Foto: Homaidi, S.S (Dok. Pribadi/ Pijarnews.id)

Oleh: Homaidi, S.S*

OPINI | PIJARNEWS.ID – Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB), merupakan organisasi pengabdian bagi alumni santri kepada pondok pesantren yang kita harus jaga bersama, demi terujudnya silaturrahmi alumni (mahasiswa) yang humanis dan berkemajuan.

FKMSB bagi kita, merupakan wadah dakwah di lingkungan kampus dan wadah pengabdian kita kepada pesantren yang kita banggakan bersama. Mengingat pesan pengasuh, ”Mon baen badah eloar, tak abaliyeh ka Banyuayar, tapeh terro ngabdhiyah ka ponduk, baen cokop agabung ban FKMSB, roah padeh bân seh gabdih ka Banyuanyar (red. Madura). Berarti, pesan itu menunjukkan bahwa ada penegasan kepada kita semua untuk selalu mengabdi ke Banyuanyar, salah satunya melalui FKMSB.

Maka, melalui momentum kongres FKMSB XI ini, mari kita jadikan sebagai koreksi dan renungan bersama dalam memajukan FKMSB. Perlu adanya penyadaran diri bahwa, selama ini, apa yang sudah kita berikan untuk proses kemanjuan organisasi FKMSB. Dari kesadaran tersebut diharapkan momentum kali ini agar tidak hanya dijadikan sebagai momen pergantian ketua atau bahkan lebih buruk sebagai ajang adu strategi politik dan saling manyalahkan satu sama lain. Seperti yang tersirat dalam undang-undang FKMSB, organisasi ini adalah milik kita bersama dan kita sebagai pemilik organisasi tersebut memiliki tugas untuk membenahi secara seksama, supaya FKMSB tetap menjadi wadah pengabdian dan sekali lagi lebih buruk hanya dijadikan sebagai batu loncatan demi mencari jabatan semata. Niat untuk mengabdi kepada Banyuanyar harus dijadikan ujung tombak dalam setiap tindak tanduk dalam berorganisasi di FKMSB.

Penulis sangat tertarik dengan Grand Theme yang diusung oleh panitia Kongres XI FKMSB yaitu “Mencerdaskan bangsa, memajukan Indonesia”. Tema itu mendeskripsikan gambaran besar pengabdian kita kepada Banyuanyar yang pada akhirnya akan menjadi pengabdian juga dalam mencerdaskan dan memajukan Indonesia. Dari tema sakral itu, tugas kita sebagai kader FKMSB adalah membangun sumber daya manusia, yaitu dalam bentuk investasi pengabdian agar dapat menghadapi masa depan dan agar dapat melapangkan jalan menuju Indonesia maju dan unggul.

Menjadikan sumber daya manusia Indonesia yang maju berarti memberi pencerahan secara berkelanjutan, tidak cukup hanya sekadar formalitas, apalagi sebatas merealisasikan program kerja, tanpa adanya follow up yang berkelanjutan. Sehingga sumber daya manusia kita, kader FKMSB, dapat berdiri tegak di garda depan perubahan Indonesia yang lebih baik.

Dari premis diatas, memberikan petunjuk bahwa kaum santri, hususnya kader FKMSB harus juga menjadi seorang yang memiliki softskill yang hebat (in line dengan cendikiawan) dalam merespon perkembangan di sekitar. Cendikiawan santri harus mampu menjawab (memberikan solusi) dan memberikan bukti nyata dalam menyikapi kompleksitas persoalan bangsa Indonesia yakni dalam hal keterbelahan atas dampak dari arus politik nasional.

BACA JUGA :  Reposisi Pemaknaan Santri, FNKSDA Komite Surabaya Gelar Pesantren Agraria

Meskipun gejolak itu baru saja berakhir, namun dampaknya masih terasa. Beredarnya hoax, black campign, fake news, cacian dan umpatan, rasisme di ruang media sosial seolah menjadi konsumsi dan aktivitas publik setiap saat belum lagi realitas sosial lainnya, seperti ketimpangan dan kesenjangan sosial-ekonomi, kesejahteraan masyarakat, kemiskinan, hingga persoalan pendidikan yang belum kelar.

Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi tanggunga jawab kita sebagai kader FKMSB, untuk minimal memberikan solusi. Persoalan apakah solusi-solusi tersebut dapat menyelesaikan masalah akan menjadi tugas bersama selanjutnya.
Demi merealisasikan gagasan di atas, FKMSB perlu membuktikannya dalam bentuk real (nyata) agar gagasan-gagasn tersebut tidak hanya menjadi opini kosong.

Pada periode 2018 hingga 2020 ini, FKMSB mampu menstimulus para penulis (dalam ajang lomba Essay Nasional), untuk mengkaji berbagai keterbelahan bangsa Indonesia. Dari hasil kajian dan penelitian tersebut, muncul solusi untuk menjawab persoalan-persoalan, mulai dari hal-hal kecil hingga permasalahan yang rumit untuk diselesaikan.

Pada titik akhir proses pengabdian FKMSB kepada Banyuanyar secara khusus dan untuk Indonesia secara umum, FKMSB mendokumentasikan hasil tulisan para penulis dalam bentuk cetakan buku, agar kajian dari berbagai permasalahan serta solusinya dapat ditindak lajuti di masa yang akan datang.

Kembali pada pokok pembahasan di awal bahwa dalam momentum Kongres XI ini dan momentum Kongres selanjutnya di masa yang akan datang, kita sebagai kader FKMSB, harus berlomba-lomba untuk memperbaiki FKMSB. Di momentum Kongres kali ini, FKMSB telah memberikan contoh dan titah dalam bentuk karya nyata yaitu cetakan dua buku yang berjudul Surat Cinta Untuk Negeri (bekerja sama dengan DPP IMABA) dan Mencerdaskan bangsa, memajukan Indonesia (kumpulan essay). Dari bukti kongkrit itulah, diharapkan momentum kongres kedepan, FKMSB dapat mengembangkannya dan dapat mencetak buku-buku baru yang lebih berkualitas.

Terakhir, walaupun tidak berbentuk materi FKMSB saat ini dapat memberikan hadiah pengabdian kepada Banyuanyar. Karya FKMSB, apapun bentuknya, berapapun dan apapun nilainya, dan besar atau kecil bentuknya, merupakan usaha luar biasa para kader FKMSB untuk memberikan sesuatu untuk Banyuanyar.

Terlepas dari itu semua, Kongres XI FKMSB adalah wadah untuk dakwah, Fastabiqul Khairat demi mencapai peradaban keilmuan yang tinggi nilainya dari setinggi-tingginya nilai keduniaan. Semoga Kongres XI FKMSB, beserta karya-karya para kadernya, dapat menginspirasi berbagai pihak agar dapat menanamkan kacintaan terhadap FKMSB dan Banyuanyar. Sebagai pamungkas dari tulisan ini, penulis akan berbisik di telinga hati kita semua bahwa “Banyuanyar adalah tempat terindah dimana kita belajar untuk selalu merasa bodoh, sebab merasa pintar adalah tindakan terbodoh bagi kita semua”. Salam Pengabdian!!

*) Aktivis FKMSB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here