Foto: Bunda Astrie Ivo saat parenting di SD Muhammadiyah 12 Surabaya. Dzanur Roin/ Pijarnews.Id)

SURABAYA | PIJARNEWS.ID – Sekolah Dasar Muhammadiyah 12 Surabaya (SDM Dubes) yang beralamat di Jl. Dupak Jaya V/ 21-29, Bubutan Surabaya. Mengadakan acara parenting dengan tema ‘Mendidik dan Menjadi Orang Tua Bijak di Era 4.0′. Dengan mengundang pemateri Bunda Astrie Ivo, seorang artis dan juga penulis dari Jakarta, Sabtu (19/12).

Bertempat di dalam masjid Al-Jihad, dengan diikuti oleh Wali Murid dari SDM Dubes yang berjumlah sekitar 450 orang. Terlihat masjid yang penuh sesak menjadikan sebagian ada yang menyaksikan lewat layar kaca atau televisi di parkir SDM Dubes.

Bunda Ivo sebagai sapaan akrab pemateri, memantik pesarta dengan bercerita tentang Kaisar Jepang Hirihito, yang bertanya tentang berapa jumlah guru yang selamat dari bom atom Hirosima dan Nagasaki?, pada saat Jepang dihancurkan negara sekutu.

Diambil pelajaran oleh beliau untuk memberi semangat generasi bangsa, bahwa Jepang dan Indonesia adalah negara yang berbeda, Jepang adalah negara yang tidak punya sumber daya alam melimpah namum bisa bangkit, sedangkan Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam dan iklim yang sangat mendukung.

Dengan mengutip firman Allah SWT (Q.S. An-Nisa’: 9) yang artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Kutip Bunda Ivo.

Dimaksudkan beliau, lemah disini bukan hanya berarti lemah ekonomi, tetapi juga lemah iman, ilmu dan terlebih lemah segala-galanya. “Bahkan menurut Imam Syafi’i, kaya adalah memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.” Ungkap Bunda Ivo.

Sehingga untuk menyiapkan generasi yang baik, “Kita juga harus bisa menjadi orang tua yang baik. Menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya, berbeda dengan dokter dan guru. Untuk menjadi dokter dan guru ada sekolah dan pendidikanya,” tutur beliau.

Selanjutnya diterangkan oleh bunda juga, ada dua karakter yang harus dimiliki di era industri sekarang, adalah karakter disiplin dan jujur. Disiplin adalah tepat waktu, mengambil contoh seperti dalam majelis ini. “Kegiatanya pukul 9, kita datangya jam berapa?,” tanya pada peserta.

Waktu itu sangat penting, bahkan Allah SWT juga bersumpah dengan kalimat “Demi waktu atau masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan orang yang beramal sholih.” Kutipnya sebagaiama maksud Q.S Al-Ashr.

BACA JUGA :  Kepada KPU, Wali Kota Malang: Pentingnya Pemilihan Pemimpin Tanpa Transaksional

Mendidik anak zaman now, kata Bunda Ivo, sangat berbeda dengan zaman dulu. “Anak zaman dahulu kalau dimarahi dengan mata melotot bisa langsung takut. Tapi kalau sekarang kita marahi dengan mata melotot mereka bisa kabur dari rumah, oleh karena itu mari kita didik putra putri kita sesuai dengan zamannya.” Ujarnya.

“Anak-anak sekarang lebih kenal tokoh film seperti Frozen, mereka kenal dengan nama pemainya seperti Elza dan Ana. Tapi apakah anak-anak kita kenal dengan Fatimah, Ummu Kulsum dan Ruqoyyah?, Mereka lebih kenal Naruto daripada Ali bin Abi Tholib, Usman bin Affan dan Umar bin Khattab.” Ungkapnya lanjut untuk membuat gelisah orang tua.

Namun menurut Bunda Ivo, tugas mendidik anak tidak hanya menjadi kewajiban seorang ibu saja, melainkan juga kewajiban seorang ayah. Sebagaimana Q.S At-Tahrim ayat 6 yang artinya: “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Sehingga seorang ayah tidak hanya memberikan nafkah lahir saja, melainkan juga nafkah lahir dan batin dengan memberi pendidikan yang terbaik.

Karakter kedua yang harus dimiliki adalah kejujuran. Bunda Ivo menyampaikan dengan menceritakan ada seseorang yang hidupnya penuh dengan masalah, baik itu masalah pribadinya dan masalah keluarganya.

Ketika seseorang tersebut bercerita kepada Imam Syafi’i, ia disuruh bilang kepada majikannya agar upah kerjanya diturunkan. Misalkan ketika sehari di gaji 5 dirham, maka dia mintak empat dirham, begitu seterusnya sampai hanya ia meminta 3 dirham. Dengan gaji segitu hidupnya semakin tenang, karena apa yang ia kerjakan hanya pantas dengan gaji sejumlah itu.

Masalahnya di zaman sekarang, kita bekerja bahkan sering korupsi waktu, sering memperlambatkan diri, “Sudah tahu terlambat tidak langsung berangkat malah minum kopi dulu, main Whatsapp, pasang status dan lain sebagianya, kita sering tidak jujur terhadap dirinya sendiri.” Ujar Bunda.

Bunda Ivo menutup dengan menceritakan anaknya yang bekerja di luar negeri, bahkan saat sakit dan waktu kerja datangnya terlambat, ia harus bilang apa adanya.(*)

Reporter: Dzanur Roin
Naskah: Dzanur Roin
Editor: Milada RA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here