Foto: Memorandum of Understanding (MoU) antara Koorkot Surabaya dengan STIESIA Surabaya. (Prastya/ Pijarnews.id)

SURABAYA | PIJARNEWS.ID – Cukup berkesan bagi TIM Koorkot Kota Surabaya bisa melakukan kerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya (STIESIA). Karena wilayah dampingan Kota Surabaya yang berjumlah 154 Kelurahan, dan tersebar di 33 Kecamatan hanya didampingi 5 Fasilitator.

Tentu mereka juga memahami kondisi geografis Kota Surabaya, bahkan tidak hanya itu, karakter masyarakat metropolitan juga menjadi tantangan tersendiri bagi fasilitator untuk melakukan pendampingan secara ultra-intens. Hal itu tidak bisa diingkari dan dipungkiri, dalam perjalanan memfasilitasi BKM bersama perangkatnya, mereka banyak terkendala dengan minimnya personel.

Sehingga dengan adanya nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Koorkot Surabaya dengan STIESIA Surabaya ini, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), sebagai bentuk riil dari komitmen mereka untuk mendampingi BKM yang dinilai masih stagnan, Kamis (19/12).

Pendampingan BKM oleh para dosen ini difokuskan kepada pembukuan Sekretaris dan UPK. Tentu juga tidak mengabaikan bagaimana membangkitkan eksistensi BKM yang sudah mati suri.

Abdus Salam, Koorkot Program KOTAKU Kota Surabaya, dalam paparan materi di depan para Dosen menerangkan tentang pengertian, tugas dan fungsi BKM. “Cita-cita BKM adalah sebagai agen perubahan sosial, penyemai nilai-nilai luhur dan lumbung kepedulian masyarakat yang seolah behenti, bersamaaan dengan berhentinya Bantuan Langsung Masyaakat (BLM) atau Bantuan Dana Ivestasi.” Ungkapnya.

Salam sapaan akrab beliau, juga mengajak dan meminta para dosen STIESIA Surabaya, agar tidak hanya berhenti dalam bentuk pengabdian dalam melakukan fasilitasi BKM, dimana dalam hal ini UPK dan Sekretaris. Lebih dari itu, Salam meminta agar para Dosen melakukan riset terkait kelembagaan BKM yang mati suri dan tidak berdaya dalam kelangsungan kelembagaan. “Hasil penelitian nanti juga dipublikasikan dan sebagai masukan bagi kami,” ujarnya.

BACA JUGA :  Musycab PCPM Babat, Abdus Salam Bahas Tantangan Pemuda dalam Menyikapi Politik Transaksional

Semenetara itu Nur Fadjrih Asyik, SE., M.Si., Ak, CA, Ketua STIESIA Surabaya menyampaikan, dengan adanya kerjasama dengan TIM Koorkot Kotaku Surabaya dalam pendampingan kepada BKM di Surabaya, “Semoga kami bisa berkontribusi untuk memulihkan BKM yang mati suri dan membantu pembukuan sekretaris dan UPK, yang saat ini masih minim dampingan oleh fasilitator karena jumlahnya yang sangat terbatas. Sebagaimana data yang diberikan oleh Tim Koorkot bahwa ada 40 BKM yang perlu dimaksimalkan pendampingannya.” Tuturnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Dr. Nurlaiy, sebagai Ketua L2PM STIESIA Surabaya, bahwa kerjasama itu menjadi salah satu bagian dari Tridharma Perguruan tinggi. Dalam hal ini pendampingan kepada BKM utamanya pendampingan kepada pembukuan UPK dan sekretaris BKM.

Setelah pemaparan dan berlanjut pada tanya jawab terkait program KOTAKU dan BKM, selanjutnya prosesi penandatangan MoU dilakukan oleh Koorkot Kota Surabaya, Abdus Salam dan ketua STIESIA Surabaya Dr. Nur Fadjrih Asyik. Pelaksanaan pendampingan oleh Dosen STIESIA akan dilakukan pada bulan Januari tahun 2020, di mana masing-masing BKM dan UPK akan didampingi oleh dua orang dosen.(*)

Reporter: Prastya
Naskah: Prastya
Editor: Milada RA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here