Foto: Barsama para wanita suku Li & Miaw. (dok/pijarnews.id)

Oleh: Sholikhul Huda, M.Fil.I.*

PIJARNEWS.ID – Beberapa Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) usai saja melakukan Wisata Studi di Negeri Tirai Bambu, tepatnya di Provinsi Hainan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) China. Agenda berlangsung selama 5 hari (1-5/11), dikuti sekitar 50 orang dengan dipimpin langsung oleh Bapak Dr. Ridlwan (Wakil Rektor II) dan Bapak Dr. Makhsun (Wakil Rektor III) UMSurabaya.

Wisata Studi tersebut tentu telah banyak memberi pengalaman, baik ilmu dan juga cerita unik sekaligus menarik, tentang budaya dan keseharian masyarakat China, terutama di Provinsi Hainan, pulau tropis terkecil dan terselatan dari RRT atau China disisi selatan.

Jika ada suatu Mahfudzot “Uthlubul ‘Ilma Walau Bishshiin” yang berarti belajarlah sampai ke negeri China. Menjadi sangat tepat karena kita saat ini telah melihat perkembangan China yang begitu pesat, baik dalam hal budaya, ekonomi, infrastruktur serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selama dalam wisata studi, ada banyak pengalaman yang menurut saya cukup unik dan memberikan pengetahuan baru. Pengalaman ini akan saya tulis dalam beberapa catatan bertemakan, “Sinau (Belajar) di Negeri China”.

Sinau Pertama, Budaya Unik Suku Li & Miaw di Desa Yetian Sanya, Provinsi Hainan, China.

Sejarah suku Li (Hlai) adalah suku minoritas terbesar dari etnis Tionghoa. Suku Li sebagian besar hidup di lepas pantai selatan Tiongkok daratan, tepatnya di daerah Sanya, Provinsi Hainan. Jumlah mereka sekitar 1,3 Juta Penduduk. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Hlai. Suku ini masih menagunut kepercayaan Animisme dan sebagian menganut agama Budha Thraveda.

Suku Li menyebut dirinya sebagai orang “Hlai” atau dikenal dengan sebutan “Sai” atau “Say”. Dan selama masa Dinasti Sui mereka lebih dikenal dengan Suku Liliao. Suku Li merupakan salah satu suku minoritas terbesar, dan diakui secara resmi dari 56 Suku oleh Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Selama penjajahan Jepang di China, Suku Li mengalami penderitaan yang luar biasa, mereka ikut berjuang bersama Kelompok Komunis Cina dalam melawan penjajah Jepang, serta berjuang pada saat perang saudara melawan Pemerintah Nasionalis China. Sehingga saat ini Suku Li merupakan suku terhormat dalam pemerintahan RRT. Salah satu penghargaan yang diberikan kepada meraka adalah, dengan dibangun Desa wisata khusus Suku Li dan Miaw, yang kerap disebut dengan “Yetian Minority Village“. Sehingga di Desa Yetian Sanya, Provinsi Hainan, Yetian Minority Village merupakan Desa Wisata yang lekat dengan cerita kehidupan dan budaya Suku Li & Miaw.

BACA JUGA :  Ditunjuk Jokowi Jadi Menko PMK, Khoirul Abduh Sebut Muhadjir Effendy Sosok Negarawan

Suku Li & Miaw merupakan suku yang memiliki budaya unik, dan sampai saat ini masih terus dijaga serta dilestarikan, budaya tersebut diantaranya:

1. Budaya memberi salam dengan jewer telinga

Bagi Suku Li & Miaw jika ada tamu yang datang ke Desa atau ke rumah mereka, maka bentuk salamnya adalah dengan menyayi dan menjewer telinga tamu, jika tamu tersebut membalas menjewer telinga tuan rumah berarti tamu tersebut akan tinggal di rumah tersebut.

Budaya salam dengan Jewer telinga suku Li & Miaw. (dok/pijarnews.id)

2. Skill menenun sebagai syarat gadis yang ingin menikah

Gadis di suku Li & Miaw wajib dan harus bisa menenun, sebagai syarat untuk bisa menikah, jika belum bisa menenun maka tidak diperbolehkan untuk menikah. Tradisi ini menjadikan kerajinan tenun suku Li & Miaw dapat diakui paling bagus dan paling unik. Konon hasil tenunan suku Li & Miaw dulu hanya diperuntukan pada para kaisar, sehingga tidak untuk di jual komersial.

Skill memenun untuk gadis suku Li & Miaw jika ingin menikah. (dok/pijernews.id)

3. Melamar gadis dengan menyayi

Tradisi ini merupakan tradisi unik suku Li & Miaw lainnya dalam adat perkawinan. Cara melamar bagi Pria suku Li & Miaw kepada calon pasanganya, adalah dengan bernyayi di depan rumah si gadis, jika si gadis keluar menengok lewat jendela itu pertanda lamaranya telah diterima.

4. Skill kerajinan keramik, perak dan alat musik bagi laki-laki

Sebagian besar pekerjaan suku Li & Miaw adalah menjadi pengerajin, mulai dari keramik, perak dan juga alat musik tradisional. Sehingga sebagian besar laki-laki suku Li & Miaw sangat pandai membuat kerajinan.

Kerajinan suku Li & Miaw. (dok/pijarnews.id)

5. Meniup suling dengan hidung

Budaya unik ini dimiliki Suku Miaw, yaitu meniup seruling dengan hidung yang disebut dengan “Kauxio” atau “Lilaluo”.

Permainan musik suku Li & Miaw. (dok/pijarnews.id)

6. Berdagang tanpa penjual

Budaya dagang suku Li & Miaw juga cukup unik, Mereka berdagang dengan tanpa penjual, dagangan mereka biasaya ditaruh di depan rumah dengan ditulis harga, sehingga pembeli tinggal menaruh uang di tempat yang sudah disediakan. Jika ada uang kembalian, maka pembeli juga tinggal mengambil uang di tempat yang disediakan.

Model dagang tersebut diyakini oleh suku Li & Miaw bahwa kejujuran adalah nilai tertinggi, jika ada yang tidak jujur atau mencuri, maka akan terkena hukum karma. Nilai kejujuran inilah yang kita perlu harapkan juga pada pemimpin Indonesia, kita harus belajar banyak dan salut pada Mereka (Suku Li & Miaw) di Provinsi Hainan, China.

*) Kepala PPAIK UM Surabaya & Direktur Lembaga Kajian & Riset Kedai Jambu Institute, Jombang – Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here