Foto: Prosesi pelantikan pengurus Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3) Periode 2019/2020 di Surabaya. (dok.panitia/pijarnews.id)

SURABAYA Dalam upaya membentuk kader mubaligh dilingkup Mahasiswa, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Surabaya menyelenggarakan Tabligh Akbar dan sekaligus mendeklarasikan Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3). Acara tersebut bertempat di Gedung At-Tauhid Tower, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Minggu (10/11).

Berawal dari kegelisahan dan analisa pimpinan IMM dari berbagai kampus di Surabaya, atas terjadinya krisis kader mubaligh di Muhammadiyah, serta tidak adanya wadah bagi kader yang telah mengikuti pelatihan mubaligh. Oleh karena itu, bidang Tabligh PC IMM Surabaya mendeklarasikan Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3).

Saat ini KM3 telah resmi menjadi lembaga semi otonom (LSO) dibawah naungan PC IMM Surabaya, yang bergerak diranah tabligh dan dakwah, dengan tujuan utamanya yaitu mewadahi para kader IMM dalam mengembangkan minat dan potensinya sebagai kader mubaligh.

Acara dimulai dengan sesi pelantikan pengurus KM3 oleh M. Firdaus Su’udi selaku ketua PC IMM Surabaya, lalu dilanjutkan dengan sambutan oleh Fakhrudin Lubis sebagai ketua KM3. Dalam sambutannya ia menyampaikan, bahwa dalam menjalankan peran dakwah, seorang mubaligh harus menanamkan tiga poin, yaitu wani ikhlas, wani cerdas, dan wani tuntas. Sebab ketiga hal ini merupakan spirit dakwah atau jargon KM3.

“Seorang mubaligh dalam menjalankan perannya setidaknya memiliki tiga point penting, yaitu wani ikhlas, wani cerdas, dan wani tuntas”. Tutur Fakhrudin Lubis, saat memberi sambutan pembukaan acara.

Selanjutnya ia menutup sambutan dengan memaparkan gerakan perdana program KM3, yaitu akan mengadakan pelatihan perawatan jenazah dari masjid ke masjid yang ada di Surabaya, hal ini semoga akan bermanfaat bagi kader dan masyaakat pada umumnya.

Muhibuddin Nugroho, selaku promotor KM3 dan sekaligus ketua bidang tabligh PC IMM Surabaya, menerangkan bahwasannya wacana pembentukan KM3 sudah ada sejak periode 2017, hanya saja terdapat kendala yang membuat KM3 harus diundur pembentukannya.

“Gagasan pembentukan KM3 ini sebenarnya sudah digagas PC IMM Surabaya periode 2017, yang pada saat itu masih sekadar wacana, hanya saja sudah masuk program pelatihan mubaligh, tapi belum terealisasi menjadi lembaga, dan pada Tahun ini Alhamdulillah, Allah SWT memberikan kesempatan untuk merealisasikannya.” Ungkap Muhibuddin dengan penuh rasa syukur.

BACA JUGA :  Resmi Dilantik, Fanny Fajar Nahkodai PK IMM Al-Farabi Tuban

Selanjutnya Muhibuddin Nugroho juga berharap agar KM3 ini dapat bertahan dan berkembang ditengah tantangan zaman yang kompleks, serta kader Ikatan juga bisa mengembangkan KM3 dengan kemampuan yang dimiliki.

“Harapan kedepannya, KM3 ini bisa terus berlanjut pada periode selanjutnya tanpa mengurangi peran dan fungsi KM3 itu sendiri, yakni sebagai Korps Mubaligh. Dan untuk para kader agar tidak mudah puas dengan apa yang saat ini telah dicapai. Pembinaan lebih lanjut, merevitalisasi pemikiran dan keilmuan, merupakan hal utama yang juga perlu terus diperhatikan. Hal itu semata-mata agar kita tidak mudah terjebak pada kejumudan berfikir, terutama dalam berfikir dan bertindak sesuai dengan Syariat Islam.” Imbuh Pria yang kerap disapa Cak Muhi tersebut.

Setelah sesi pelantikan dan sambutan, acara dilanjut dengan Tabligh Akbar oleh Ustaz Anhar Anshori, selaku Wakil Ketua Majelis Tabligh, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang membedah tema “Profesionalitas Mubaligh Menuju Dakwah Pencerahan”. Di dalam tausiahnya, beliau memaparkan tentang empat ranah dakwah yang bisa dilakukan oleh Mahasiswa, diantarnya adalah ranah keagamaan, kemahasiswaan, akademisi dan kemasyarakatan. Beliau juga menuturkan bahwa semua itu harus dilakukan secara professional dengan memenuhi syarat sebagai mubaligh yang kompeten.

Ustaz Anhar Anshori selanjutnya menutup dengan menjelaskan secara detail tiga kompetensi yang harus juga dimiliki oleh para mubaligh. Pertama, kompetensi dasar (aqidah yang benar). Kedua, kompetensi keahlian dan. Ketiga, yaitu kompetensi penunjang. Selain itu para mubaligh juga masih perlu memikirkan strategi, agar memudahkan dalam berdakwah, baik di aktivitas sehari-hari maupun dakwah di atas mimbar.(*)

Reporter: R Fauzi Fuadi*

Editor: Milada RA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here