Foto: Aksi di depan gerbang utama 3 kampus UMM. (tyo/pijarnews.id)

MALANG | PIJARNEWS.ID – Puluhan aktivis terlihat menyuarakan tindakan maraknya kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Aksi tersebut tepat dilakukan pada 25 November, yang merupakan hari peringatan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Mereka menggelar aksi longmarch dan juga mimbar bebas, mimbar bebas tersebut bertempat di depan gedung perpustakaan utama kampus tiga Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Massa aksi mulai bergiliran menyampaikan orasi-orasi yang berisikan data kasus pelanggaran hak asasi manusia, terkhusus aksi pelecehan seksual. Mereka juga mengajak mahasiswa secara umum untuk turut terlibat dalam aksi tersebut.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 09.11 pagi tadi, diikuti oleh gabungan organisasi mahasiswa dalam aliansi Gerakan Perempuan Bersama Rakyat atau yang disingkat GEMPUR. Diantara organisasi yang terlibat adalam aliansi adalah IMM Aufklarung-Teknik UMM, Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat Tertindas (SMART), PEMBEBASAN dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) di UMM.

Selanjutnya longmarch dilakukan melewati gedung perkuliahan sembari berjalan ke depan gerbang utama kampus 3 UMM, dan kembali melakukan orasi maupun puisi secara bergiliran.

Sebelum mereka melanjutkan aksi mimbar bebas di depan Terminal Landungsari. Beberapa isu diorasikan adalah tentang penghapusan eksploitasi dan kekerasan terhadap perempuan, tuntutan untuk segera dituntaskannya kasus kekerasan seksual dan tanpa memberi impunitas pelaku kekerasan, pemenuhan hak normatif buruh perempuan dan kebebasan berpendapat serta isu lainnya yang berkaitan dengan perempuan.

Siska, sebagai wakil korlap menjelaskan aksi ini merupakan refleksi sejarah dan untuk membagi kesadaran masyarakat akan kondisi perempuan hari ini. “Aksi ini memperingati momentual hari anti kekerasan terhadap perempuan, dimana sejarah telah mencatat dari perjuangan Mirabal bersaudara pada puluhan tahun yang lalu, dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat terkhusus penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan di republik dominika. Ketika itu masa kediktatoran pemerintahan R.L Trujilo.” Terangnya.

Dimana pada 25 November merupakan hari dilakukannya pembunuhan Mirabal bersaudara, oleh kaki tangan pemerintahan Trujilo yang takut pemerintahannya diruntuhkan. “Sehingga tanggal tersebut diperingati sebagai simbol perlawanan perempuan atas kekerasan dan diskriminasi.” Imbuh Siska saat ditemui reporter pijarnews.id saat aksi berlangsung.

BACA JUGA :  Kelompok Pemuda di Sidoarjo Wujudkan Gagasan Bantuan Rutin untuk Warga Miskin

Melihat kondisi perempuan saat ini yang kebanyakan masih dalam kungkungan budaya pariarki, dimana perempuan masih disubordinasi dalam banyak aspek. Salah satunya dalam kehidupan sehari-hari, dimana perempuan dilarang pulang malam dan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup dirumah saja dan melakukan aktivitas domestik. “Hal tersebut menyebabkan diskriminasi dan bentuk kekerasan terhadap perempuan, banyak juga kasus KDRT yang juga masih marak terjadi.” Masih terang Siska yang juga merupakan mahasiswi fakultas teknik UMM tersebut.

Dengan diikuti sekitar 40 massa aksi, aksi tersebut berlangsung damai. Aksi tersebut juga tidak hanya diikuti oleh kalangan perempuan, aktivis laki-laki juga berkontribusi aktif di dalamnya, ikut menyampaikan orasi dan puisi tentang penindasan terhadap perempuan.

Handiyka, sebagai salah satu mahaiswa yang menyampaikan orasi mengatakan, “Eksploitasi perempuan juga bisa dalam bentuk iklan yang menampilkan kemolekan tubuh wanita, yang menyebabkan stigma di masyarakat bahwa tubuh perempuan hanya sebagai pemuas laki-laki, yang selanjutnya menyebabkan banyaknya diskriminasi wanita seperti pembatasan hak mendapatkan kerja, karena anggapan wanita tempatnya hanya di dapur, sumur dan kasur. Selian itu juga terdapat perbedaan hak seperti gaji yang lebih rendah dan tidak adanya jaminan sosial.” tegasnya dalam orasi politik yang ia smpaikan.

Dari awal hingga ditutupnya aksi, mereka juga melakukan upaya untuk memberi edukasi masyarakat luas dengan menyebarkan rilis tulisan. Aksi diakhiri sekitar pukul 11.53 dengan menghasilkan pernyataan sikap dan dibacakan oleh koordinator GEMPUR. Massa berharap agar masyarakat menyadari akan kondisi perempuan saat ini yang mengalami banyak pelanggaran hak asasi manusia, khususnya pada perempuan, serta agar terus mengingat sejarah perjuangan dalam menegakkan keadilan terhadap perempuan dan melawan budaya patriaki.(*)

Reporter: Prasetyo Lanang
Naskah Berita: Prasetyo Lanang
Editor: Milada RA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here