Foto: Alfi Nurhidayat MT, (Sekdin PUPR Kota Batu) saat menjadi narasumber Seminar Nasional di UNISMA. (Brw/ Pijarnews.id)

MALANG | PIJARNEWS.ID – Perkembangan dan kemajuan teknologi infrastruktur sangat mempengaruhi peradaban dalam kehidupan masyarakat. Termasuk cara memandang perubahan serta kemajuan teknologi tersebut, menyikapinya juga dengan harus bijak dan adaptatif, termasuk sikap dan pandangan terkait problem dan dampak negatif, sumber daya manusia, birokrasi administrasi dan perawatannya.

Hal tersebut disampaikan Alfi Nurhidayat MT, Sekretaris Dinas (Sekdin) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Batu, dalam acara seminar nasional kegiatan ‘Civil Innovation Fest (CIVAFEST) 2019’, Sabtu (16/11). Acara tersebut diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik, Universitas Islam Malang (UNISMA), bertempat di Hall Abdurrahman Wahid (gedung pascasarjana lantai 7) UNISMA.

Revolusi industri 4.0 berbeda dengan revolusi industri sebelumnya. Revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada awal abad 20 telah melahirkan teknologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan secara otomatis. “Dengan kata lain, mesin industri telah menggunakan sistem otomatisasi berbasis komputer, yang tentunya tidak lagi semuanya dikendalikan oleh tenaga manusia,” jelas Alfi yang juga selaku Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kota Batu tersebut.

Revolusi industri telah mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia diseluruh dunia. “Revolusi industri terkini atau generasi keempat mendorong sistem otomatisasi didalam semua proses aktivitas kehidupan,” papar Alfi dihadapan perserta seminar.

Beliau melanjutkan, teknologi internet yang semakin massif tidak hanya menghubungkan jutaan manusia diseluruh dunia tetapi juga telah menjadi basis bagi kehidupan manusia secara online.

“Teknologi informasi dan komunikasi juga dimanfaatkan dalam infrastruktur jalan dan jembatan,” jelasnya.

Kemudian Alfi juga mengutip apa yang disampaikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono. Kutipnya, revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan pesat pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi juga dimanfaatkan dalam penyelenggaraan infrastruktur salah satunya di bidang jalan dan jembatan. Termasuk dalam penyelengaraan jalan nasional sepanjang 47.017 Km dan jembatan 496.080 meter.

“Untuk memenangkan kompetisi, kita harus lebih cepat, lebih murah dan lebih baik,” ujarnya menirukan apa yang disampaikan Menteri Basuki.

Belau melanjutkan, diantaranya pada tahap perencanaan dan pemrograman digunakan aplikasi SiTIA (Sinergitas Transparansi Integrasi Akuntabel) dan IRMS v.3 (Indonesia Road Management System).

Kemudian dalam tahap operasi dan pemeliharaan, Alfi juga menjelaskan sejumlah sistem informasi digunakan salah satunya informasi dari pengguna jalan. “Yang melaporkan kondisi jalan melalui aplikasi Jalan Kita (Jaki) yang dapat diunduh pengguna ponsel berbasis Android maupun IOS, yang bisa langsung kita respon dan layani segera,” tegasnya.

Sedangkan dalam monitoring jembatan digunakan WIM Bridge dengan sensor yang dipasang di Jembatan untuk memantau volume dan beban kendaraan yang melintas, sehingga dapat diketahui volume dan kelebihan beban kendaraan jika Over Dimension Over Load (ODOL) yang melintas. “Banyaknya kendaraan ODOL dengan daya rusak masif tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi jembatan dan penanganannya,” paparnya.

Untuk jembatan bentang panjang juga digunakan Structural Health Monitoring System (SHMS) yang mengumpulkan data dari sensor-sensor yang terpasang. “Dengan teknologi ini apabila terjadi gempa atau tertabraknya pilar jembatan dapat diketahui kondisi jembatan secara real time yang akan membantu keputusan dalam penanganannya,” jelasnya.

Selanjutnya Alfi menjelaskan pandangan dan prediksinya kedepan terkait teknologi infrastruktur di Indonesia. Dampak dan tantangan kedepan membawa disruptif teknologi (disruptive technology) yang hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan yang sudah mapan.

“Ukuran besar dari sebuah perusahaan tidak lagi menjadi jaminan. Justru kelincahan perusahaan yang akan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat, dimana yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil,” paparnya sambil mengingatkan tentang tantangan yang akan dihadapi.

BACA JUGA :  Patung Dewi Kwam Im sebagai Simbol Persatuan Rakyat China

Alfi kemudian menyampaikan, Indonesia memiliki modal yang cukup baik untuk menerapkan industri 4.0. Ada dua hal yang mendukung pengembangan industri di era digital, yaitu pasar yang besar dan jumlah SDM yang produktif seiring dengan bonus demografi, yang mana bonus demografi adalah suatu kondisi dimana komposisi jumlah penduduk yang berusia produktif lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia tidak produktif. Penduduk usia produktif adalah penduduk yang berada pada rentang umur 15-64 tahun, lebih khusus berusia 15 tahun hingga 35 tahun (untuk selanjutnya disebut millenial).

“Seiring dengan revolusi industri 4.0 dan teknologi digital, persaingan bisnis dan pembangunan yang semula bertumpu pada pemanfaatan sumber daya alam akan bergeser pada penguasaan teknologi informasi dan kompetensi angkatan kerja,” jelasnya.

Maka, inilah pentingnya investasi SDM. Sumber daya alam akan habis dieksploitasi dan melahirkan problem lingkungan. “Tidak demikian dengan investasi SDM yang tak terbatas dan terus dinamis,” tuturnya.

Lebih lanjut Alfi juga menyampaikan problem birokrasi yang ada selama ini. “Ketika dunia fisik, digital dan biologis terus menyatu, teknologi dan platform baru akan semakin memungkinkan warga negara untuk terlibat dalam pemerintahan, menyuarakan pendapat mereka, mengkoordinasikan upaya mereka,” paparnya.

Inovasi teknologi memungkinkan terjadinya redistribusi dan desentralisasi kekuasaan sehingga pemerintah akan semakin menghadapi tekanan agar mengubah pendekatan yang digunakan untuk melibatkan publik dalam pembuatan kebijakan. Peran utama pemerintah akan berkurang. “Penyediaan transportasi publik yang sebelumnya adalah tugas negara, saat ini bisa diambil alih oleh siapapun yang bisa memanfaatkan inovasi teknologi,” tegasnya.

“Polemik transportasi daring adalah bukti. Kedepan, di bidang lainnya bukan tidak mungkin akan terjadi hal yang sama,” lanjutnya.

Rangkaian perubahan teknologi dan dampaknya bagi pemerintahan mengubah pola hubungan pemerintahan dan warga negara. Alfi mengajak kepada peserta seminar, mentransformasi rintangan menjadi tantangan dan peluang.

Open Government mensyaratkan open data. Data akan sangat penting selamanya, baik sekarang dan dimasa depan. Tidak hanya pemerintah yang menerima data terbuka untuk meningkatkan akuntabilitas dan efisiensi publik, ia juga akan menuai manfaat sosial dan ekonomi dari membuka data bagi warga. “Daripada tersimpan rapi hingga basi dalam sistem komputer kementerian, lembaga atau daerah yang hanya dilihat oleh segelintir pejabat. Karena data dapat diakses dan digunakan oleh warga untuk mendorong kewirausahaan, inovasi dan pemecahan masalah sosial, meningkatkan nilai ekonomi dan sosialnya secara eksponensial,” jelasnya.

“Kita harus sadari bahwa menebar keterbukaan Informasi publik akan menuai Indonesia Maju dan Unggul,” tandasnya.

Alfi melanjutkan, terkait fakta-fakta kehidupan yang terserak tersebut menjadi kesatuan pengetahuan berupa data dengan konteks masing-masing. Data mewakili secara deskriptif sebuah fakta. Jejaring data yang kompleks adalah gambaran kehidupan. “Membuka, memahami dan memanfaatkan data yang dibantu oleh inovasi teknologi akan sangat membantu bagaimana mengelola kehidupan sosial itu sendiri,” jelasnya terkait data untuk kemanfaatan masyarakat umum.

“Hari ini kita harus sadar bahwa kolaborasi setiap individu, kelompok, masyarakat, negara dan interaksi sosial lainnya dalam skala global pada setiap satuan waktu akan menghasilkan gerak dan aktivitas yang akan membentuk ekosistem kehidupan,” paparnya dengan memaknai fungsi data bagi kehidupan bermasyarakat.

Open Government atau Pemerintahan terbuka, tata kelola data dan revolusi industri 4.0 adalah rangkaian pemilik masa depan.

Terakhir Alfi menyampaikan kepada generasi muda yang menghadapi tantangan industri dan perkembangan teknologi kedepan. “Arus perubahan tidak boleh dilawan, tetapi bagaimana kita mampu mengendalikan dan memanfaatkan kemana arah arus tersebut menjadi bermanfaat bagi sesama dan alam semesta,” pungkasnya.(Brw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here