Foto: Hari guru, diunduh dari https://obatrindu.com. (Pijarnews.id)

Oleh: Milada RA*

PIJARNEWS.ID – Sebuah konsekuensi logis dengan adanya aktivitas proses pendidikan dalam kehidupan umat manusia, hingga dewasa ini akhirnya telah mampu mambawa dampak kemajuan dan perubahan dalam sejarah dunia. Akan tetapi begitu juga dalam kaitanya ini, respon sebagian masyarakat terkait segala perubahan dan kemajuan tersebut, justru memuara pada rasa kebimbangan antara suatu kesan solutif dan problematis.

Dalam kajian teori-teori sosial, dikehendakinya perubahan dan kemajuan tersebut, ialah dengan ditandai adanya pergerakan pola hidup masyarakat dari corak yang disebut tradisionalis menuju corak masyarakat modernis. Menurut Giddens (1987), sebagai tokoh sosial pada masanya, menjelaskan masyarakat modernis ialah gagasan tentang masyarakat yang mementingkan perkembangan pengetahuan untuk mempengaruhi kondisi manusia agar menjadi lebih baik.

Hal tersebut juga sebagaimana agama yang menjadi peranan penting dalam masyarakat, juga telah memberi tuntutan atas perubahan dan kemajuan dalam hajat hidup manusia, dalam hal ini tentu juga agama Islam, dengan mengutip pendapat Alm. Prof. Kuntowijoyo dalam salah satu bukunya, beliau menjelaskan bahwa umat Islam tentu telah menghendaki adanya perubahan, sebuah cita-cita perubahan tersebut senantiasa dikumandangkan dalam kalimat adzan ‘alal falaah; falah berarti kemenangan, kejayaan dan kemajuan.

Sehingga dalam memperingati hari guru pada tanggal 25 November kemarin, perlulah kita sama-sama untuk merefleksikan diri, bagaimana sebenarnya rasa perasaan dari segala kemajuan yang telah menjadi konsekuensi logis akibat proses pendidikan dalam kehidupan manusia ini, apakah lebih memihak pada rasa perasaan kesan solutif, ataukah justu pada kesan problematis?.

Pada setiap hari yang baik, sebagaimana hari guru yang telah diabadikan dalam pertanggalan kita kemarin, tentu harus ditandai dengan makna-makna yang baik pula, mampu menginternalisasikan secara baik dalam tiap-tiap diri kita, tentang sosok seorang guru dalam kehidupan kita. Sebagai contoh, seorang novelis besar bangsa ini hingga mampu menuliskan, “Seorang guru adalah korban, korban untuk selama-lamanya, dan kewajibanya terlampau berat, untuk membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa.” Begutulah ungkap Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu novelnya.

Dibalik euforia ucapan selamat hari guru, sekarang kita perlu coba kaitkan dengan kondisi yang sama-sama kita rasakan, di tengah masifnya pergerakan globalisasi dunia yang mencita-citakan kemajuan. Akan tetapi kenapa justru menampakkan kenyataan yang kian menggelisahkan. Degradasi dan penurunan nilai hidup manusia telah menjadi hal yang begitu problematis. Indonesia sendiri yang tentu juga tidak menafikkan cita-cita kemajuan tersebut, dengan berdirinya berbagai lembaga pandidikan, tentu sangat mengaharapkan betul akan munculnya suatu peradaban yang maju dan lebih baik.

BACA JUGA :  Sekaligus New Normal, Model Sekolah SSE atau CE?

Akan tetapi disisi yang lain, kenapa justru telah muncul kenyataan sosial baru yang mencirikan kondisi masyarakat yang terkesan sakit dan problematis. Mulai dari elit negara dengan penyakit korupsi yang masif, sedangkan pada masyarakat bawah juga terjadi berbagai masalah kenakalan remaja, seks bebas yang berakibat masifnya hamil diluar pernikahan, putusnya sekolah dengan memilih malangsungkan pernikahan dini, munculnya ruang sosial baru yang begitu tamak dan arogan, tabiat masyarakat yang begitu maha konsumtif. Sehingga, telah memunculkan konflik dan persinggungan masyarakat yang kian meninggi.

Akhirnya semua telah menanggung beban dan menjadi korban atas perubahan ini, pendidikan yang membentuk manusia-manusia pandai, kenapa justru menjadi senjata untuk menyerang satu dan lainnya. Masyarakat kecil atau bawah, tinggal menjadi penonton berbagai akrobat yang dimainkan kalangan elit dalam masyarakat, menjadi pasrah ditengah kondisi reotnya perekonomian dan kesejahteraan mereka.

Dalam kondisi tersebut, timbul pertanyaan siapa yang harus bertanggung jawab?, untuk mengatasi berbagai permasalahan yang cukup kompleks tersebut, siapa yang cukup menanggung dosa dari berbagai permasalahan dan kejahatan manusia-manusia modern?. Syahdan, betul juga apa kata seorang novelis bangsa kita tersebut, bahwa seorang guru adalah korban, mereka telah menanggung beban yang begitu berat untuk menentukan hitam putihnya peradaban bangsa ini.

Untuk itu marilah kita semua berusaha meringankan beban tersebut, turut menebus dosa segala kurang dan lalai dari setiap guru kita, dengan menjadi sebaik-baik murid dan pribadi kaum terdidik yang sebagaimana mestinya. Semoga bermanfaat dan tiada sebaik-baik pekerjaan selain Allah SWT telah meridhoi.

*) Pejalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here