PDIP Ponorogo Tunggu Rekom DPP

Menurutnya, ciri Muslim yang modern itu harus berfikir inklusif dan mengedepankan akhlak. Senada dengan Sasmito, Guru Besar Bidang Ilmu Etika Bisnis dan Profesi Universitas Brawijaya Unti Ludigdo menyebut konteks Islam Berkemajuan bisa dimulai dari dalam keluarga.

Pada kesempatan ini, Wakil Ketua PDM Jombang Khoirul Abduh mengkritisi soal pengelolaan amal usaha Muhammadiyah. Dia menjelaskan berbagai pekerjaan rumah bagi Muhammadiyah sekarang. Salah satunya tentang pengelolaan rumah sakit dan pendidikan Muhammadiyah. Menurut dia, para pimpinan Muhammadiyah perlu memiliki empati terhadap para guru di sekolah-sekolah Muhammadiyah di pedesaan.

“Mereka ada yang bergaji 250 ribu per bulan. Bahkan, sudah bekerja 20 tahun di amal usaha, tapi gajinya masih 750 ribu setiap bulan. Jelas ini ironi, karena pada sisi yang lain Muhammadiyah mementingkan internasionalisasi: membangun amal usaha di luar negeri, bahkan berencana membeli gereja, tapi ada guru-guru yang berkhidmatnya sudah teruji di Muhamadiyah, tapi kesejahteraannya masih memprihatinkan”, jelas Abduh yang juga sebagai pendiri Kedai Jambu Institut (KJI).

Di acara yang sama, Pengasuh Komunitas Padang Makhsyar Kiai Haji Nurbani Yusuf mengatakan, situasi saat ini kita mulai kehilangan keberadaan para ulama. Kehadiran mereka (mungkin) ada secara fisik, tetapi peran-perannya dikebiri oleh politik identitas yang mengabaikan nilai-nilai.

“Ketika ulama mengalami marjinalisasi, maka tradisi pesantren di Muhammadiyah sebenarnya telah hilang. Jika tradisi pesantren hilang, berarti adab kita juga ikut hilang,” tutur Nurbani Yusuf.

Direktur Eksekutif Malang Corruption Watch Luthfi J. Kurniawan membenarkan perkataan Nurbani tersebut. Dia mengatakan, jika para kader muhammadiyah banyak kehilangan poin penting dalam bermuhammadiyah, berarti kita telah kehilangan adab dan ideologi.

Karena alasan itulah, menurut Direktur Program RBC Institute Nafik Muthohirin, misi mencerdaskan kehidupan bangsa yang disuarakan Muhammadiyah sejak lama itu harus dihidupkan kembali.

“Acara silaturahmi dan membincang isu-isu strategis keummatan ini diadakan agar para cerdik dan pandai ini tidak menjadi intelektual menara gading. Mereka bisa berperan menyuarakan nilai-nilai untuk kemajuan Islam dan bangsa ini, contohnya dengan memperbanyak forum-forum gagasan seperti ini,” tutup Nafik.

Dalam hal ini, sebagai upaya penguatan dan penyebarluasan pandangan Islam Berkemajuan, RBC merasa perlu terlibat dalam membangun dan memperluas gagasan kebangsaan untuk Indonesia berkemajuan.

Penting diketahui bahwa acara ini dihadiri sekitar 150 pemuda dan pemudi se-Malang raya dari latarbelakang dosen dan aktivis di UMM, UB, UM, UIN Malang, dan perguruan tinggi lainnya. (Riel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here